David Petraeus Direktur CIA, Ketahuan Selingkuh dan Mengundurkan diri

11 November 2012 | 8:39 am | Dilihat : 446

Berita mengejutkan datang dari Amerika Serikat, David H. Petraeus, purnawirawan Jenderal bintang empat,  yang  menjabat sebagai Direktur Central Intelligence Agency (CIA) pada hari Jumat (9/11/2012) waktu setempat mengundurkan diri dari jabatannya. Pengumuman pengunduran diri yang sangat mengejutkan dilansir seminggu setelah kemenangan Barack Obama dalam pemilu. Presiden Obama dengan berat hati menyetujui permintaan pengunduran diri tersebut yang kemudian diumumkan oleh CIA.

Jenderal  Petraeus mengundurkan diri setelah FBI menemukan bukti bahwa dia terlibat dalam hubungan diluar nikah. Anggota kongres mengidentifikasi wanita yang memiliki affair dengan David bernama Paula Broadwell, penulis bukunya, yang berjudul "All In: The Education of General David Petraeus," diterbitkan pada tahun 2012. Paula yang memang cantik itu juga seorang alumnus West Point.

Secara terbuka dan layaknya seorang laki-laki dan Jenderal Petraeus yang dikenal high profile, dalam pengunduran dirinya dengan gagah berani menyatakan,  “After being married for over 37 years, I showed extremely poor judgment by engaging in an extramarital affair. Such behavior is unacceptable, both as a husband and as the leader of an organization such as ours."

Pada intinya  Davis Petraeus dalam keterangannya, mengungkapkan penyesalan atas kepergiannya yang mendadak dari jabatannya yang sangat penting itu. "Perilaku seperti itu tidak dapat diterima, baik sebagai seorang suami dan sebagai pemimpin dari sebuah organisasi seperti yang dimiliki oleh AS. Sore ini, Presiden dengan besar hati  menerima pengunduran diri saya. "

Skandal antara David Petraeus dengan Paula Broadwel terungkap setelah FBI beberapa bulan yang lalu melakukan penyelidikan adanya informasi "criminal potential matter" yang sebenarnya tidak menyangkut Direktur CIA tersebut. Dalam pengembangan penyelidikan FBI menemukan adanya indikasi dan bukti bahwa kemungkinan terjadinya kebocoran dari komputer sang direktur karena diberikannya ijin kepada seseorang untuk dapat mengakses. Dalam penyelidikan selanjutnya FBI menemukan jalur khusus, bukti hubungan skandal serta masalah keamanan lainnya.

Setelah penyidik FBI bertemu dengan Mr Petraeus sekitar dua minggu yang lalu, Direktur CIA  tersebut kemudian mengajukan pengunduran dirinya kepada Presiden Obama. Banyak pihak di AS yang menyesalkan skandal dan berakhir dengan pengunduran diri tersebut. Jenderal David Petraeus dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka yang memimpin perang di Irak pada 2007 dan Afghanistan pada 2010, kemudian dipercaya dan diangkat oleh  Presiden Obama pada bulan April 2011 menjadi Direktur CIA.

Karir Jenderal Petraeus, yang dilahirkan pada 7 November 1952, alumnus West Point Angkatan 1974, kemudian berhasil meraih gelar doktor dalam hubungan internasional dari Princeton University's Woodrow Wilson School of Public and International Affairs. Petraeus memimpin Divisi Airborne ke-101 selama invasi Irak pada tahun 2003, itu tugas tempur pertamanya. Dia dianggap sebagai pemimpin yang inovatif dan efektif. Karirnya terus bergulir, dan demikian menonjol sejak 2007 saat dia diangkat memegang komando Pasukan Multi Nasional di Irak. Pada bulan November 2008, Jenderal Petraeus mengambil alih Komando Sentral. Dia mengawasi operasi militer di Irak dan di Afghanistan, serta kawasan strategis yang mencakup Pakistan, Iran, Suriah, Lebanon, Arab Saudi dan bekas republik Soviet di Asia Tengah.

Jenderal Petraeus bahkan pernah disebut pantas sebagai salah satu jenderal calon presiden AS. Di Amerika tercatat ada sembilan jenderal yang pernah menjadi presiden, yaitu George Washington, Andrew Jackson, William Henry Harrison, Zachary Taylor, Franklin Pierce, Ulysses S. Grant, James A. Garfield, Benjamin Harrison dan Eisenhower.

Jenderal Petraeus pensiun pada akhir Agustus 2011 setelah 37 tahun bertugas di Angkatan Darat. Pada upacara pensiun yang diadakan  di Fort Myer, dekat Arlington National Cemetery, ia berpendapat bahwa  militer agar tetap berpegang dengan strategi kontra pemberontakan yang selama ini telah dilaksanakan. Dia menegaskan dalam pidatonya, "“we have relearned since 9/11 the timeless lesson that we don't always get to fight the wars for which we're most prepared or most inclined.''

Dari kasus pengunduran diri itu, apa pelajaran yang dapat dipetik? Pejabat atau pemegang amanah adalah seseoranmg yang dipercaya oleh bangsanya untuk mengabdikan diri membangun bangsa dan negaranya. Dalam sebuah sistem demokrasi liberal di AS, keterbukaan sudah menjadi hal yang baku, biasa mereka lakukan. Pejabat tanpa malu akan mengundurkan diri apabila diketahui melakukan tindakan tercela, seperti istilah gangguan tahta, harta dan wanita. Nah, Jenderal Petraeus yang memegang jabatan sangat penting dan prestisius akhirnya runtuh karena skandal wanita.

Yang menjadi titik penting dari kasus tersebut adalah jabatannya sebagai Direktur CIA, sebagai pelaksana intelijen yang dipercaya menangani isu terorisme sebagai ancaman utama AS. Jabatan tokoh kunci khususnya intelijen dalam beberapa kasus akan dapat dibobol oleh lawan intelijen lainnya dari dua titik rawan harta dan wanita. Disaat itulah pejabat biasanya lengah dan mudah dikendalikan/dicuri informasi rahasia negara yang dipegangnya. Yang pasti, Amerika kini merugi karena kehilangan salah satu pejabat terbaiknya yang dipercaya oleh presidennya.

Oleh karena itu, sebaiknya para pejabat di Indonesia harus jauh lebih berhati-hati dalam mengemban amanah, dan kita patut mencontoh AS, setiap pejabat penting sebaiknya semakin mawas diri. Bagi mereka yang terlibat dalam dua kasus (harta dan wanita) sebaiknya mengundurkan diri. Kesadaran security sangat diperlukan bagi pejabat, mereka harus lebih fokus dan tidak menyederhanakan dua masalah tadi yang akan merugikan diri, instansi dan bahkan negaranya.

Beberapa waktu terakhir ada pejabat tinggi kita (Menteri) yang masuk berita miring media (infotainmen), dan akhirnya dapat diselesaikan karena memang kompromi mudah dilakukan disini. Di Indonesia, masalah harta serta wanita bukan masalah yang mematikan karir seseorang.  Sudah bukan budaya lagi tetapi nampaknya bergeser menjadi komoditas. Semoga sadar sekuriti lebih dicanangkan di Republik yang kita cintai ini.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : Jenderal Petraeus saat dilantik sebagai Direktur CIA, didampingi isterinya Holly (Wired.com)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.