Bom di Vihara Ekayana untuk Solidaritas Rohingya?

5 August 2013 | 6:23 am | Dilihat : 418

[google-translator]

Polisi melakukan penyisiran di Vihara Ekayana (foto :tribunnews.com).

Sebuah ledakan cukup keras terjadi di Wihara Ekayana, Jalan Mangga II/8 Kelurahan Duri Kepa, Jakarta Barat, Minggu (4/8/2013) sekitar pukul 19.00 WIB, saat dilakukan ibadah oleh umat.  Ledakan yang diduga kuat berasal dari bom rakitan  itu melukai sedikitnya tiga orang. Ketiga orang terluka itu  langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Al Kamal, Jakarta Barat.

Tiga korban itu merupakan jemaat wihara. Elisa (29), warga Jalan Mitro, Air Selemba, Pangkal Pinang, mengalami luka pada telinga kiri, Rice (20) warga Jalan Garut,  Pangkal Pinang, dengan luka lengan tangan kanan dan betis kanan, Sumeti, (36), warga Jalan Basuki Rahmat  Pangkal Pinang, mengalami luka di telinga kiri.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam keterangannya menyatakan ada dua bom yang diletakkan di vihara tersebut. Namun, hanya satu yang meledak.  "Kantong plastik pertama warna hijau terletak di dalam vihara dan kantong plastik kedua warna kuning terletak di luar halaman vihara. Yang meledak yang warna hijau," ujar Rikwanto. Benda yang meledak berisi telepon genggam, serpihan besi, kabel, dan baterai berbentuk persegi.  Tim penjinak dari Gegana Polda Metro Jaya masih meneliti isi paket yang gagal meledak tersebut dan saat dipicu hanya mengeluarkan asap.

Kabareskrim, Komjen Pol Sutarman memberikan keterangan yang sama dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno, menegaskan bahwa aksi peledakan di Vihara Ekayana tersebut  merupakan aksi terorisme. Putut memastikan bahan peledak yang diletakkan di vihara tersebut berukuran kecil, dan tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.

Sangha dan pengurus Vihara Ekayana Arama menjelaskan, kondisi vihara ini sudah aman pasca ledakan. Diatakannya. "Menanggapi berita adanya letupan di Vihara Ekayana Arama pada 4 Agustus 2013 jam 19.00 WIB yang beredar sangat cepat baik melalui SMS maupun BB, kami Sangha dan Pengurus WEA memberitahukan berkat lindungan para pelindung Dharma, Wihara Ekayana Arama dalam kondisi aman dan tidak ada kerusakan sedikit pun," katanya.

Kepala Bidang Ekonomi Yayasan Pengurus Vihara Ekayana, Viandi, setelah mengunjungi lokasi kejadian di Jakarta, Senin (5/8/2013) dini hari menyatakan tidak ada ancaman dari pihak mana pun sebelum kejadian ledakan. Viandi juga memastikan bahwa pihak vihara tidak mendapat laporan adanya warga ataupun sosok mencurigakan yang memasuki lokasi sebelum ledakan terjadi. "Tidak ada laporan soal warga mencurigakan. Di sini memang warga cukup bebas keluar masuk," kata dia. Menurutnya pada saat ledakan terjadi vihara tidak terlalu dipadati jemaah karena aktivitas lebih banyak berlangsung pada pagi hari.

Kini pertanyaannya, mengapa Vihara Ekayana dikirimi paket bom rakitan? Secara pasti penjelasan akan diberikan pihak kepolisian apabila olah TKP sudah selesai dan kasus selesai dikembangkan.

Vihara Ekayana atau Ekayana Buddhist Centre (EBC) tersebut merupakan salah satu pusat agama Budha di DKI Jakarta yang resmi berdiri pada tahun 1995. EBC ini didirikan untuk membantu pemutaran roda dharma dengan semangat non-sektarian melalui penyediaan berbagai pelayanan dan program pembinaan spiritual berkelanjutan yang berlandaskan pada esensi pandangan dan praktik yang buddhistik. Ekayana bisa dibaca sebagai ekâyana, sebuah kata bahasa Sansekerta yang artinya kurang lebih adalah "jalan yang tunggal (yaitu jalan Buddha itu sendiri/Buddhayana)". Hal ini menekankan karakter antar mazhab/Triyanavardhana (Mahayana, Theravada, Tantrayana, karena pada dasarnya Ekayana ingin mempersatukan Umat Buddha di Indonesia.

Dalam perjalanan waktu, nampaknya Vihara tersebut dapat dikatakan aman, tidak pernah mendapat ancaman atau serangan fisik. Dari beberapa kasus serangan bom rakitan tercatat terjadi di beberapa masjid dan gereja. Oleh karena itu kasus ini perlu segera diselidiki, mengingat kejadian berlangsung pada bulan suci Ramadhan. Walau fakta belum lengkap, dengan beberapa indikasi dan fakta terbatas, nampaknya serangan ditujukan dalam kaitan antara Budha dan Islam.

Bom yang meledak di Vihara Ekayana tersebut diduga berkaitan dengan muslim Rohingnya. Dugaan itu muncul setelah ditemukan sebuah tulisan yang terdapat di lempengan sisa pecahan bom,  tertulis 'Kami Balaskan Jeritan Rohingnya Arakan,' demikian informasi yang ada.

Perseteruan antara umat Budha dan Muslim telah terjadi di Myanmar.Kekerasan sektarian dari kelompok mayoritas yang beragama Budha di Myanmar diketahui telah membunuh puluhan, dan ribuan Muslim telah diusir dari rumah mereka. Pada awal Mei 2013, satu orang telah tewas dan sekitar 160 bangunan yang terdiri dari masjid, rumah dan toko hancur di daerah yang tidak jauh dari Yangon, kota terbesar Myanmar.  Anggota kelompok etnis Rohingya terus menghadapi diskriminasi parah di Myanmar. Mereka dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh, meskipun banyak dari mereka yang  juga lahir di Myanmar.

Muslim Rohingya oleh PBB digambarkan sebagai  "salah satu minoritas yang paling teraniaya di dunia."  Mereka telah ditolak berkewarganegaraan Myanmar (Burma) sejak undang-undang kewarganegaraan 1982 diundangkan. (Baca ulasan lengkap penulis "Antara dua Teroris Jakarta dan Keprihatinan Rohingya,"  http://ramalanintelijen.net/?p=6846.

Pada hari Kamis (2/5) pukul 21.30 WIB, Densus 88 mengamankan 2 tersangka teroris JM alias Asep dan Ovie yang membawa lima buah bom pipa, yang rencananya akan digunakan untuk mengebom kedubes Myanmar. Pada tanggal 3 Mei 2013, terjadi aksi demo terhadap Kedubes Myanmar Jakarta.  Massa Forum Umat Islam (FUI) bersama FPI menggeruduk kantor kedubes Myanmar tersebut.

Dari beberapa informasi tersebut diatas, nampaknya pengeboman Vihara Ekayana dengan didasarkan info dan indikasi yang berlaku merupakan rangkaian pesan oleh teroris radikal yang mengeluarkan ancaman terhadap umat Budha terkait dengan peristiwa di Myanmar. Sempit memang jalan berfikir tersebut apabila kelompok teroris yang berfikir radikal sebagai pelakunya. Sekecil apapun ledakan sebuah bom, efek beritanya adalah besar, media menyukainya. Itulah kelebihan serangan teror bom.

Tetapi memang sulit menyadarkan mereka dari cara berfikirnya yang fanatis dan pendek. Langkah pemerintah disarankan, mengamankan lokasi terkait dengan kata Myanmar dan Budha, disamping pengurus Vihara juga membantu pengamanan internal, membantu pengawasan terhadap penyusup. Semoga bermanfaat.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.