Secangkir Teh di TV One, Sebuah Pelajaran

1 July 2013 | 12:30 pm | Dilihat : 939

Aksi Munarman menyiram Thamrin dengan teh (foto:Medianya.com).

Aksi spektakuler Munarman, juru bicara FPI yang menyiram secangkir teh kemuka Sosiolog Universitas Indonesia, Thamrin Amal Tomagola, dalam acara talkshow TVOne, Jumat (28/6/2013) pagi WIB, merupakan peristiwa mengejutkan penulis yang juga merupakan salah satu  narasumber di TVOne. Keduanya saat itu menjadi  narasumber talkshow  Apa Kabar Indonesia Pagi  dengan topik  pelarangan razia pada tempat hiburan malam oleh ormas selama Ramadhan 2013.

Talkshow  tersebut juga menghadirkan narasumber dari pihak kepolisian yaitu  Kepala Biro Penerangan Masyarakat  Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar melalui video confrence. Munarman beralasan melakukan penyiraman muka Thamrin karena merasa kesal saat berbicara dipotong, dituding dan dibentak. Saat itu dia berdiri mengambil air teh (manis pastinya) dan disiramkan kemuka Thamrin yang duduk disebelahnya. Presenter Rifky mencoba melerai dan presenter wanita TVOne menoleh ke kameramen  seperti meminta bantuan.

Munarman mengaku tidak menyesal melakukan  penyiraman segelas air ke wajah Thamrin. Malah  dia menantang  sosiolog senior itu untuk menempuh jalur apa pun bila merasa  dirugikan atas aksinya tadi. Tapi  Thamrin menganggap  percuma memperpanjang perseteruannya dengan mantan Ketua Yayayasan Lembaga Bantuan Hukum itu.  Sebab, menurutnya, walaupun  permasalahan diperpanjang,  Munarman tak akan merubah pendiriannya, dan bahkan mengatakan Munarman seperti batu.

Karni Ilyas, yang mengaku terheran-heran dengan aksi siram muka dari Jubir FPI itu. Menurutnya, selama dia menjadi pemandu acara  baik di ILC maupun TVOne belum pernah ada kejadian seperti itu. Apa lagi dilakukan oleh narasumber yang terbilang senior dari kelompok terpelajar. “Apa yang terjadi itu tak terduga. Sebab (peristiwa  penyiraman muka) belum pernah terjadi di  acara  TVOne maupun ILC,” katanya dalam keterangan di TVOne, Sabtu (29/6) malam.

Penulis sebagai salah satu narasumber TVOne mengenai masalah terorisme dan isu keamanan pernah muncul baik bersama Thamrin Tamalagola maupun Munarman. Memang Pak Thamrin dikenal keras kalau berbicara, dia akan langsung menyatakan pembantahan kepada narsum lainnya apabila tidak sependapat. Penulispun pernah dibantahnya saat menjelaskan pertanyaan presenter, dan kemudian menjadi heran, karena kalau seseorang membantah ditengah pembicaraan maka penjelasannya belum lengkap, lantas apa urgensinya membantah? Nah, karakter serta habit Thamrin terkena batunya saat bertemu Munarman si anak keras yang badung itu. Yang jelas mukanya menjadi manis karena dilumuri teh manis.

Munarman, pernah juga muncul bersama penulis di TVOne, membahas soal isu keamanan, saat berbicara, dengan keras dia menyatakan sudah waktunya menurunkan presiden. Dan Munarman tidak kenal takut (karena sebagai sarjana hukum, dia faham tidak akan ditangkap), koridor hukum difahami olehnya. Saat break penulis menanyakan mengapa dia berteriak begitu, katanya sebagai pertanggung jawaban kepada para anggota FPI. Penulis mengomentari kok dia pakai jas baru, bukan pakai sorban juga. Dia hanya tersenyum.

Dari peristiwa secangkir teh di acara AKI Pagi itu, keterkejutan Pak Karni jelas tidak harus terjadi semestinya. Apabila di era kebebasan demokrasi saat ini, sebuah debat keras apabila tidak diwapadai akan beralih ke konflik fisik. Orang bisa tidak terkontrol karena tiap hari disuguhi berita konflik horizontal. Polisipun disikat masyarakat, perusahaan di daerah (perkebunan, tambang) bisa tidak aman karena kantornya dibakar.

Jangan menggampangkan sebuah acara, apapun namanya. Bagaimana apabila suporter atau pengikut yang biasanya nonton di lokasi ikut menggeruduk? Kalau moderatornya Pak Karni, pada umumnya siapapun yang diundang TVOne jelas akan segan, bisa-bisa kalau menjawab seenaknya dan terlalu keras akan diceramahi olehnya. Yang ini jelas berbeda, presenternya masih muda, maka terjadilah peristiwa memalukan bagi TV besar itu.

Jadi bagus juga peristiwa secangkir teh itu (positif thinking), dengan demikian maka para narasumber akan lebih bijak apabila dimunculkan dilayar kaca. Jelas sulit menyamakan persepsi terhadap sebuah kasus, karena latar belakang keilmuwan narsum banyak yang berbeda, jadi sudut pandangnya ya berbeda. Pelajaran lainnya bagi media elektronik, jangan asal mengundang narsum tanpa perhitungan, jelas harus diperhitungkan kemungkinan debat akan bergeser ke konflik fisik apabila narsumnya karakternya sama-sama keras.

Bagus juga peristiwa itu untuk popularitas TV bersangkutan (mungkin), tapi yang jelas citranya akan rusak bagi kalangan menengah. Pemirsa butuh informasi dan analisis narsum, bukan disuguhi acara tidak berkelas. Mereka bisa pindah ke TV lainnya. Semoga bermanfaat bagi teman-teman dari penulis di TVOne, khususnya untuk Bang Karni.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.