Saran Untuk Danjen Kopassus, Mayjen TNI Agus Sutomo

6 April 2013 | 6:20 am | Dilihat : 1856

[google-translator]

Setelah terungkapnya kasus penyerangan ke Lapas Cebongan Sleman, Danjen Kopassus, Mayjen TNI Agus Sutomo menyatakan di Jakarta Timur, Jumat (5/4/2013) bahwa dirinyalah yang paling bertanggung jawab atas tindakan 11 anggota yang menjadi tersangka pelaku penyerangan. Agus juga mempersilahkan anggotanya itu dihukum berat. Agus yang mantan Komandan Paspampers menyatakan bahwa hukuman berat sudah menjadi konsekwensi anggota TNI. "Seperti disampaikan pimpinan TNI AD, prajurut berprestasi kita beri penghargaan, prajurit salah kita beri sanksi, walaupun secara kesatria sudah jujur."

Dari beberapa informasi yang disampaikan tim investigasi serta Kapuspen TNI Laksamana Madya Iskandar Sitompul, tentang kronologis terjadinya penyerangan, nampaknya Kopassus sendiri perlu melakukan pendalaman. Mengapa? Tindakan anggotanya yang merupakan ketidak patuhan serta pelanggaran disiplin berat yang berbahaya tersebut harus merupakan sebuah bahan evaluasi internal satuan secara jernih dan transparan.

Kopassus adalah satuan elit yang dilatih dan diperlengkapi sebagai salah satu unsur pertahanan negara yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara lain. Sebagai pasukan komando, satuan ini harus selalu berada dibawah kontrol kodal masing-masing komandannya secara hierarhis dari jajaran terbawah (team/regu) hingga tingkat satuan secara utuh. Tidak ada toleransi terjadinya "personal disobedience" bagi satuan elit dimanapun mereka berada, baik di Indonesia maupun negara manapun.

Pasukan khusus, elit atau komando, dilatih sebagai mesin pembunuh yang mampu melakukan penetrasi dan melakukan serangan awal mematikan dan sulit dicegah oleh lawan, karena disitulah keahliannya. Navy SEALs Six Team yang menyergap tokoh teroris Osama bin Laden di wilayah Pakistan  mampu menyelesaikan tugasnya dengan sukses, tanpa dapat di counter oleh militer Pakistan. Demikian juga Raid on Entebbe, yang merupakan pembebasan sandera oleh pasukan komando Israel ke Uganda, sukses. Kopassus pada masa lalu pernah menorehkan suksesnya saat pembebasan sandera dalam operasi woyla di Thailand.

Kini, yang perlu diselidiki oleh pimpinan Kopassus, apakah serangan hanya berupa sebuah langkah balas dendam para anggota baret merah itu dalam kasus terbunuhnya Serka Heru Santoso oleh keempat korban yang dieksekusi di Cebongan belaka? Penulis melihat beberapa kejanggalan dalam kaitan beberapa informasi yang disampaikan pejabat resmi.

Eksekusi oleh anggota Kopassus ('U') terhadap empat sasaran, terlalu menghamburkan peluru, ditemukan 32 selongsong peluru, 16 proyektil. Apakah diperlukan demikian banyak tembakan?Lantas dari keterangan Kapuspen, para penyerang hanya  secara kebetulan mengetahui perpindahan tahanan dari Polda DIY ke LP Cebongan, belum lagi apabila diteliti informasi lain seperti adanya beberapa air shot gun AK-47, turunnya anggota Kopassus dari gunung Lawu, serta penghilangan jejak yang terlalu sederhana.

Yang disarankan, apakah bukan tidak mungkin ada operasi atau tindakan penyuruhan yang dirancang diluar komando kendali komandan satuan? Dari pengakuan, para prajurit komando itu mengakui hanya sakit hari karena Serka Santoso sebagai bintara peleton dibunuh preman. Mereka mengakui secara kesatria. Kini pertanyaannya, dari kelompok sebelas itu, pangkat tertinggi adalah bintara dibawah pangkat serka (sersan kepala). Apakah benar dia mampu mengorganisir tim tanpa adanya arahan khusus atau dukungan lainnya? Operasi semacam ini jelas membutuhkan 'support agent' yang membekali informasi baik lokasi maupun situasi wilayah. Ini langkah yang tidak sederhana. Dibutuhkan lokasi, situasi wilayah, kekuatan penjaga, sistem, pengamanan penjara.

Nah, penulis hanya ingin menyampaikan saran, Danjen Kopassus memang harus menjaga kredibilitas serta citra satuan elit kebanggaan bangsa ini. Apabila memang hanya gerakan balas dendam semata, persoalan adalah semata pembenahan disiplin ketat sebagaimana aturan yang ada di Kopassus. Yang penulis khawatirkan, Kopassus tanpa sadar ada yang memanfaatkan, dengan alasan esprit de corps. Lantas apa tujuan dan sasarannya? Bukan tidak mungkin ke empat target hanyalah sasaran antara yang memang dipersiapkan sebagai korban.

Serangan pembunuhan dengan senjata jelas sangat menghebohkan, dan pelaku terlalu banyak meninggalkan jejak, sehingga terkesan dalam perencanaan ada upaya sengaja terbongkarnya aksi tersebut tidak terlalu sulit. Terbukti, begitu tim TNI AD dibentuk, dalam beberapa hari para pelaku langsung mengaku, inikah kelas komando?

Serangan jelas menghebohkan, dan memang terus diberitakan media sebagai event mahal. Kemudian karena pelaku adalah anggota Kopassus, berita besar akan terus dibahas hingga entah kapan. Jadi kesimpulannya berita heboh itulah sasaran utama dari serangan. Berita lainnya langsung tenggelam tertutup "aksi teror" yang menakutkan itu. Kehebohan dan pembahasan belum akan  segera selesai dengan turunnya Komnas HAM serta penggiat kemanusiaan lainnya. Belum lagi akan adanya reaksi dari keempat keluarga korban. Akan masih panjang ceritanya.

Jadi saran penulis, sebagai satuan yang juga memiliki satuan intelijen handal (Sandhi Yudha), Kopassus sebaiknya melakukan penyelidikan internal untuk mengamankan satuannya serta sebagai bagian bahan evaluasi dimasa mendatang. Conditioning tingkat tinggi dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada demi sebuah tujuan tertutup, semua akan nampak wajar, tidak disadari oleh target. Kopassus harus waspada terhadap kemungkinan operasi clandestine terhadap satuan mereka. Intelijen dapat membuat yang hebat menjadi tidak hebat. Semoga saran yang sederhana  ini ada manfaatnya bagi pasukan kebanggaan Indonesia, penulispun bangga. Bravo Kopassus!

Oleh : Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.