NasDem makin Hebat atau Terjerembab?

28 January 2013 | 9:33 am | Dilihat : 291

Kemelut yang terjadi di NasDem baik ataupun buruk telah menjadi iklan tersendiri bagi NasDem dan Surya Paloh yang mendirikannya. Partai Nasional Demokrat ini menggelar kongres perdananya di JHCC pada hari Jumat (25/1) yang dihadiri sekitar 2000 kadernya. Sebagaimana yang biasa terjadi pada partai politik di Indonesia, kongres digelar setelah empat hari sebelumnya salah satu "back bone" NasDem, boss MNC Hary Tanoe menyatakan pengunduran dirinya.

Tidak main-main, mundurnya HT diikuti oleh Sekjen Ahmad Rofiq, Wakil Sekjen Saiful Haq, dan Ketua Internal DPP NasDem Endang Tirtana. Alasan mundurnya para tokoh tersebut dijelaskan oleh Sekjen NasDem Ahmad Rofiq, “Perbedaan yang tidak dikelola dengan baik pilihannya hanya satu, mundur. Daripada terus-menerus bermasalah di dalam partai,” katanya. Mundurnya HT kemudian diikuti oleh Ketua Partai NasDem DKI Jakarta Armyn Gultom dan Ketua DPW Partai Nasional Demokrat (NasDem) Jabar Rustam Effendi. Rustam menegaskan bahwa setelah NasDem lolos jadi peserta pemilu 2014, orang-orang lama ingin  menduduki jabatan strategis dan dia pesimis dengan restorasi perubahan yang disuarakan. Nampaknya ada konflik dirinya dengan SP, Rustam mengatakan,  "Daripada saya dimundurkan dan terhina, lebih baik saya mengundurkan diri sekarang," tegasnya.

Ditengah kemelut antar pengurus, kongres pertama NasDem tetap berjalan dengan semangat, diawali dengan pidato Ketua Umum Nasdem Patrice Rio Capella yang menyatakan mengembalikan mandat kepada Surya Paloh (SP).  Kongres akhirnya ditutup pada hari Sabtu (26/1), yang secara aklamasi menjadikan Surya Paloh menjadi ketua umum partai, kongres juga bersepakat penyusunan struktur kepengurusan seluruhnya diamanatkan kepada Surya Paloh.

Disela-sela kongres, Surya Paloh menanggapi mundurnya Hary Tanoe dengan ringan. Ditekankannya, "Saya menjadi pengusaha sejak 40 tahun lebih, bukan OKB (orang kaya baru). SP menegaskan kekuatan finansialnya sanggup menopang keberlangsungan Partai NasDem. Mundurnya  HT tak akan mengganggu Partai NasDem baik secara politik maupun finansial. Mundurnya HT, ketua Ketua DPW DKI dan Jabar dikatakan SP pengaruhnya sekecil-kecilnya. Ada kesan walau mengatakan hubungan tetap baik, SP menyindir HT dengan mengatakan dirinya bukan OKB. Itulah bahasa politik yang samar tetapi terang.

Kini timbul pertanyaan, apakah dengan terjadinya perpecahan di NasDem, partai baru ini akan makin hebat atau justru terjerembab? Beberapa pengamat mengatakan bahwa beberapa parpol, khususnya nasionalis   akan diuntungkan. Diantaranya Partai Golkar dan Demokrat. Keberhasilan SP membawa NasDem menjadi satu-satunya parpol baru yang bisa lolos selama ini sangat merugikan Golkar dan Demokrat, mengingat azas dan ideologi yang sama. Beberapa kader Golkar juga hengkang ke Demokrat, mengikuti jejak SP yang merupakan mantan tokoh besar Golkar. Tercatat nama Enggartiasto Lukita dan Oce  Kaligis yang kini bergabung, belum lagi masuknya mantan Panglima TNI, Jenderal Pur Enriartono Sutarto sebagai anggota dewan pembina.

Sebagai parpol baru, perseteruan internal yang berakar dari perebutan pengaruh antara orang lama dan orang baru, sedikit banyak akan berakibat kepada penilaian publik, khususnya pemilih nasionalis. Para kader pada umumnya sudah bosan dengan konflik yang mereka nilai hanya perebutan kekuasaan diinternal parpol dan pemanfaatan keberadaan mereka. Yang lebih parah, konflik NasDem terjadi karena adanya perebutan antara mereka yang sudah berumur dengan kelompok muda yang disuarakan oleh HT. Semestinya pendukung SP menyadari bahwa konstituen pemilu 2014 mayoritas akan berada ditataran usia 18-39 tahun.

Beberapa pengamat politik dan pengelola survei juga pesimis dengan pecahnya  pengurus NasDem. Pengamat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto memperkirakan popularitas NasDem akan merosot, karena NasDem akan kehilangan ruang publikasi secara masif. Sementara Pengamat politik dari LSI Burhanuddin Muhtadi menilai kekuatan NasDem berkurang hingga 70 persen. Dikatakannya NasDem kehilangan dukungan media besar (MNC) yang mana iklannya demikian luas. NasDem disosialisasikan oleh MNC, menarik dan mendapat sentimen positif dari publik karena berbeda dengan parpol lain, kini nasibnya tak jauh dari parpol lain yang penuh intrik. Menurut survei pada awal masuknya HT, elektabilitan NasDem sekitar 4 persen dan kemudian meningkat hingga 6 persen.

Jadi, mengapa Surya Paloh tetap mengambil alih Partai NasDem? Langkah politik tersebut menurut pakem intelijen adalah langkah pengamanan baik organisasi, informasi, personil dan kegiatan. Belajar dari kasus PKB, posisi Ketua Majel;is Tinggi bukan posisi aman bagi Surya Paloh. Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syura PKB pernah dikalahkan oleh Cak Imin sebagai Ketua Dewan Tanfidz (Ketua Umum) dalam sistem hukum Indonesia. Padahal PKB adalah parpol yang didirikan oleh Gus Dur. Karena itu langkah Surya Paloh dapat dikatakan 'sudah berada dijalan yang benar.' Dengan posisi Ketua Umum,  maka bargaining position berada ditangannya.

Tidak ada seorangpun yang dapat mengganggunya apapun langkah yang akan ditempuhnya pada masa mendatang. Terserah dia mau maju sebagai Capres, cawapres ataupun memainkan NasDem sebagai kartu penentu dalam berkoalisi. Apabila menduduki tiga besar, bisa saja Surya Paloh akan di capreskan, apabila NasDem sebagai parpol papan tengah, NasDem bisa menjadi penentu koalisi. Ini sebuah langkah catur, dimana kombinasi langkah Surya Paloh akan sabar menunggu momentum dan hasil pemilu legislatif, NasDem bisa menjadi menteri, peluncur, benteng, kuda ataupun pion yang mampu melakukan langkah brilyan pada 2014 nanti.

Jadi kesimpulannya, posisi Surya Paloh sudah on the right  track , memegang azas berpegang teguh kepada tujuan. Sementara, HT nampaknya kurang matang berpolitik, terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan politik yang justru merugikan dirinya. Kini keinginannya terjun ke dunia politik nampaknya gagal karena HT terlalu memaksakan pendapatnya. HT belum mampu mengelola konflik di internal  NasDem, sementara banyak tokoh besar politik  sekelas Enggartiasto kemudian muncul dan menjadi pesaingnya. Sulit berhadapan dengan Surya Paloh yang sudah kenyang makan asam garam, akibatnya kini dia dikecilkan di dunia politik. Bisa dimaklumi, karena pertama kali dia terjun ke politik, sebuah pembelajaran yang mahal.

Dalam bermain politik rumusnya adalah "harus mampu membaca, dia dimanfaatkan atau mampu memanfaatkan." Tidak ada yang abadi di politik itu, yang utama adalah kepentingan belaka. NasDem nampaknya tidak akan menjadi parpol yang terlalu hebat apabila dibandingkan oleh parpol-parpol seniornya, akan tetapi juga tidak akan terjerembab. Istilahnya rata-rata air, bak sejarah parpol pada waktu sebelumnya. Penulis perkirakan NasDem akan mampu melewati batas parliamentary threshold, walau tidak hebat-hebat betul. Kita tunggu langkah brilyan SP selanjutnya yang kadang mengejutkan.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : nasional.kompas.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.