Akhirnya PM Tony Abbott Mengalah kepada Presiden SBY

28 November 2013 | 9:46 am | Dilihat : 691

PM Australia, Tony Abbott dan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. (setkab.go.id)

 

Jakarta, 28 November 2013. Buntut dari ulah penyadapan badan intelijen Australia, Defence Signals Directorate yang kini bernama Australian Signals Directorate terhadap ponsel Presiden SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono serta beberapa pejabat dan mantan pejabat tingginya, Presiden SBY melakukan tekanan diplomatik serius terhadap pemerintah Australia dibawah Perdana Menteri Tony Abbott.

Presiden SBY menyatakan, "Saya minta dihentikan dulu kerja sama yang disebut pertukaran informasi dan pertukaran intelijen di antara kedua negara. Saya juga minta dihentikan dulu latihan latihan bersama antara tentara Indonesia-Australia, baik Angkatan Darat, Laut dan Udara, maupun yang sifatnya gabungan,” tegasnya. Saat itu juga TNI memberhentikan latihan antara TNI AU dengan Royal Australian Air Force, dan menarik lima pesawat tempur F-16 (Fighting Falcon) TNI AU  dari Darwin. Selain itu juga SBY juga menyinggung masalah people smuggling, kerjasama Indonesia-Australia tentang penyelundupan manusia perahu, dihentikan.

Langkah diplomatis terkuat dan terserius Indonesia adalah menarik Duta Besar RI di Canberra Nadjib Riphat Kesoema, yang tiba di Jakarta, Selasa, 19 November 2013 dengan alasan konsultasi. Presiden SBY secara resmi mengirimkan surat kepada PM Abbott tentang permasalahan yang dinilai sangat serius oleh Indonesia, tetapi dinilai dan dianggap sebagai hal biasa oleh Australia.

Langkah Indonesia merupakan strategi diplomasi yang smart, dalam koridor etika diplomasi dan terukur. Sebagai pihak yang terzholimi, Indonesia ,mendapat dukungan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di Australia. Beberapa pihak menegaskan agar PM Abbott segera meminta maaf dan menjelaskan persoalan penyadapan. Parlemen Australia beberapa kali meminta Abbott menjelaskan keretakan hubungan dengan Indonesia yang dinilai publik Australia sebagai negara penting. Para politisi dari Partai Buruh dan Green Party kemudian menekan Abbott yang berasal dari koalisi.

PM Tony Abbott akhirnya mengalah dan membalas serta menjawab surat diplomatik SBY dengan santun dan rasa hormat. Abbott serta inner circle di pemerintahan segera membahas dengan serius surat Presiden SBY, dan memerintahkan Letnan Jenderal Peter Leahy, mantan Chief of Australian Army untuk memimpin operasi rahasia penyerahan surat  jawaban.

Seterimanya surat PM Abbott, Presiden SBY menyampaikan komitmen Australia tersebut seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, pada hari Selasa (26/11/2013). SBY menegaskan, Australia masih ingin menjaga dan melanjutkan hubungan bilateral dengan Indonesia. Disampaikan oleh presiden tiga hal penting dari isi surat. Pertama Australia ingin menjaga dan melanjutkan hubungan bilateral dengan RI. "PM Abbott menilai hubungan kedua negara saat ini kuat dan terus berkembang," kata Presiden. Kedua, PM Australia Tony Abbott menegaskan komitmen Australia  tidak akan melakukan sesuatu di masa depan yang akan mengganggu dan merugikan Indonesia. "Ketiga, PM Australia setuju terhadap usulan Indonesia untuk menata kembali kerjasama bilateral, termasuk pertukaran intelijen, dengan menyusun protokol dan kode etik yang jelas, adil dan dipatuhi," ungkap SBY.

Langkah Indonesia selanjutnya, Presiden akan menugasi Menlu Marty Natalegawa untuk mendiskusikan isu-isu yang sensitif termasuk hubungan bilateral dengan Indonesia. "Saya akan menugasi Menlu atau utusan khusus untuk mendiskusikan secara mendalam, serius termasuk isu-isu yang sensitif termasuk hubungan bilateral Indonesia-Australia pasca penyadapan. Bagi saya ini pra syarat dan stepping stone dan rumusan protokol kerjasama bilateral yang saya usulkan dan sudah disetujui oleh PM Australia," ujarnya.

Setelah terjadi kesepakatan bersama, presiden menginginkan hal itu dibahas dalam kode protokol dan kode etik kedua belah negara. Setelah protokol dan kode etik itu disahkan, SBY ingin pengesahannya dilakukan di hadapan Kepala Pemerintahan kedua negara. "Setelah protokol dan kode etik itu disahkan, saya ingin pengesahannya dilakukan di hadapan kepala pemerintahan, saya sebagai Presiden dan PM Abbot sebagai PM," ungkapnya.

"Tugas kedua negara, membuktikan kedua kode etik itu untuk dijalankan, oleh karena itu dilakukan observasi dan evaluasi. Saya kira wajar dan diperlukan," ujar SBY lagi. Terakhir, jika telah dilakukan seluruh rangkaian dan protokol serta kode etik juga dilaksanakan, maka presiden akan memerintahkan pengaktifkan kembali kerjasama bilateral yang telah dibekukan termasuk kerjasama militer dan kepolisian kedua negara.

Dengan tercapainya rasa saling pengertian antar kedua pemimpin pemerintahan, nampaknya kebekuan hubungan bilateral Australia-Indonesia secara perlahan akan kembali mencair. Walau tetap tidak mau meminta maaf, PM Abbott menunjukkan keinginan kuat agar hubungan harmonis akan kembali terlaksana. Akan tetapi dengan pengalaman pahit soal penyadapan Australia, para pejabat Indonesia serta kita warga negara Indonesia sebaiknya menarik pelajaran bahwa dalam hubungan antar negara harus tetap diwaspadai.

Penyadapan sulit dibuktikan pastinya baik material maupun faktual. Kita masih sulit menangkal teknologi dan ulah penyadap, karena itu jawabannya marilah kita tingkatkan kesadaran sekuriti dari kita semua. Bagi pengemban amanah, hati-hati membicarakan dan menyimpan rahasia negara.

Tidak ada hubungan antar negara yang abadi, menurut rumus intelijen, yang abadi hanyalah kepentingan nasional masing-masing negara. Pada akhir artikel, ada rasa tergelitik, apakah Australia juga menyadari bahwa mereka juga di sadap oleh NSA?. Posisi Australia bak Jerman, sebagai sahabat AS, tetapi tetap saja NSA menyadap Kanselir Jerman Angela Merkel.  Australia dan PM Abbott serta PM sebelumnya jangan terlalu bergembira, merekapun kecil kemungkinan tidak disadap. Inilah dunia intelijen, dunia dengan dinamika tak beraturan, menganut prinsip single client.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

-Sikap Tegas TNI, Menarik Pulang F-16 TNI AU dari Latma Elang-Ausindo di Darwin, http://ramalanintelijen.net/?p=7707

-Situs Australian Federal Police Down Diserang Anonymous Indonesia, http://ramalanintelijen.net/?p=7714

-Hacker Indonesia Menyerang Situs Intelijen Australia, Situs Bareskrim Down, http://ramalanintelijen.net/?p=7687

-Sikap Resmi Presiden SBY terhadap Ulah Penyadapan Australia, http://ramalanintelijen.net/?p=7703

-Indonesia kini Marah Besar Kepada Australia, http://ramalanintelijen.net/?p=7693

-Australia makin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU,  http://ramalanintelijen.net/?p=6833

-Pada 2014 TNI AU Akan Makin Disegani, http://ramalanintelijen.net/?p=7041

-TNI AU akan diperkuat Pesawat Tempur T-50 Golden Eagle,  http://ramalanintelijen.net/?p=7293

-Arti Penting Tank Leopard bagi TNI AD, http://ramalanintelijen.net/?p=4794

-Postur Pertahanan Indonesia Menghadapi Perkembangan Situasi Kawasan,  http://ramalanintelijen.net/?p=4582

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.