Aburizal kini Ancaman Potensial bagi Mega

20 March 2013 | 10:11 am | Dilihat : 521

Pada waktu penulis bertemu dan berbincang dengan Ibu Megawati pada bulan November 2011, penulis berdasarkan penelitian perjalanan persaingan pilpres 2004 dan 2009 serta diperkuat dengan beberapa hasil survei antara 2011-2013, masih mempunyai keyakinan bahwa Mega masih sangat berpeluang kembali akan menjadi Presiden RI pada pilpres 2014. Saat pertemuan tersebut, Ibu Mega menyampaikan bahwa ada "faktor X" yang akan berpengaruh terhadap peluangnya menang. Penulis menyampaikan, faktor X tersebut adalah apabila PDIP tidak menyalonkannya.

Apa yang terjadi kini? Ternyata suaminya,Taufik Kiemas mengatakan tidak setuju Mega kembali maju, dengan alasan sudah tua dan perlu capres muda yang lebih segar. Kita menjadi heran, sebagai suami entah mengapa Bang Taufik ini tidak setuju, sedang dia adalah suami Mega. Ibu yang satu ini menanggapi, memang Taufik suaminya, tetapi pandangan politik keduanya memang berbeda, aneh kan?

Terlepas banyak yang mengatakan Mega sudah dua kali kalah, sudah berumur, tetapi dari hasil survei dalam sebuah pemilihan langsung masih terlihat dominasi Mega sebagai capres potensial dari partai banteng moncong putih. Alat ukur pemilu dan pilpres hanyalah hasil survei, hanya lembaga yang mana kita percayai dan lebih independen, bukan kontrakan itulah yang penting.

 

Elektabilitas Capres dan Parpol Versi LSI

 

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengeluarkan hasil survei pilpres dan pemilu 2014 yang dilaksanakan antara tanggal 1-8 Maret 2013 dengan menggunakan 1.200 responden di seluruh Indonesia. Metode yang digunakan adalah  multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9%.

Menurut peneliti LSI Adjie Alfaraby, bila  pelaksanaan pemilihan umum presiden dilaksanakan pada bulan ini, maka Megawati Soekarnoputri yang menjadi pemenang dengan perolehan suara 20,7%. Empat capres terkuat setelah Mega adalah Aburizal Bakrie 20,3%, Prabowo Subianto 19,2%, Wiranto 8,2 persen dan Hatta Rajasa 6,4 persen.

Dibandingkan dengan Hasil survey LSI yang dilaksanakan pada  1-12 Februari 2012, suara tertinggi diraih Megawati dengan 22,2 persen suara, Prabowo Subianto 16,8 persen, Aburizal Bakrie 10,9 persen, Wiranto 10,9 persen, dan Hatta Rajasa 5,4 persen.

Para tokoh partai berbasis Islam yang terkuat hanya Hatta Rajasa, sementara tokoh Islam lainnya jauh lebih kecil, juga tokoh parpol baru. Ketum PPP Suryadarma Ali 1,9%, Ketum PKS Anis Matta 1,1%, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 1,6%, sedangkan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh 2,1%.

Hasil survei pada Maret 2013, sebagai calon wakil presiden, Jokowi dipersepsikan tinggi dengan perolehan suara 35,2 persen. Selanjutnya  perolehan tokoh lainnya, Jusuf Kalla 21,2%, Hatta Rajasa 17,1%, dan Mahfud MD 15,1%. Tokoh Islam lainnya hanya berada dilapis bawah, Suryadarma Ali hanya memperoleh suara 2,9%, Anis Matta 1,9%, dan Muhaimin Iskandar 2,2%.

Hasil survei Maret 2013 terhadap parpol, Golkar masih kokoh bertengger  di urutan pertama dengan perolehan suara 22,2%, naik 9% dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2009 yang 14,5%. “Golkar mencapai angka psikologis pemenang pemilu,” kata Adjie. Pada pemilu 2004 dan 2009, partai pemenang pemilu selalu mencapai persentase di atas 20%. Pemenang pemilu 2004 yaitu Golkar dengan suara 21,85%, kedua PDIP 18,8%. Berdasarkan hasil survei LSI, sejak Februari 2012, PDI-P stabil pada posisi kedua di bawah Golkar dan di atas Partai Demokrat.

Perolehan suara PDIP dalam survei ini mirip dengan perolehan partai itu pada pemilu 2004 yaitu  18,53%. Dalam survei ini suara PDIP mengalami kenaikan 4% dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2009. Persepsi perolehan suara Partai Demokrat 11,7% turun 9% dibandingkan dengan perolehan  pada pemilu 2009 sebanyak 20,85%. Seluruh parpol islam yang telah dinyatakan lolos sebagai peserta pemilu yaitu PPP, PKB, PAN, dan PKS hanya memperoleh persepsi  dukungan suara di bawah 5%.

Dibandingkan hasil survei LSI antara 25 Februari-5 Maret 2012, Golkar memperoleh 17,7 persen,  PDIP 13,6 persen, Demokrat 13,4 persen, NasDem  5,9 persen,  PKB   5,3  persen, PPP 5,3 persen, PKS 4,2 persen,  Gerindra 3,7 persen, PAN 2,7 persen, Hanura  0,9 persen.

 

Analisis

 

Walaupun hasil sebuah Lembaga survei kadang masih diragukan publik, tetapi hasil survei adalah sebuah fakta terbaik di negara manapun dalam mengukur persepsi publik dalam menghadapi sebuah pemilihan umum ataupun pilpres langsung. Banyak faktor internal serta eksternal yang akan memengaruhinya. Elektabilitas jelas berawal dari sebuah popularitas, artinya bagaimana elektabilitas akan tinggi apabila si calon tidak populer atau dikenal.

Terlalu naif rasanya apabila ada yang berharap  dalam waktu yang singkat mengharapkan memunculkan tokoh baru untuk menang dalam sebuah pemilihan tingkat nasional. Pemilu dan pilpres di Indonesia demikian rumit dan membutuhkan kepiawaian team sukses pengurus parpol agar parpol atau tokoh yang diusungnya mempunyai peluang menang. Indonesia sangat luas dan terdiri dari ribuan pulau.

Ada yang sering dilupakan oleh para elit parpol bahwa calon presiden khususnya atau cawapres harus menjadi patron dalam persaingan pilpres, dia sebaiknya menjadi tokoh yang diidolakan, dipercaya dan disukai. Ini disebabkan karena di Indonesia, budaya paternalistik masih demikian kental. Patron terkuat kini adalah Megawati, yang dibuktikannya dalam dua pemilihan presiden 2004 dan 2009 selalu menjadi pemenang kedua, hanya dibawah SBY yang saat itu muncul pada saat momentumnya tepat. Mega pada 2004 dan 2009 mampu mengalahkan beberapa tokoh kuat, seperti Wiranto, Hamzah Haz, bahkan meninggalkan perolehan suara Jusuf Kalla pada pilpres 2009, pada saat nama JK sedang melambung.

Disini berarti kekuatan pendukung Mega sangat masif, dan mereka berpegang Mega adalah patron yang dicintai. Faktor kedua yang juga sangat berpengaruh selain patron, adalah pengaruh yang demikian kuat dari media, khususnya media elektronik. Bukti kekuatan media, sangat nyata saat pilkada DKI Jakarta, Jokowi menumbangkan tanpa ampun incumbent Fauzi Bowo yang didukung demikian banyak parpol. Jokowi kita fahami menang karena dia dibentuk oleh media sebagai "media darling." Nah, dengan terus diberitakan sebagai tokoh yang dekat dan merakyat, dengan bahasanya yang sederhana, mudah dicerna rakyat, terlihat lonjakannya  pada survei cawapres dari LSI ini. Sangat mengejutkan, Jokowi mendapat dukungan persepsi publik hingga 35,2 persen. Jauh mengalahkan tokoh "beken" Jusuf Kalla, Hatta dan Mahfud MD.

Media elektronik  adalah sebuah sarana yang mengomunikasikan fakta kepada penonton/pemirsa secara langsung, dimana pengaruhnya sangat besar. Media dikatakan kini sebagai sebuah "silent revolution," secara diam-diam pengaruhnya demikian besar. Mampu mempengaruhi  alam bawah sadar pemirsa, mengalahkan jejaring partai. Bukti dari kekuatan media lain pada tingkat nasional, kita lihat bagaimana ARB (Aburizal Bakrie) dalam survei LSI maret 2013 elektabilitasnya mencapai 20,3 persen, sedang pada survei LSI antara 1-12 Februari 2012 hanya mendapat dukungan 10,9 persen. Dengan kepemilikan media elektronik, publik setiap hari dibombardir iklan ARB, hasilnya dalam setahun elektabilitas Aburizal naik 9,4 persen. fakta ini sulit dimungkiri. Medianya bahkan mampu meredam kasus bisnisnya dan Lapindo.

Sementara Mega yang pada survei LSI 1-12 Februari 2012  mendapat persepsi 22,2 persen, justru pada survei LSI Maret 2013 ini turun menjadi 20,7 persen, artinya Mega dalam setahun turun 1,5 persen. Prabowo mengalami kenaikan dari 16,8 persen menjadi 19,2 persen. Wiranto mengalami penurunan dalam setahun, dari 10,9 persen menjadi 8,2 persen, Hatta Rajasa naik dari 5,4 persen menjadi 6,4 persen.

Disini terlihat, Mega walaupun tidak banyak beriklan, tetap kokoh berada diatas 20 persen, tetapi dengan naiknya ARB yang kini hanya berbeda 0,4 persen merupakan indikasi berbahaya bagi Mega. Elit PDIP dalam waktu setahun mendatang mestinya tidak lengah dan waspada dengan kenaikan skitar 90 persen dari ARB, sebuah kenaikan persepsi yang fantastis. Kini, Aburizal akan menjadi ancaman nyata bagi Megawati, karena menurut LSI,dilain sisi, “Golkar mencapai angka psikologis pemenang pemilu.” Ancaman ARB dengan dukungan mesin partai Golkar yang bekerja dengan baik jauh lebih berbahaya dibandingkan ancaman dari Prabowo. Walau elektabilitas mantan Danjen Kopassus ini naik, partainya Gerindra menurut LSI belum mampu menjadi parpol papan atas.

Waktu pemilu dan pilpres masih sekitar setahun, beberapa tokoh masih berpeluang akan naik daun, seperti Wiranto yang kini didukung mesin media dari Harry Tanoe. Apabila HT all out memainkan sarananya, bukan tidak mungkin Hanura dan Wiranto dalam setahun mendatang bisa menyodok ke jajaran atas. Demikian juga dengan Nasdem dan Surya Paloh. Sementara PDIP, Partai Demokrat dan Gerindra belum menunjukkan kepemilikan akan stasiun televisi. Mereka bisa saja melakukan iklan yang sangat mahal, tetapi pengemasan iklan akan diedit stasiun yang bersangkutan, atau ditolak.

Berdasarkan analisis diatas, kesimpulan yang dapat diambil, Golkar dan PDIP akan menjadi dua parpol papan atas yang akan bersaing di pemilu 2014, Golkar diperkirakan  lebih berpeluang akan menjadi parpol pemenang pemilu. Demikian juga  akan terjadi persaingan antara Mega dan Aburizal. Ibu Megawati serta jajaran PDIP benar-benar harus waspada, ancaman sebagai capres bukan Prabowo, tetapi ARB, yang apapun dikatakan orang, secara silent, elektabilitasnya naik dalam setahun melonjak  90 persen, dan  parpolnya sangat kuat, mesin Golkar sangat efektif.

Harusnya informasi ini mengerikan bagi PDIP, ancamannya sudah mulai nyata,  terlebih Mega masih dihajar dari internalnya, dilarang sang suami yang mestinya mendukungnya. Tapi entahlah, ini hanya sebuah ramalan intelijen belaka.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : icalbakrie.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.