Gubernur DKI Itu Namanya Mas Jokowi

21 September 2012 | 6:58 am | Dilihat : 448

Akhirnya pasangan Jokowi-Ahok menurut quick count beberapa lembaga survei memenangkan persaingan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Kemarin, Kamis (20/9), rakyat Jakarta mengunjungi TPS, memilih dan menyoblos jagonya pada putaran kedua pilkada.

Hasil Quick Count adalah; LSI-TV One: Jokowi-Ahok 53,68%, Foke-Nara 46,32%. Indo Barometer-Metro TV: Jokowi-Ahok 54,11%, Foke-Nara 45,89%. LSI-SCTV: Jokowi-Ahok: 53,81%, Foke-Nara 46,19%. Kompas: Jokowi-Ahok: 52,97 %, Foke-Nara 47,03%. MNC Media-SMRC: Jokowi-Ahok 52,63, Foke-Nara 47,37%. Dengan demikian walau baru merupakan quick count, masyarakat sudah diberi keputusan bahwa Jokowi-Ahok yang menang, dan kecil kemungkinannya Foke-Nara untuk menang.

Sebelumnya dengan agak takut-takut, beberapa lembaga survei menyampaikan hasil surveinya yang menyatakan bahwa hingga beberapa hari terakhir sebelum penyoblosan, posisi kedua pasangan tersebut masih berimbang, dengan catatan Jokowi masih agak sedikit diatas angin. Lembaga survei agak segan menyatakan siapa yang berpeluang besar akan menang.

Apa sebenarnya yang membuat Jokowi menang? Seperti yang penulis sampaikan pada beberapa ulasan terdahulu, bahwa peran media sangat besar dalam menentukan sebuah pemilihan langsung. Media memegang peran yang disebut "silent revolution," mampu memengaruhi pemirsa dan pembaca. Nah, kali ini Jokowi menjadi sosok yang disukai media, menjadi ikon yang menarik untuk diberitakan, laku dijual. Disitulah para pemilih rasional menjadi penentu kemenangan (http://politik.kompasiana.com/2012/09/15/pemilih-rasional-akan-menentukan-foke-atau-jokowi/).

Peran media jauh diatas peran jejaring partai dalam memengaruhi konstituen. Foke yang didukung partai besar dan jumlahnya banyak tidak berhasil menang. Upercut terakhir Jokowi yang membuat TKO Foke terjadi pada hari Minggu (16/9), saat kampanye terakhir, pada acara debat di Metro TV. Baca  ulasan penulis,  http://ramalanintelijen.net/?p=5731. Kasus pilkada DKI ini dan peran besar media menurut penulis menjadi sebuah fakta bagi peminat yang akan maju dalam pemilihan langsung, baik dalam konteks pilkada ataupun pemilu nasional. Hanya tinggal menilik, siapa pemilik media pada 2014 nanti.

Mas Jokowi, bukan Bang Jokowi  demikian penulis memanggil, kini akan menjadi Gubernur dengan gaya, bahasa tubuh dan tekanan bahasanya yang khas Jawa. Masyarakat Betawi membuktikan bahwa memang keberadaan penduduk Jakarta adalah majemuk. Tidak ada kekuatan primordial yang terlalu mendominasi Jakarta sebagai kota metropolitan. Ini sebuah bukti keberhasilan penerapan demokrasi di Ibukota sebagai barometer Indonesia. Hidup bersama, cari makan sendiri-sendiri , tapi membangun bangsa bersama, itulah Jakarta.

Isu ataupun kaitan politik dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta memang sangat erat kaitannya. Isu SARA yang sempat membuat ramai masyarakat juga tidak mampu menumbangkan Jokowi-Ahok. Rakyat nampaknya mencoba mencari jalan keluar terhadap himpitan dan tekanan hidup di kota yang sering membuat lelah rohani bagi siapapun, khususnya saat berlalu lalang. Nah, banyak yang bertanya setelah ini apa? Semoga cara pandang dan berfikir Mas Jokowi yang sederhana dan merakyat mampu memecahkan kebuntuan Jakarta yang penulis sebut sebagai kota Rahwana (http://ramalanintelijen.net/?p=5584 ).

Siapa yang beruntung dengan kemenangan Jokowi-Ahok? Dari sisi politik, PDIP dan Gerindra jelas yang akan beruntung, sebagai oposisi dari partai penguasa, kedua partai ini kini mulai berkibar. Gubernur DKI banyak disebut sebagai RI-3, itulah kekuatannya. Pada Pemilu 2004,  dari 75 kursi,  PKS meraih  (24), Partai Demokrat (16), PDIP (10), sisa kursi terbagi pada  Partai Golkar, PPP, PAN, dan PDS. Pada Pemilu 2009, dari 75 kursi, Partai Demokrat menguasai 32 kursi, PKS (18), PDI-P (11), Partai Golkar (7), PPP (7), Partai Gerindra (6), PAN (4), PDS (4), Partai Hanura (4), dan PKB (1). Dengan Jokowi sebagai Gubernur dan kader PDIP, sangat mungkin perolehan suara PDIP dan Gerindra akan naik.

Selamat bertugas Mas Jokowi dan Ahok, semoga sukses dalam lindunganNYA. Perlu diingat bahwa birokrasi di Jakarta ribet dan sulit serta panjang. Mental pemda kini sebaiknya menjadi prioritas utama untuk dibenahi, semoga kuat dan tahan menghadapi banyaknya "reman" baik yang dijalan maupun yang berdasi. Jakarta menunggu.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : seruu.com

 

 

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.