Adhie Massardi Katanya mau Mendongkel Presiden SBY

16 March 2013 | 8:07 am | Dilihat : 462

Kamis malam (14/3/2013), penulis menonton sebuah talk show di Metro TV, dengan narasumber mantan Panglima TNI, Jenderal TNI Pur Endriartono Sutarto, Adhie Massardi, mantan jubir era pemerintahan Presiden Gus Dur, pengamat politik Atmadji serta teleconfrence dengan juru bicara presiden, Julian Aldrin Pasha. Agak terkejut pada diskusi yang  membahas kunjungan rombongan purnawirawan jenderal dipimpin oleh Jenderal TNI Pur Luhut B Panjaitan, berubah menjadi topik ke fokus penurunan Presiden SBY.

Peserta diskusi yang awalnya agak abu-abu membahas ada kelompok yang menurut Presiden SBY akan membuat gonjang-ganjing pemerintahan, menjadi sangat terang setelah Adhie Massardi berbicara. Adhie selalu menyatakan dan mengakui dirinya sebagai kordinator Gerakan Indonesia Bersih serta diketahui sebagai Sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (ketua Presidium MKRI Ratna Sarumpaet).

Adhi mengatakan Presiden harus diganti, karena dianggapnya membiarkan korupsi merajalela, kemiskinan terjadi di mana-mana, membiarkan beberapa menteri yang korupsi. Adhi merasa tidak perlu menghormati keterpilihan Presiden oleh rakyat secara langsung, karena Presiden tidak menghormati konstitusi. Dia juga menilai Presiden SBY itu baru belajar demokrasi . Adhie membandingkan cucu presiden bisa dirawat di RS bagus dan ada rakyat yang anaknya tidak bisa berobat. Secara simbolik Adhi berkata, rangkaian gerbong kereta api telah keluar dari rel, maka yang harus diganti terlebih dahulu kepala gerbong kereta api. Dia mengatakan akan melakukan  aksi gerakan pada 25 Maret 2013. Adhie mengaku tindakan kelompoknya konstitusional. Menurutnya demokrasi ada ditangan rakyat dan rakyat bisa memaksa menurunkan presiden. Kalau sukses dia katakan konstitusional, kalau gagal makar.

Pendapat Adhi ditanggapi oleh Jubir Presiden Julian, yang kali ini agak keras menyindir Adhie, dikatakannya ilmu politik Adhie terlalu tinggi. Dan mempertanyakan soal Majelis kedaulatan Rakyat, karena yang diketahuinya hanya Majelis Permusyawaratan Rakyat. Julian juga mempertanyakan parameter upaya penurunan presiden, karena tidak ada alasan presiden bisa diturunkan.

Mantan Panglima TNI Sutarto juga mengatakan bahwa presiden tidak perlu risau, karena pemerintah memiliki perangkat keamanan dan  intelijen yang bisa melakukan tindakan hukum apabila ada yang melakukan tindakan inkonstitusional. Pak Tarto juga menanyakan, tidak mudah Adhie melakukan aksinya, people power membutuhkan power, dan alasan yang sangat jelas serta didukung rakyat. Menurunkan presiden harus melalui prosedur sesuai dengan konstitusi. Menurunkan presiden secara inskonstitusional hanya akan menyebabkan kekacauan serta menyebabkan Indonesia mengalami kemunduran.

Melihat diskusi tersebut, penulis merasa aneh dan prihatin. Bagaimana seorang Adhie yang mantan jubir presiden di masa lalu demikian ringan berbicara di media mengancam akan menurunkan presiden dengan aksinya. Dikatakannya dia akan melibatkan rakyat, pertanyaannya rakyat yang mana? Sebagai orang yang agak pintar (jubir presiden kan mestinya pintar), harusnya Adhie lebih bijak dan faham akan arti berdemokrasi. Jangan terkontaminasi dengan kejadian-kejadian di negara-negara lain yang rakyatnya berontak dengan kekerasan.

Adhi mestinya juga faham, betapa sulitnya bagi pemerintah memberantas korupsi yang setelah dibongkar KPK menjadikan banyak orang kemudian berfikir negatif. Korupsi  katanya dibiarkan, faktanya tidak demikian, memang korupsi kini ditangani KPK, hasilnya mengejutkan, ada jenderal polisi yang powerful kemudian ditangkap, disita aset-asetnya. Dia harus sadar betapa sulitnya membongkar jaringan korupsi yang merupakan mata rantai satu dengan lainnya. Jadi sebagai mantan jubir Gus Dur yang tokoh Islam, Adhie jangan terlalu ringan membuat kesimpulan yang ujungnya adalah penurunan presiden. Apa dia tidak faham resikonya terlalu besar bagi bangsa ini? Ungkapannya tentang pembandingan soal cucu presiden terlalu kecil dalam konteksnya, menyebabkan publik menilainya tidak berkelas.

Penulis agak keberatan sebenarnya dengan media, bagaimana mereka yang tidak pantas muncul, justru menjadi tokoh media, sebagai contoh, tokoh preman Hercules pernah diwawancarai. Jelas kelakuannya tidak pantas berbicara sebagai narasumber, kini Adhie yang mau menimbulkan disintegrasi juga dimunculkan. Semua selalu bersembunyi dibelakang demokrasi, termasuk media juga. Jadi mau diapakan lagi? Banyak yang lupa bahwa penyesalan selalu di akhir, tidak pernah di muka, begitu?

Penulis bukan aparat struktural pemerintah, tetapi sebagai mantan anggota TNI yang mencintai bangsa dan negara ini, merasa sangat prihatin dengan gaya berdemokrasi yang menghalalkan kerusuhan dan perpecahan. Kapan bangsa ini akan maju? Kapan bangsa ini akan membangun dan sejahtera? Kita masih dalam taraf "eker-ekeran", selalu ribut, berkelahi. Mestinya kita semua sadar, bahwa kita butuh bersatu, mari kita libas yang aneh-aneh dan penghianat negara. Termasuk pejabat, kalau terbukti berhianat dan menghianati amanahnya, ya kita sikat.

Kesimpulannya, sudahlah Adhie, memangnya mau kemana? Jangan berbicara dan bertindak yang aneh-aneh. Kata teman Pray yang masih menjabat, tidak enak kan kalau dibilang orang ini sehat tapi tidak waras. Maaf deh, old soldier yang sudah di usia senja ini hanya prihatin saja kok, boleh kan mengutarakan pendapat?Namanya berpendapat di alam demokrasi (tuh kan enak menggunakan alasan demokrasi).

Oleh : Prayitno Ramelan (Old Soldier Never Die)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.