Pondok Yang Meledak di Depok itu Safe House Teroris

9 September 2012 | 8:36 am | Dilihat : 432

Warga kota Depok kembali dikejutkan dengan terjadinya sebuah ledakan yang cukup keras dan patut diduga sebuah bom, terjadi pada hari Sabtu (8/9) sekitar pukul 21.05 WIB. Ledakan terjadi di  Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jl Nusantara Raya 63, Depok Utara, Jawa Barat. Di luar halamannya terpampang tulisan klinik herbal, bekam, dan Ruqyah. Tak lama berselang setelah terjadinya ledakan, warga melihat dua orang berlari keluar dari bangunan yang meledak tersebut. Selain itu warga juga melihat sebuah mobil jenis Kijang warna hitam yang berisi beberapa orang  meninggalkan lokasi. Warga yang pertama tiba di lokasi mengatakan di dalam rumah terdapat lima orang yang segera di evakuasi.

Tim Gegana yang diturunkan untuk melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara)  menemukan dua buah senjata api jenis pistol serta sejumlah bahan peledak. Kepala BNPT Ansyaad Mbai menyatakan, "Ditemukan dua senjata api, satu pistol pietro beretta tetapi tidak ada tulisan PNP, dan satu senjata api seperti pistol pinggang lengkap dengan peredamnya," katanya saat dilokasi kejadian, Minggu (9/9/2012). Menurutnya, pistol berukuran panjang yang ditemukan lengkap dengan peredamnya tersebut merupakan senjata api rakitan. "Tetapi kemungkinan itu rakitan luar negeri," jelasnya.

Menurut beberapa saksi mata ditempat kejadian, ada empat orang yang terluka, satu luka ringan, dua luka parah dan satu kritis.  Satu orang laki-laki penghuni gedung mengalami luka kritis.Tangan kirinya hancur hampir putus dan badannya penuh luka bakar. Korban yang kritis menurut informasi kemudian meninggal dunia.  Keempatnya kini telah di evakuasi ke RS Polri Kramat Jati. Menurut tetangga, Rumah kontrakan itu memiliki tiga petak untuk disewakan. Sebelum dipasangi papan bertuliskan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, tempat tersebut diketahui sebagai tempat pengobatan alternatif. Warga tidak melihat adanya anak yatim di pondok tersebut, dan korban yang kondisinya kritis diperkirakan baru menempati rumah tersebut sekitar 2 bulan yang lalu.

Terjadinya ledakan di Depok kemarin malam cukup mengejutkan warga Depok, karena hari Rabu (5/9) , pukul 06.00 Densus 88 telah berhasil  menangkap Firman, tersangka jaringan terorisme Solo . Firman (20) ditangkap  dirumah saudaranya di Taman Anyelir II Blok E1No 1, RT 02/010, Kali Mulya, Cilodong, Depok.

 

Depok Kota yang Disukai Teroris Selain Solo

 

Pertanyaannya apa dan kenapa Depok, inilah yang perlu dicermati dan dijawab. Depok sejak lama merupakan kawasan yang menjadi favorit kelompok teroris untuk bertempat tinggal sementara sebelum melakukan aksinya. Tempat tersebut dalam bahasa intelijen dinamakan "safe house." Beberapa kasus yang terkait dengan ulah teroris terjadi sejak Tahun 2004.

Sembilan tersangka jaringan teroris Cimanggis Depok diadili dan divonis tujuh tahun penjara pada 2004. Sembilan orang ini merupakan murid dari Ustad Haji Oman Rochman alias Aman Abdurachman bin Ade Sudarma (32), yang juga sudah ditangkap dan dipenjara di LP Sukamiskin. Oman juga divonis Pengadilan Cibinong selama tujuh tahun penjara pada 2 Mei 2005. Oman dengan orang-orang pengajiannya melakukan latihan-latihan fisik dan mengadakan pelatihan merakit bom serta pelatihan bongkar pasang senjata api jenis FN.

Pada Mei 2011, Densus menangkap tiga teroris jaringan Depok yang juga penyuplai senjata api ke beberapa kelompok teror. Saat itu ditemukan beberapa pucuk senjata api berbagai jenis pada kelompok Depok ini. Dalam operasi penyergapan, Densus 88 telah menangkap Mardiansyah, Zulkifli Lubis, dan Eko Ibrahim sebagai penyuplai senjata api dan amunisi kepada kelompok JAT Cirebon dan Hisbah pimpinan Sigit Qurdowi di Solo. Sigit tewas pada operasi penangkapan yang dilakukan Densus 88 bersama pengawalnya, Hendro Yunianto, pada bulan yang sama.

Pada November 2011, Densus melakukan penyisiran di hutan UI dan menemukan satu senjata laras panjang, dua senjata api jenis FN, dan 20 butir peluru. Pada November 2011, Densus juga melakukan penyisiran di hutan UI dan menemukan satu senjata laras panjang, dua senjata api jenis FN, dan 20 butir peluru. Penyisiran dilakukan di hutan UI yang berada di sebelah timur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ketika itu, pasukan antiteror tidak berhasil menemukan senjata dan amunisi. Pada penyisiran Kamis (9/2/2012) di hutan yang sama dan lokasi berbeda itulah, Densus menemukan senjata tersebut.

Penemuan senjata api di kawasan hutan alam Universitas Indonesia, Depok, terkait dengan kelompok Abu Omar. Polri menemukan menyusul penyerahan diri seorang yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) teroris di kawasan itu. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, seorang DPO tersangka teroris berinisial M, Rabu (8/2), menyerahkan diri dan melaporkan mengenai penyimpanan senjata di kawasan hutan di daerah Depok."Setelah ditelusuri dan dicek langsung oleh tim di lapangan, ternyata benar. Telah ditemukan satu pucuk senpi jenis Jungle dan FN," kata dia di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/2).

M, menurut Saud, adalah bagian dari kelompok Abu Omar, kelompok teroris spesialis penyelundupan senjata api untuk para teroris. M adalah orang yang memindahkan senjata-senjata dari lokasinya semula, sehingga polisi waktu itu tidak berhasil menemukan pencarian senjata di kawasan hutan Depok. Dari informasi di kepolisian, inisial M disebut-sebut sebagai Mulya, anggota jaringan kelompok Abu Omar. Senjata ditemukan di sekitar 200 meter dari Fakultas Teknik UI.

Pada hari Sabtu (12/11/2011)  Densus 88 Mabes Polri menangkap tiga orang buron kasus terorisme dari jaringan Abu Omar di Tangerang, Banten. Ketiga yang ditangkap berinisial DAP (34) berstatus pekerja swasta asal Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, BH alias D (35) sebagai pekerja swasta, serta A (32) asal Karawaci, Tangerang. Sementara dalam aksi penangkapan itu, petugas terpaksa menembak kaki A karena terduga teroris tersebut membawa senjata api jenis M-16. Ketiganya dikenal sebagai bagian jaringan Depok. Dari hasil pemeriksaan, petugas mendapatkan pengakuan dari BH alias D yang pernah menerima dua pucuk senjata api jenis laras panjang  dan pistol FN, beserta 20 butir peluru dari Abu Omar.

Abu Omar  termasuk tokoh yang berpengaruh dan seorang pimpinan jaringan, dialah  orang yang membaiat pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz- Dzikra,  Polres Cirebon,  Muhammad Syarif Astanagarif, dan juga membaiat pelaku bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo, atas nama Pino Damayanto alias Achmad Yosepa Hayat. Abu Omar merupakan eks napi bom Cimanggis dihukum juga karena menjadi tersangka kasus teror di Aceh.

Dari Abu   Omar, Syarif dan Hayat mendapatkan doktrin yang antara lain pembenaran terhadap aksi perampokan untuk mendukung pendanaan kegiatan fai atau kejahatan untuk pembiayaan aksi teror, lalu penghancuran terhadap masjid-masjid yang mereka anggap dibangun oleh orang-orang yang tidak berdasar kepada hukum Allah. Lalu memerangi orang kafir yang tidak berhukum kepada Allah, termasuk Pemerintah RI dan aparatnya.

Nah, terjadinya ledakan kemarin malam kembali di kawasan Kota Depok nampaknya memang harus diwaspadai oleh aparat keamanan, karena Depok adalah kota yang berbatasan dengan Jakarta sebagai Ibukota. Selain itu terbongkarnya pembuatan bom di Tambora oleh pelaku yang bernama M Thoriq masih menyisakan pertanyaan. Persoalan kedua kasus bom di Tambora, Depok serta jaringan Solo berkaitan ataupun tidak jelas akan dijawab oleh pihak kepolisian dan BNPT dalam waktu yang tidak lama lagi.

Bom tersebut dibuat oleh sebuah kelompok yang sangat patut diduga sebagai pelaku teror, baik di Depok maupun di Jakarta. Beberapa penyerang militan terhadap polisi di Solo  berusia relatif masih muda itu bertempat tinggal atau memilih safe house di Jakarta dan di Depok. Nampaknya indikasi ancaman teror terhadap Jakarta menjadi semakin nyata. Kepala BNPT juga pernah menyebutkan rencana teroris pelatihan Poso yang akan menyerang DPR RI, dan sudah disampaikan peringatan kepada pimpinan DPR RI.

Oleh karena itu bukan tidak mungkin, saat mendatang  teroris merencanakan penyerangannya,  selain kepada polisi, DPR serta juga menyerang pada saat dilaksanakannya pesta demokrasi, pemilihan Gubernur DKI yang merupakan momentum kuat untuk mendapatkan gaung  yang kuat. Karena itu, mari kita tingkatkan kewaspadaan bersama, mulai dari RT, RW serta melibatkan kepedulian organisasi massa lainnya. Paling tidak kita bersama dapat mengantisipasi dan meminimalisir ancaman teror, serta aparat mampu menghilangkan stigma "kecolongan." Semoga bermanfaat.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : tribunnews.com

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.