Rhoma dan Cak Imin yang saling memanfaatkan

3 January 2013 | 7:49 am | Dilihat : 373

Ternyata Raja dangdut Rhoma Irama tidak main-main dengan pencapresannya. Menjelang tahun baru 2013, Sabtu (29/12/2012), Bang Haji melakukan ziarah ke makam Gus Dur di Pesantren Tebuireng Jombang. Pada saat berziarah, Rhoma didampingi Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar beserta Sekjen Helmi Faisal Zaini. Selain itu nampak juga  Ketua Dewan Syuro DPP PKB, KH Azis Mansyur beserta sekretarisnya Andi Muawiyah Ramly.

Walaupun kunjungan ke Tebuireng tersebut didampingi Ketua Umum PKB, Gus Sholah (adik Gus Dur) sebagai pengasuh ponpes Tebuireng menyatakan, "Tujuan Rhoma ke Tebuireng hanya berziarah ke makam Gus Dur. Tidak ada kaitannya dengan pilpres. Untuk soal pilpres mendatang saya tetap menjagokan Pak JK dan Mahfud MD," kata Gus Solah. Itulah posisi politik keluarga Gus Dur nampaknya.

Langkah Rhoma berziarah nampaknya senafas dengan strategi Cak Imin yang meyakini bersama Rhoma, PKB akan dapat mendongkrak perolehan suaranya pada pemilu mendatang dan mungkin dia yakin Rhoma berpeluang jadi presiden. Cak Imin khawatir,  suara PKB pada pemilu 2014 akan semakin runtuh, dan PKB tidak lolos dari sergapan parliamentary threshold.  Pada pemilu 2009, PKB hanya meraih 4,94 persen (27 kursi DPR), merosot dari perolehan 2004 yang 10,57 persen (57 kursi DPR). Karena itu siapapun Rhoma Irama, PKB menilai sosoknya mempunyai pengikut serta penggemar yang setia yang cukup besar. Kira-kira demikan cara berfikirnya.

Bang Haji ini menyatakan bahwa majunya dia karena desakan ulama dan umat. Para ulama itu, lanjut Rhoma, mengaku tidak ada lagi sosok pemimpin bangsa ini yang merepresentasikan umat Islam. "Anda telah jadi ikon dari umat, hanya Anda yang bisa persatukan umat Islam, dan hanya Anda yang bisa bawa visi dan misi umat Islam," kata Rhoma menirukan ucapan salah seorang ulama.

Ditegaskannya bahwa cap selebriti tidak membuatnya gentar berhadapan dengan kesangsian banyak pihak. "Selebriti kan boleh-boleh saja mencalonkan diri. Banyak kok contoh-contohnya. Itu sekarang cagub di Jawa Barat kan artis semua. Mereka artis, tetapi mereka berhasil bangun Jawa Barat. Jadi, status keartisan saya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemampuan saya memimpin," katanya saat dijumpai Kompas, Selasa (13/11/2012).

Yang menarik, beberapa parpol Islam tertarik dengan pencapresan Rhoma. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq menyatakan, "Rhoma Irama punya peluang jadi calon presiden. Komunitas pedangdut itu sangat besar, bahkan mengalahkan massa dari partai politik. Komunitas dangdut itu besar dan punya massa yang fanatik," ujar Mahfudz, Selasa (13/11/2012.  selanjutnya  Maffudz menegaskan, "Bisa jadi sebagian orang menganggapnya lelucon, tapi bisa jadi benaran. Indonesia itu unpredictable. Lihat saja kasus Jokowi. Jadi jangan apriori dengan Rhoma Irama. Siapa tahu ada hal baru yang ditawarkannya," katanya. PKS dikatakannya akan melihat, apakah media massa  mendukungnya.

Sekretaris Jenderal PPP M Romahurmuzy mengatakan, untuk menentukan kemenangan di pemilu, seorang calon harus mencukupi empat syarat yang ada. Keempatnya adalah keterkenalan, kesukaan, kepantasan, dan keterpilihan calon itu. "Rhoma adalah artis, dai tenar, dan terpuji sehingga soal popularitas tidak diragukan lagi. Namun, ketiga syarat lain juga harus dibangun oleh Rhoma, baru selanjutnya bicara peluang," ujar Romahurmuzy, Senin (12/11/2012) di Jakarta. Nama Rhoma juga akan dimasukkan ke dalam survei internal partai untuk melihat tingkat keterpilihannya.

Bagaimana kita melihat permasalahan Rhoma dan Cak Imin secara jernih? Yang jelas kedua sosok ini kini mencoba saling bersinergi. Di dunia politik, persoalannya hanya memanfaatkan atau dimanfaatkan. Disatu sisi Rhoma mempunyai kekuatan politis, kredibilitas dikalangan umat Islam, karena PKB yang selama ini dikenal sebagai partainya kaum Nahdliyin mau menerima dan bahkan mendukungnya. Paling tidak dia kini didukung 4,94 persen pemegang saham (PKB) di Indonesia, berimbang dengan Prabowo yang perpolnya Gerindra memperoleh 4,46 persen (26 kursi).

Bahkan Rhoma kini posisi politiknya lebih baik dibandingkan Wiranto, dimana Hanura pada pemilu 2009 hanya memperoleh 3,77 persen (18 kursi DPR).  Bahkan lebih baik lagi dibandingkan Yusril Ihza Mahendra yang partainya (PBB) tidak lolos ke Senayan, pada pemilu 2009 hanya memperoleh 1,79 persen suara. Parpol Islam selama ini tidak mempunyai ikon atau tokoh untuk diajukan ke panggung pilpres. Pada akhir-akhir ini tersiar kabar PPP mencoba menggandeng parpol Islam lainnya untuk bersatu. Para elit tersebut sadar bahwa konstituen lebih cenderung memilih  parpol nasionalis.

Dilain sisi, Cak Imin (Muhaimin Iskandar) sebagai Ketua Dewan Tanfidz PKB jelas faham dan sadar  bahwa PKB akan semakin melorot elektabilitasnya. Massa PKB ditakutkannya akan beralih ke parpol yang didaftarkan oleh putri Gus Dur Yenny Wahid bersama Kartini Syahrir, Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB). Jelas kaum nahdliyin bisa akan berpaling, beralih ke Yenny yang merupakan keturunan langsung dari pendiri PKB. Dengan demikian Cak Imin dengan cerdik mencari alternatif lain dan melihat peluang Rhoma sebagai ikon artis yang kuat pengaruhnya.

Jadi, kini semakin terang bahwa persatuan Rhoma-Cak Imin merupakan perpaduan yang saling menguntungkan, Rhoma akan dapat kredibilitas, sementara PKB secara cerdik mengharapkan akan mendapat tambahan suara dari pengikut/penggemar Rhoma. Yang jelas, persaingan pilkada Jawa Barat pada Februari mendatang akan merupakan ukuran bagi Bang Rhoma serta artis lainnya, semakin besarnya  peluang artis di panggung politik, yang merangsang artis untuk berpolitik.

Artis menang dalam popularitas, tetapi yang terukur baru untuk tingkatan pilkada. Lantas apakah keberhasilan pemilihan nasional juga akan mereka dapatkan? Menurut penulis belum tentu juga, karena masyarakat yang juga konstituen pemilu pada 2014, akan semakin cerdas. Yang mereka ukur adalah kinerja dibalik popularitasnya. Belum lagi apabila menyentuh integritas, kapabilitas, kompetensi, patronisasi, citra dan banyak lagi parameter yang harus dipenuhinya. Menjadi pemimpin nasional tidak hanya sekedar populer, bangsa ini semakin faham, rakyat butuh pemimpin yang bisa mengurus bangsa dengan 230 juta jiwa. Mantan jenderal penuhpun tiap hari mereka marahi, apakah sang artis kuat menerima tekanan dan cercaan?

Ini jelas tidak main-main, dan Cak Imin dengan cerdik mencoba memanfaatkan kondisi semu yang ada. Rhoma sebaiknya juga waspada, karena berbeda jauh ranah seni dengan politik itu. Di politik, kesetiaan hanyalah pada urutan kesekian, yang utama adalah kepentingan. Jangankan Bang Haji, Gus Dur pamannya sajapun pernah dilipatnya. Inilah gambaran politik bangsa yang sedang belajar berdemokrasi, banyak yang tricky, mau untung sendiri. PKB kini juga melirik Prof Mahfud MD dan juga berfikir mau mencalonkan Cak Imin sendiri. Lantas kemana Rhoma nantinya?

Semua boleh-boleh saja, selama dalam koridor demokrasi. Tanpa menghitung masa depan bangsa, pandangan sektoral kira-kira itu jawabannya. Kesimpulannya, kedua tokoh itu hanyalah saling memanfaatkan saja, entah siapa yang akan untung dan siapa yang akan buntung. Begitu saja kok repot (kata alm. Gus Dur kalau masih hidup begitu).

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : nasional.inilah.com

 

 

 

   
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.