Ruhut itu Macan apa Kucing?

15 December 2012 | 7:26 am | Dilihat : 528

Belum reda pemberitaan tentang Andi Mallarangeng yang dijadikan tersangka kasus Hambalang oleh KPK, mendadak berembus berita lebih meriah tentang diberhentikannya Ruhut Poltak Sitompul sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika Partai Demokrat (PD). Ruhut diberhentikan dari jabatannya berdasarkan rapat harian yang dipimpin oleh Ketua Umum PD Anas Urbaningrum. Siapa yang tidak kenal Ruhut si "Raja Minyak" yang sebelum menjadi politisi telah berkarir sebagai pengacara dan artis. Ruhut selalu menjadi bintang dalam talk show, disukai pemirsa, penghibur dan penyerang, tidak kenal takut.

Kepala Biro Publikasi, Riset dan Data Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat Prasetyo Sudrajat pada hari Kamis (13/12/2012) menjelaskan, "Artinya Ruhut sudah tidak di DPP, dia cuma anggota DPR sama sekali tidak di DPP dan tidak bisa mengatasnamakan DPP lagi," katanya. Berita yang beredar, posisi Ruhut sebagai Ketua Departemen Kominfo DPP Partai Demokrat digantikan oleh Nurul Qomar yang sebelumnya merupakan Sekretaris Departemen Kominfo DPP Partai Demokrat.

Perseteruan antara Ruhut dengan Anas terus memanas, walau serangan lebih banyak disuarakan oleh Ruhut pada beberapa acara. Ruhut meminta Anas mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, terlebih setelah Andi Mallarangeng jadi tersangka. Berita bertambah ramai setelah Ruhut diusir dari acara Silaturahmi Nasional Partai Demokrat (Silatnas) yang rencananya akan berlangsung selama dua hari di Sentul International Convention Center, 14-15 Desember 2012. Saat datang ke acara Silatnas, Jumat (14/2), Ruhut diusir oleh beberapa peserta rapat, seperti biasa Ruhut bersuara keras melawan, tapi dia akhirnya meninggalkan tempat acara.

Melihat kegaduhan internal Partai Demokrat tersebut, penulis menjadi teringat rumus politik dari salah satu pakar politik, Almarhum Matori Abdul Djalil. Beliau mengatakan, di politik itu, harus faham ilmu kucing gering. Kalau kita belum kuat dan hebat, jadilah kucing, kalau perlu jadi kucing gering (sakit), dan jangan sekali-kali mengaum seperti macan, nanti sama yang punya rumah atau penyewanya bisa dilempar sandal dan pincang. Nah kalau si politisi sudah besar dan kuat, mengaumlah, dia akan ditakuti oleh sekelilingnya.

Ruhut kini nampaknya seperti kucing, yang mencoba mengaum dan mencakar si penyewa rumah (Anas), dia tidak dibenarkan berada didalam rumah (pengurus), Ruhut diletakkan diluar rumah, karena di penyewa masih punya anggota keluarga yang ikut-ikutan melempar sandal kepada si kucing.  Ruhut nampaknya mulai pincang, dan dia kini diberitakan hanya berbicara sebagai anggota Partai Demokrat biasa. Ruhut  mengatakan bahwa Minggu ini akan menunggu bagaimana tanggapan dari pemilik rumah (SBY). Dilain sisi, Anas masih mempunyai legitimasi kuat sebagai ketua umum, dan lebih kuat lagi secara psikologis  karena Sekjen PD (Ibas yang putra Pak SBY) selalu berada disisinya.

Auman Ruhut lebih kepada "meongan" kucing yang pakai pengeras suara (media), dibandingkan auman macan yang keras dengan giginya yang besar dan tajam. Pertanyaannya, mengapa Ruhut selalu bersuara seperti itu? Apa ada yang menyuruh, atau habbitnya seperti itu. Ruhut jelas seorang yang faham dengan tindakannya, dia seorang pengacara yang mengerti hitam putihnya hukum, tetapi dia juga seorang artis yang faham memainkan perannya. Lihat saja, Ruhut selalu menyandarkan dirinya kepada Pak SBY, menyatakan setia seratus persen dan hanya tunduk kepada SBY.

Dilain sisi, negara hanya mengakui dan mengenal sebuah partai dari siapa si Ketua Umum dan Sekjen. Ketua Dewan Pembina apakah mempunyai kekuatan hukum dalam menguasai sebuah parpol? Bukti menunjukkan pada saat terjadinya kemelut jilid tiga di PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Gus Dur lumpuh kekuatan politisnya dan dikalahkan oleh negara. Negara mengakui ketua umum (Muhaimin Iskandar) yang juga disebut sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. Posisi  Gus Dur sebagai Ketua Umum Dewan Syura yang setingkat dengan Ketua Dewan Pembina Partai secara hukum kalah oleh Ketua Umum PKB.

Ketua Umum Dewan Syura hanyalah posisi internal, disitulah kekuasaannya, selama dia mampu dan masih diakui oleh parpolnya. Demikian juga nampaknya yang terjadi dengan Ketua Dewan Pembina.

Ruhut mestinya faham akan hal ini, dan kita akan tertarik melihat perkembangan Partai Demokrat kedepan. Dia terus berhadapan dengan Anas yang sedang menggalang kekuatan. Ruhut sebagai ahli hukum faham dengan apa yang dikerjakan KPK dalam menelisik Anas. Sebagai politisi yang lihai, Anas juga penyewa rumah handal yang harus dihitung benar olehnya. Nasib Ruhut tergantung kepada Pak SBY, tetapi nampaknya SBY akan menyerahkan kepada mekanisme parpol.

Kita lihat saja Partai Demokrat yang elektabilitasnya kini terus merosot drastis. Menurut beberapa lembaga survei (LSI) pada pertengahan 2012 hanya tersisa antara 11,3 hingga 12,8 persen dari sekitar 20,5 persen pada awal tahun 2011. Makin terpuruk atau bisa naik lagi, semuanya sama-sama tidak tahu. Masing-masing elit hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri, menjaga posisi, mengamankan dan menyelamatkan diri. Hingga tidak tahu siapa yang akan bisa menyelamatkan Partai Demokrat.

Posisi Ketua Umum Dewan Pembina masih kuat karena masih menjabat sebagai pimpinan Nasional, entah apabila sudah turun, bisa saja menjadi kasus mirip PKB. Di politik yang abadi adalah kepentingan pribadi dan golongan, begitu?

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : TRIBUN NEWS/DANY PERMANA

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.