Partai Demokrat Sebaiknya Belajar Dari Pengalaman Pahitnya

21 March 2013 | 7:04 am | Dilihat : 338

Pada suatu hari penulis berdiskusi dengan salah satu pakar yang juga praktisi politik, membahas tentang kehidupan dan karakter politisi di Indonesia. Penjelasan beliau mengejutkan, katanya "politik itu kotor, tetapi politik di Indonesia kotor sekali." Lihat saja sejak reformasi, kekuasaan tertinggi yang mengatur negara ini adalah politik, lihat saja bagaimana para politisi dengan mudah mendapatkan uang, merekalah sebenarnya panglima di Indonesia. Yang mengatur anggaran ya politisi, eksekutif ya pelaksana belaka. Banyak politisi yang kemudian ditangkap KPK.

Kalau mau berkuasa ya jadilah politisi kata beliau, modalnya harus  nekat dan bisa bersuara keras. Pada umumnya mereka banyak yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan dirinya sendiri, banyak yang jadi calo proyek, semua ujung-ujungnya ya duit (UUD). Seram sekali pendapat beliau itu. Tapi itulah pendapat orang dalam yang faham dengan kehidupan politik di negeri yang indah ini.

Statement itu yang penulis jadikan ukuran, mencoba melihat Partai Demokrat yang sedang mencari Ketua Umum baru, menggantikan Anas Urbaningrum. Dari perjalanan sejarahnya, Partai Demokrat sebelum dipegang oleh Anas, yang menjadi  ketua umum adalah Subur Budhisantoso (2001-2005) dan Kolonel Pur Hadi Utomo (2005-23 Mei 2010). Sejak 23 Mei 2010-23 Februari 2013 Anas yang menjadi ketua umum.

Subur dan Hadi adalah tokoh lama di PD, dan saat kepemimpinannya, gonjang ganjing jelas tetap ada, tetapi keduanya masih dalam koridor yang dikehendaki Pak SBY selaku Ketua Dewan Pembina. Sejak berdirinya Demokrat pada 9 September 2001 dan diresmikan pada 27 Agustus 2003, modal PD hanya bersandar kepada SBY sebagai  figur sentral. Parpol ini belum dikenal publik, SBY yang dikenal, saat itu sebagai Menkopolkam. Pada pemilu 2004, Partai Demokrat meraih suara sebanyak 7,45 persen(8.455.225) dari total suara dan mendapatkan kursi sebanyak 57 di DPR.

Setelah PD berhasil sukses mengikuti pemilu 2004 dan kemudian bahkan tokoh sentralnya Pak SBY berhasil menjadi presiden. Hadi Utomo yang teman satu angkatan penulis,  sama-sama alumnus Akabri 1970 mengendalikan perahu politik baru ini untuk menuju ke tujuannya yang lebih besar. Tidak ada gejolak di internal PD, semua adem ayem. Hadi sebagai ipar SBY mampu mengamankan parpol ini sesuai dengan kehendak iparnya. Hadi adalah suami dari saudara kandung Ibu Ani Yudhoyono.

PD kemudian dalam pemilu 2009 menjadi rulling party, partai penguasa yang memenangkan pemilu. Dari perolehannya yang 7,45 persen, pada Pemilu Legislatif 2009, Partai Demokrat secara mengejutkan dan fantastis memperoleh 20,4 persen suara (21.703.137) dari total suara. PD menguasai  150 kursi (26,4%) di DPR RI. Apakah mesin partai demikian hebat? Banyak fihak mengatakan peran SBY yang hebat, bukan mesin partainya yang hebat. Citra Demokrat sabngat baik saat itu, inilah partai idaman, hingga ada caleg yang tidak usah susah-susah kampanye bisa menang.

Saat menjelang pemilu 2009 itu, masuklah anak muda pintar yang bernama Anas Urbaningrum menjadi anggota DPR. Anas yang mantan anggota KPU  terpilih menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2009 dari daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung dengan meraih suara terbanyak, yaitu 178.381 suara, melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) sebesar 177.374 suara. Anas dengan nikmatnya duduk dan berselancar memanfaatkan kehebatan partai belambang Mercy ini.

Pada 1 Oktober 2009, Anas yang diantara elit PD dikenal sebagai tokoh paling pintar, ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI. Tugas berat yang berhasil dijalankannya dengan baik dan cerdik adalah menjaga kesolidan seluruh anggota Fraksi Partai Demokrat dalam voting Kasus Bank Century. Menyusul pemilihannya sebagai ketua umum partai, pada 23 Juli 2010 Anas mengundurkan diri dari DPR.

Disinilah petaka dimulai. Anas entah bagaimana caranya, dengan isu Nazaruddin sebagai bendaharanya, yang kemudian ditangkap KPK karena korupsi,  menang karena upaya bayar membayar dan sogok menyogok. Akhirnya dengan modal ilmu demokratis berhasil terpilih menjadi ketua umum. Karena menguasai DPR, dan berposisi sebagai parpol pemerintah, beberapa kader dibawah kepemimpinan Anas menjadi "keblinger," terjebak dalam euphoria penguasa yang tak terbantahkan. KKN diantara elit PD terjadi dan terbukti dengan kemudian ditangkapnya beberapa tokoh, seperti Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng dan kini Anas sendiri menjadi tersangka kasus yang berkaitan dengan Hambalang.

Anas yang dahulunya dalam acara partai selalu duduk secara terhormat disebelah Pak SBY, kemudian setelah menjadi tersangka KPK,  berbalik secara halus menjelekkan SBY, misalnya mengatakan dia adalah bayi yang lahir dan tidak diinginkan. Kemudian dia mengeluarkan nada ancaman akan membuat lembaran baru, diterjemahkan akan membongkar masalah-masalah yang dia ketahui. Anas yang demikian santun dan pernah dibesarkan serta diberi tempat terhormat oleh SBY justru menjadi demokrat muda yang kurang tahu diri, kira-kira begitulah.

Yang aneh dan penulis rasa ada yang tidak tahu malu, pengikut Anas kini ada yang nekat mau menyalonkan dirinya menjadi ketua umum dalam KLB yang kabarnya akan dilaksanakan pada akhir Maret 2013. disebtkan sebagai faksi Anas, aneh kan? Mereka menyatakan mengundurkan diri tetapi kini menyalonkan diri. Apakah itu yang harus dikhawatirkan oleh petinggi PD dibawah Pak SBY? Bukan, jawabnya bukan itu bahayanya, Saan dan Tri bukan ancaman riil.

Partai Demokrat semestinya agar lebih hati-hati dan waspada, kini ada lagi orang luar yang juga pintar, kaya,  terindikasi dan diberitakan  terlibat korupsi nampaknya selalu berusaha mendekati beberapa elitnya. Namanya sudah dihembuskan sebagai calon ketum.  Dia berambisi untuk menjadi ketua umum. Pengalaman pahit dengan Anas yang menyesakkan itu sebaiknya jangan sampai terulang dan menjadi episode kedua salah pilih ketua umum. Partai Demokrat hanya akan dijadikan kendaraan politik untuk menggapai tujuan yang lebih tinggi.

Kalau boleh menyarankan, elit serta pengurus Partai Demokrat memilih pemimpin yang kriterianya seperti apa yang dikehendaki Pak SBY. Entah bagaimana jadinya nanti PD apabila ketua umum yang baru kemudian alur politiknya berseberangan dengan SBY. Sudah jangan terlalu terbelenggu dengan pemikiran demokratis murni, yang penting PD kembali bisa jaya dan kembali besar. Pengalaman Gus Dur yang berhasil di kudeta di PKB adalah contoh yang sangat terang.

Kalau boleh jujur dari kasus Anas, beberapa tokoh utama PD kelasnya dibawah Anas, buktinya mereka berlima tidak mampu menetralisir Anas dan mengadu ke SBy dan SBY kemudian yang terpaksa  head to head dengan Anas. itulah faktanya.

Jadi kesimpulannya, pilih ketua umum yang direstui SBY, hati-hati, masih ada unsur yang menginginkan kerusakan permanen citra PD. Yang perlu disadari, para politisi Partai Demokrat seharusnya berterima kasih kepada SBY yang dengan segala upayanya berhasil membesarkan partai mereka. Duduknya mereka di kursi empuk legislatif dengan segala fasilitasnya harus diakui sebagian besar karena upaya Pak SBY. Pilihlah ketua umum yang setia, sejalan dengan Ketua Dewan Pembina, itu intinya. Tetapi biasanya jarang ada politisi yang setia. Jawabannya, kalau menjadi politisi harus  cerdik dan pintar dan hati-hati, tetapi jangan khianat,  karena politik itu memang sangat kotor. Begitulah kira-kira.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : liputan6.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.