Dua Polisi kembali Tewas Ditembak, TNI Perlu Dilibatkan

17 August 2013 | 7:37 am | Dilihat : 822

Pelantikan Satuan Anti Teror TNI (foto : beritahankam.com)

 

Serangan teror terhadap  anggota Polri terus berlanjut, kembali dua anggota Polri, Aiptu Kus Hendratna dan Bripka Ahmad Maulana anggota Polsek Pondok Aren, Tanggerang Selatan tewas ditembak orang tak dikenal semalam. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwantokedua anggota tersebut ditembak saat bertugas.

Kronologi kejadian Menurut Rikwanto ;  penembakan pertama dilakukan dua pelaku terhadap Aiptu Kus Hendratna pada Jumat (16/8/2013) sekitar pukul 21.50 WIB, saat berangkat mengendarai sepeda motor untuk mengikuti apel di Mapolsek Pondok Aren untuk persiapan operasi cipta kondisi yang akan digelar pukul 22.00 WIB. Lokasi penembakan di Jl Graha Raya, dekat Mapolsek Pondok Aren, tepatnya di depan Masjid Bani Umar, kelurahan Prigi Baru, Kecamatan Pondok Aren.  Yang bersangkutan tiba-tiba dipepet oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor Mio warna hitam. Tiba-tiba penumpang motor Mio langsung menembak di bagian belakang kepala. Aipda Kus Hendratna langsung terjatuh dan tewas.

Saat kejadian dibelakang Kus Hendratna ada empat anggota buser berkendara mobil Avanza, mereka mengejar dan berhasil menabrak motor penembak, kedua orang tadi jatuh, tetapi Avanza buser terperosok. Pelaku kemudian menembak sopir Avanza (Bripka Ahmad Maulana) yang turun dari mobil, korban tewas tertembak. Pada pukul 22.00 WIB, pelaku berhasil melarikan diri dengan merampas motor milik warga dan melajukan motor ke arah Pamulang. Sementara itu motor Mio milik pelaku tertinggal.  Saksi melihat pelaku ada yang terluka dan ada yang memegang pistol.

Polisi yang kemudian melakukan razia di sejumlah jalan di Jakarta , Tanggerang hingga Depok belum berhasil menemukan kedua pelaku tersebut. Menurut Kapolda Metro Jaya  Irjen Putut Eko Bayuseno di Mapolda Pondok Aren, Jl Graha Raya, Pondok Aren, Tangsel, Sabtu (17/8/2013), diduga pelaku kejahatan adalah kelompok yang sama dengan pelaku penembakan di Cilandak dua pekan lalu. Ditegaskannya, "Kemungkinan seperti itu, kemungkinan kelompok yang sama," kata Kapolda.

Polisi menemukan motor rampasan (Supra B-6620-SFS) yang digunakan pelaku, di Margonda Depok. "Motor Supra itu ditemukan di Margonda Depok," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie, Sabtu (17/8/2013). Ronny mengatakan motor tersebut  dirampas pelaku dari seorang satpam yang melintas di Jl Graha Raya Pondok Aren setelah mereka menembak Bripka Ahmad Maulana.

 

Analisis

 

Penembakan yang kembali terjadi terhadap anggota polisi merupakan aksi teror spesifik dengan target polisi. Dari fakta tercatat sudah empat polisi yang menjadi korban. Penembakan pertama, Aipda Patah Saktiyono (53), anggota polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat pada hari Sabtu (27/7/2013) pukul 04.30 WIB, terjadi di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan. Peluru menembus dada kirinya, beruntung nyawa Aipda Patah bisa diselamatkan.

Penembakan kedua terjadi pada hari Rabu pagi (7/8/2013) pukul 05.00 WIB, aksi penembakan menimpa Aiptu Dwiyatna (50), anggota Satuan Pembinaan Masyarakat (Bimas) Polsek Metro Cilandak yang tewas ditembak kepalanya oleh dua orang tidak dikenal. Korban ditembak  di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan.

Kini Aiptu Kus Hendratna tewas ditembak pada Jumat (16/8/2013) sekitar pukul 21.50 WIB di Pondok Aren, Tanggerang Selatan, serta pada waktu yang hampir bersamaan, Bripka Ahmad Maulana yang juga tewas ditembak.

Dari keempat kasus penembakan tersebut, terlihat bahwa penembak dapat dikatakan sebagai orang yang terlatih, mampu menembak saat mengendarai sepeda motor. Selain itu pelaku yang di Pondok Aren, dalam kondisi jatuh karena ditabrak mobil buser, berhasil menembak sopir Avanza, kemudian mampu merampas motor dan melarikan diri dari sergapan anggota buser lainnya. Pelaku bukanlah orang sembarangan, tetapi mental dan keahliannya dalam menghadapi situasi kritis sangat baik. Dari empat kejadian, sektor serangan berada didaerah pinggiran Jakarta, khususnya Tanggerang. Penyerang menggunakan senjata api pistol.

Nampaknya teror terhadap polisi demikian serius, dan belum akan berhenti. Menjadi pertanyaan apakah terkait dengan peringatan HUT RI atau hannya bertepatan dengan 17 Agustus? Dari beberapa informasi yang penulis dengar, bahwa kelompok radikal agama tertentu kini bergabung dengan kubu-kubu teroris dan mulai mendapat dukungan dana dari kelompok teroris di Afghanistan dan  sekitarnya. Informasi ini yang perlu di dalami oleh aparat keamanan.

Sebuah pertanyaan dari hasil diskusi penulis tadi pagi dengan teman yang mantan petinggi intelijen, seberapa besar kini peran operasi anti teror dari badan intelijen lainnya selain Polri? Apakah operasi intelijen sipil cukup berani melaksanakan operasi intelijen counter terrorism? Nampaknya kini Polri sebaiknya segera melibatkan satuan anti teror serta Badan Intelijen TNI (Bais) untuk menangani tekanan kelompok teroris terhadap Polri. Kelompok teroris nampak terlatih dengan baik dalam pertempuran gerilya kota. Sebagai contoh, menghadapi empat anggota buser di Pondok Aren, dua teroris yang dikejar,  justru  berhasil menembak mati salah seorang anggota polisi dan berhasil melarikan diri.

Kita faham bahwa  melibatkan TNI memang ada hambatan dan tekanan baik dari sisi kekhawatiran HAM dan keberatan dari negara tertentu. Wadah pelibatan Satuan Anti Teror TNI secara hukum sebenarnya sudah disiapkan di BNPT. Semestinya kita harus berani menyelesaikan masalah kita sendiri, tidak perlu takut bukan?. Boleh percaya ataupun tidak, penulis khawatir apabila kelompok teroris, kelompok radikal tertentu dan kelompok narkoba yang dibantu dana terorisme internasional kembali membangun jaringan di Indonesia dan berjalan, maka aksi teror bisa berkembang kembali membesar seperti bom-bom masa lalu.

Apabila situasi dan kondisi ini dibiarkan dan tidak segera diambil keputusan, maka bisa diperkirakan korban akan bisa kembali berjatuhan dikalangan anggota polisi, dan yang rawan, kredibilitas aparat keamanan akan turun terus. Itulah faktanya.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

-Mencermati Bom Panci Rajapolah dan Teroris yang Tewas Ditembak, http://ramalanintelijen.net/?p=7070

-Perseteruan Antara Polisi dan Teroris makin Merucing, http://ramalanintelijen.net/?p=7204

-Efek Taktis dan Strategis dari Aksi Teror Terhadap Polisi, http://ramalanintelijen.net/?p=7223

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.