Elektabilitas Demokrat 8 Persen, Kenapa baru ribut sekarang?

4 February 2013 | 4:20 pm | Dilihat : 278

Direktur Riset SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) , Djayadi Hanan, di Jakarta, Minggu (3/2/2013) di Hotel Sari Pan Pacifik mengumumkan hasil survei dengan tajuk "Kinerja Pemerintah dan Partai, Tren Anomali 2012-2013". Survei yang dilaksanakan 6-22 Desember 2012, melibatkan 1.220 responden di seluruh Indonesia margin of error plus-minus 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah "partai apa yang akan dipilih jika pemilu dilaksanakan sekarang?".

Hasil Survei menunjukkan persepsi, Golkar juara dengan 21,3 persen, PDIP 18,2 persen, Partai Demokrat 8,3 persen, Partai Gerindra  7,2 persen, PKB  5,6 persen, Partai Nasdem dengan 5,2 persen, Partai Persatuan Pembangunan  4,1 persen, PKS terpuruk ke posisi delapan  dengan 2,7 persen suara,  Partai Amanat Nasional (PAN)  1,5 persen suara dan Partai Hanura hanya mendapatkan 1,4 persen suara. Dengan demikian maka total persepsi suara adalah 54,2 persen, untuk suara massa mengambang sekitar 40 persen.

Dari hasil survei, tercatat partai yang cenderung mengalami kenaikan signifikan selama tiga tahun terakhir adalah Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, dan Partai Nasdem. Hanan menjelaskan, "Partai yang cenderung mengalami penurunan tajam selama setahun terakhir adalah Partai Demokrat dan PKS," katanya.

Menanggapi hasil survei tersebut, Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat, Jero Wacik, menyebutkan, beragam kasus korupsi yang melibatkan bendahara umum Nazaruddin dan Angelina Sondakh telah menyebabkan turunnya elektabilitas Demokrat, juga disebutkan benar atau tidak keterlibatan Ketua Umum Demokrat seperti yang terus diberitakan median  juga menyebabkan turunnya elektabilitas. Jero Wacik menggelar jumpa pers di rumahnya itu di Jalan Senayan Utama 1 Blok HI-6 No 1 Sektor 9 Bintaro, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Minggu (3/2/2013).

"Hasil survei partai terus turun dari waktu ke waktu. Kami tak ingin akhirnya benar-benar jeblok. Sudah saatnya Ketua Dewan Pembina turun tangan," kata Sekretaris Majelis Tinggi Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Jero Wacik. Dalam konferensi pers di kediamannya, Jero Wacik mengatakan, beberapa tokoh senior di Partai Demokrat menganalisis penyebab utama perkiraan jebloknya suara adalah lantaran sejumlah kasus korupsi yang menjerat tokoh-tokoh partai ini.

Keterlibatan Nazaruddin mantan Bendahara serta Angelina Sondakh menjadi penyebab turunnya elektabilitas Demokrat, juga pemberitaan terkait Ketum Partai Demokrat juga disebut punya andil bakal turunnya perolehan suara. "Yang juga menjadi bulan-bulanan pers, saya mesti terbuka, ya, ketua umum kami, Pak Anas," kata Wacik. Hasil survei telah menggelisahkan para senior Demokrat. Jika SBY tidak segera turun tangan, imbuh dia, Partai Demokrat akan berada di ambang kehancuran. "Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa nanti turun ke 6 persen, terus ke 4 persen, akhirnya malah enggak lolos threshold. Hancurlah partai kami," kata Menteri ESDM tersebut.

Kalau melihat hasil survei SMRC, kita menjadi heran, mengapa Pak Wacik baru meributkan sekarang? Sebenarnya SMRC pada hari Minggu (14/10/2012) pernah mengumumkan hasil survei sebelumnya  di Hotel Hyatt, Jakarta. Survei dilaksanakan pada 5-16 September 2012 dengan jumlah responden 1.219 yang berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah yang tersebar di Indonesia. Di mana tingkat margin of error 3 persen, tingkat kepercayaan 95 persen.

Dari hasil survei tersebut, tercatat, swing voters 50 persen, Partai Golkar berada di urutan pertama memperoleh  14 persen, PDIP kedua 9 persen, Partai Demokrat 8 persen, NasDem 4 persen, Gerindra, PKS, PKB, dan PPP 3 persen, PAN 2 persen, sementara Hanura dan partai lain yang termasuk partai Republikan 0,5 persen.

Nah, tanggapan Jero Wacik yang disampaikannya kini, nampaknya semakin menunjukkan adanya faksi antara kelompok Anas dengan kelompok lain yang menyatakan resah. Sekretaris DPD Demokrat DKI Jakarta Irfan Gani mengatakan, masalah internal partai tidak seharusnya dikomunikasikan ke pihak luar sebelum dibicarakan secara internal. "Apa yang dikatakan pak Jero Wacik itu pernyataan blunder. Seharusnya bisa cerdas dan santun dalam komunikasi politik. Mengapa tidak melalui mekanisme internal lebih dulu," kata irfan, saat menerangkan pernyataan sikap DPD/DPC PD se-Indonesia, di Jakarta, Senin (4/2/2013).

Jadi memang mengherankan apabila para elit Partai Demokrat tidak menyadari bahwa sebenarnya lima bulan yang lalu elektabilitas Partai Demokrat sudah berada di posisi 8 persen. Fakta lain dari survei menunjukkan fakta yang rasanya agak janggal. Kita bandingkan antara survei yang dilaksanakan SMRC  (5-16 September 2012) dengan survei (6-22 Desember 2012). Partai Golkar (14 menjadi 21,3 persen), PDIP (9 menjadi 18,2 persen), Partai Demokrat (8 menjadi 8,3 persen), NasDem (4 menjadi 5,2 persen), Partai Gerindra (3 menjadi 7,2 persen), PKS (3 menjadi 2,7 persen), PKB (3 menjadi 5,6 persen), PPP (3 menjadi 4,1 persen), PAN (2 menjadi 1,5 persen), Hanura (0,5 menjadi 1,4 persen).

Nah apakah elit Demokrat serta elit parpol lainnya tidak sadar dengan hasil survei tersebut? Penulis sejak pemilu 2004 terus mengikuti hasil-hasil survei, dan nampaknya sulit dipercaya, sebuah parpol persepsinya dalam tiga bulan naik demikian fantastis. Logikanya maka parpol papan atas lainnya (Partai Demokrat) lebih runtuh. Golkar dan PDIP melonjak demikian tinggi sementara Partai Demokrat justru  dari dua hasil survei tersebut naik  0,3 persen.

Kesimpulannya apabila akan diributkan, dengan mengacu survei SMRC , maka seharusnya pada 14 Oktober 2012, elite Demokrat sudah sangat resah. Atau resah yang tertunda atau mungkin tidak termonitor? Memang nampaknya tahun 2013 ini sebagai tahun panas yang harus disikapi dengan cerdas dan hati-hati. Beberapa mengalami surut, NasDem dihantam perpecahan, PKS jelas turun citranya karena Presidennya dijadikan tersangka korupsi oleh KPK, kini Partai Demokrat mulai mencuatkan adanya faksi keras diantara elitnya.

Sulit memang menjaga atau mempertahankan soliditas sebuah parpol. Yang perlu disadari para elit parpol, kemenangan pada pemilu 2014 akan banyak ditentukan oleh para swing voters yang angkanya berkisar antara 40-50 persen. Perpecahan dan gonjang-ganjing diantara elit, tanpa terasa akan membuat kader dan simpatisannya menjadi bingung, disitulah para swing voters berada. Itulah bahaya sebuah parpol.

Mereka para simpatisannya akan mudah bergeser, kecuali partai dimana kadernya sangat setia kepada patronnya, dengan catatan tidak bermasalah. Ketajaman intuisi elit diperlukan dalam kondisi ini. Apabila tidak, maka nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan parpol gurem, jelas akan menyakitkan. Disini Jero Wacik baru "ngeh" dan merasa ngeri kalau PD bisa semakin anjlog dan menjadi partai gurem.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : nasional.kompas.com

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.