Efek Taktis dan Strategis dari Aksi Teror Terhadap Polisi

15 August 2013 | 6:01 am | Dilihat : 567

Ancaman penembakan (ilustrasi foto : merdeka.com).

Tindakan teror terhadap anggota Polri terus berlanjut di Jakarta. Setelah dua anggotanya, Aiptu Dwiyatna (50) tewas ditembak  pada tanggal 7/8/2013 dan Aipda Patah Saktiyono (53) luka-luka ditembak tanggal 27/7/2013 oleh orang tak dikenal, kini ada rumah anggota Polri (Ajun Komisaris Andreas Tulam) di Cipondoh Tanggerang yang ditembak. Dua penembakan pertama  terjadi di Jl Otista Raya, didepan RS Sari Asih, dan di Jl. Cirendeu Raya dengan menggunakan senjata api kaliber 9 mm. Sementara penembakan rumah Andrean dipastikan oleh polisi dengan senjata air soft gun.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Rikwanto, dari olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), ada dugaan kuat pelaku dua penembakan pertama adalah orang yang sama. Modus juga sama, pelaku menguntit kedua anggota Polri hingga jarak dekat dan ditembak di kendaraan. Aipda Patah ditembak dipunggung, sementara Aiptu Dwiyatna ditembak di kepala. Memang langkah intelijen taktis polisi nampaknya mengalami kemajuan dalam pengejaran, setelah mendapat hasil rekaman CCTV disekitar TKP.

Menurut Rikwanto, CCTV RS Sari Asih menunjukkan pelaku berboncengan sepeda motor dengan menggunakan helm full face. Kesimpulan sementara, pelaku menyasar korban secara acak, dan targetnya adalah  anggota Polri. Sementara penembakan rumah Ajun Komisaris Andreas motifnya belum jelas. Andreas adalah anggota Satuan Narkoba Polda Metro Jaya. Menjelaskan lebih lanjut ketiga kasus tersebut, Rikwanto memastikan ketiganya adalah teror terhadap polisi. "Soalnya tidak ada motif karena tidak mengambil apa-apa. Ini teror" tegasnya.

Terkait dengan ketiga fakta tersebut, Kapolda Metro Jaya menginstruksikan agar setiap polisi yang bertugas di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi melepas atributnya ketika berangkat dan pulang saat malam atau dinihari. Selain itu kalau bertugas agar tidak sendirian. Langkah polisi ini merupakan antisipasi pengamanan pribadi dalam menghadapi ancaman serius bersenjata.

Tetapi dilain sisi, apabila diukur dari ilmu pengetahuan tentang terorisme, efek serangan dapat dikatakan tercapai. Membahas  kasus teror terhadap polisi di Jakarta dan sekitarnya, penulis mengajak pembaca kembali kepada teori intelijen dimana teror adalah sebuah ilmu kecabangan "conditioning."Terorisme adalah fenomena yang mengganggu. Ini adalah sebuah mazhab/aliran kepercayaan melalui pemaksaan kehendak guna menyuarakan pesan, asas dengan cara melakukan tindakan ilegal yang menjurus ke arah kekerasan, kebrutalan dan bahkan pembunuhan.

Aksi teror bisa berbentuk kegiatan ancaman, pemerasan, penculikan, intimidasi, perkosaan dan pembunuhan. Pada setiap serangan teror, perancang tidak mengharapkan dapat tercapai tujuannya sebagai hasil langsung, tetapi dia mengharapkan hasil menakjubkan lewat efek dan reaksi yang mereka lakukan dengan kejam yang dapat membangkitkan kepanikan terhadap masyarakat dan bahkan pemerintah. Efek terorisme mereka tujukan terus berkembang dan memiliki dimensi yang luas, sebagai sebuah tekanan.

Menurut teori lama China tentang terorisme, bunuh satu akan menakuti 10.000 orang, dan apabila dibaca ulang, bunuh satu akan menakuti 10 juta orang. Itulah efek yang mereka harapkan. Serangan teror biasanya spektakuler, hingga disukai media dan akan terus diberitakan. Tanpa media, maka efek teror kecil nilainya.

Nah, membaca penembakan kepada dua anggota polisi yang disebutkan tidak ada motif, benar itu adalah langkah teror. Kini dalam rangka pengamanannya, polisi diinstruksikan agar jangan berseragam/beratribut apabila akan pulang waktu malam, dan jangan bertugas sendirian. Artinya mulai muncul rasa khawatir dikalangan polisi yang bertugas sebagai penegak hukum. Hanya dengan bermodalkan sepucuk pistol dan sebuah air soft gun, efek serangan teroris mulai terasa.

Membaca secara taktis langkah teror tersebut, dalam pemberantasan kelompok teror di Indonesia, memang Polisi yang terus menangani, karena teror adalah pelanggaran hukum berat. Polisi kemudian dibalas dan mereka jadikan target serangan, polisi tidak hanya memburu, tetapi kini mereka diburu. Beberapa ditembak dan markasnya di bom. Selama ini kasus perseteruan terus terjadi. (Baca ulasan penulis "Perseteruan Antara Polisi dan Teroris makin Merucing,"  http://ramalanintelijen.net/?p=7204.)

Dari pembacaan strategis, langkah teror terhadap polisi termasuk juga upaya penurunan derajat keamanan. Teror di Ibukota, terhadap polisi, kekhawatiran polisi, yang kemudian diberitakan terus oleh media jelas menurunkan derajat keamanan. Jakarta sebagai ibukota adalah barometer Indonesia, hingga gangguan keamanan bernilai lebih tinggi dibandingkan di daerah lainnya. Dengan aksi teror terjhadap polisi, maka kredibilitas polisi akan turun dan rakyat akan mulai gelisah. Bila dikaitkan lebih jauh, maka kepercayaan rakyat terhadap polisi dan pemerintah akan turun.

Secara teori terkait dengan terorisme, sebuah pemerintahan yang buruk, lemah atau tidak layak dalam sebuah negara merupakan ladang persemaian yang bagus bagi kelompok teror. Akan tetapi, bagi para teroris yang sejak awal pergerakannya apabila menghadapi sebuah pemerintahan dengan sistem yang kuat, diprediksikan oleh para ahli terorisme, pergerakannya tidak akan berlangsung lama. Karena itu apabila menghadapi pemerintahan yang kuat, mereka akan terus memperlemahnya. Sasaranya adalah kredibilitas.

Bagaimana dengan langkah terorisme  di Indonesia? Dari beberapa serangan teror baik pengeboman maupun penembakan, yang terbaca, target serangan telah mengalami beberapa perubahan. Dari semua serangan, ada yang mereka hindari, yaitu target publik/masyarakat. Tempat berkumpulnya masyarakat (mall misalnya) mereka hindari, itulah faktanya. Mereka selama ini hanya menyerang target spesifik, seperti bom Bali, disimpulkan  targetnya orang asing (AS, Australia dan lainnya), JW Marriott juga target simbol AS, Kedubes Australia jelas khas. Kemudian Pengeboman masjid Polres Cirebon adalah targetnya polisi, Gereja Bethel Solo adalah khas gereja, beberapa pos polisi dan anggota yang mereka bunuh  jelas target spesifik polisi.

Jadi kelompok teroris ini menghindari  konflik langsung dengan masyarakat, menghindari dijadikan musuh bersama oleh masyarakat. Wilayah medan tempur mereka hanya dengan polisi. Entah karena dendam ataupun memang dirancang, mereka menyasar polisi, menurunkan kredibilitasnya dan kini lebih menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap polisi, itulah yang bisa  disimpulkan. Gangguan keamanan terjadi, tetapi mereka masih bisa bersembunyi di ruang masyarakat. Kalau polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat sendiri sudah khawatir terhadap keamanan dirinya, bagaimana dengan keamanan masyarakat?

Jadi efek taktisnya adalah menimbulkan rasa takut dikalangan polisi. Turunnya kredibilitas polisi akan bisa berakibat dan mempunyai efek strategis yang lebih luas di era kebebasan masa kini. Yaitu klrisis kepercayaan. Jadi sebaiknya langkah teror tidak perlu disikapi dengan secara berlebihan. Tingkat kesulitan aparat jelas lebih tinggi. Polisi terbuka dan tersebar, mudah dikenali, sementara pelaku teror tertutup/tersamar. Yang jelas karena terorisme adalah bagian ilmu dari salah satu fungsi intelijen, maka intelijen aparatlah yang benar-benar harus diperkuat.

Alkisah, dalam sebuah operasi masa lalu di Gunung Matabian, Timtim, satu batalyon pasukan TNI dijepit Fretilin disebuah lembah. Dalam kontak senjata, korban terus berjatuhan,  semua komandan terus menyemangati anak buahnya, "jangan takut, hajar terus." Dengan penguatan mental, ketegaran para komandan, akhirnya musuh dipukul mundur. Rahasianya suksesnya adalah bagaimana Dan Yon dan para Dan Kie mampu mempertahankan mental anak buahnya. Begitu mental jatuh, rasa takut menghebat,  maka dipastikan korban dikalangan TNI akan semakin banyak. Menembakpun mereka tidak akan mampu, hanya gemetar dan bersembunyi. Semoga bermanfaat.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

 

 

 

 
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.