Masih Bisa Menangkah Bang Foke ?

29 August 2012 | 10:00 pm | Dilihat : 586

Begitu hasil quick count putara satu Pilkada DKI ditayangkan di media elektronik, banyak kejutan yang terjadi. Ada tokoh besar dengan dukungan partai besar yang langsung rontok dan dikalahkan oleh calon independen. Yang pasti kubu Bang Foke sang incumbentpun juga menjadi sangat terkejut, perolehan suaranya runtuh dibawah Mas Jokowi.

Mereka yang didukung parpol besar pada awalnya demikian optimis, karena beberapa lembaga survei meramalkan Bang Foke akan menang pada putaran pertama, bahkan Lingkaran Survei Indonesia  berani memprediksi calon petahana Fauzi Bowo akan menang mudah hanya dalam satu putaran.

Setelah hasilnya jauh berbeda, kini pada putaran kedua, nampaknya lembaga-lembaga survei tersebut menahan diri.  Toto Izzul Fatah, peneliti Lingkaran Survei Indonesia  mengatakan bahwa pihaknya tetap akan melakukan survei pada putaran kedua ini tapi hanya untuk keperluan kajian internal. "Survei yang akan kami lakukan hanya untuk internal. Tapi kami tetap akan melakukan quick count pada 20 September nanti," kata Toto, Rabu (29/8/2012). Dikatakannya LSI tidak merilis hasil survei pada putaran kedua ini karena ada pertimbangan strategis dari pihaknya. Salah satunya adalah pergerakan suara di Jakarta yang tidak terfokus pada satu calon.

Diprediksikan oleh LSI , pada hari H-10 hingga H-7 akan ada pergerakan suara yang cukup besar, khususnya dua calon pada putaran kedua tersebut.  “Manuver Foke yang kontraproduktif seperti marah dan terpancing emosi itu tidak terpotret dalam survei. Begitu juga dengan media yang lebih positif pada Jokowi. Padahal, media dominan dalam membangun opini. Itu fakta yang tidak bisa kita hindari dalam pembentukan opini hingga H-7,” tuturnya. Ditegaskannya, ada masalah terutama karakter pemilih DKI yang berbeda dengan daerah lain.

Terlepas dari akurat ataupun kurangnya akurasi penyurvei pada putaran pertama, hasil survei tetap merupakan salah satu cara terbaik yang umum dipergunakan di negara manapun yang akan melakukan pemilihan umum langsung. Walaupun hasilnya berupa persepsi publik, dari pengalaman menulis artikel sejak 2004, penulis selalu menggunakan hasil survei dari Lembaga survei yang penulis ikuti dan yakini bukan asal survei dan bukan pesanan citra.

Sedikit informasi dari LSI, dikatakannya bahwa upaya Foke dalam menetralisir sikap kurang simpatiknya   yang disebabkan karena sifat pemarah dan emosional ternyata tidak memberikan hasil peningkatan dukungan persepsi publik. Sementara dukungan positif media kepada Jokowi-Ahok nampaknya membawa hasil yang cukup signifikan. Penulis percaya bahwa persepsi publik kepada Jokowi meningkat pesat, kemungkinan sudah diatas 50 persen, mengacu hasil putaran pertama yang 42,69 persen, sementara  itu pasangan Foke-Nara yang pada putaran pertama meraih 34,58 persen mungkin akan masih berkisar disekitar angka 35 persen, dimana sekitar 15  persen adalah masa mengambang.

Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis)  menyatakan berani melakukan survei dan akan mengumumkan hasil survei pemilukada putaran kedua yang telah dilakukannya sebelum hari Lebaran kepada publik. Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid menegaskan pihaknya akan tetap mengumumkan hasil survei tersebut kepada publik dalam waktu dekat ini. Dengan demikian, dia memastikan Puskaptis akan menjadi lembaga survei yang pertama merilis hasil survei kepada masyarakat. Setelah pengumuman pertama, Puskaptis akan kembali melakukan survei yang keduanya.

Nah, dari beberapa informasi yang dalam bahasa intelijen baru berupa informasi, belum menjadi sebuah intelijen (informasi yang sudah diolah), sekilas nampak posisi Bang Foke-Nara sementara ini diperkirakan masih tetap berada dibawah pasangan Jokowi-Ahok, baik popularitas, citra maupun elektabilitasnya. Memang saat ini vonis tidak dapat diputuskan begitu saja, intuisi penulis mengatakan hasilnya memang demikian. Jokowi unggul dengan dukungan media yang selalu penulis sebut sebagai "Silent Revolution," atau sebuah revolusi senyap yang mampu mengalahkan jejaring partai yang kini menjadi koalisi besar dibelakang Bang Foke. Revolusi kerinduan publik Jakarta yang karakternya demikian unik dan ditakuti hingga membuat gamang lembaga survei, telah mampu merusak hasil survei pada putaran pertama. Selain itu menurut Toto dari LSI,  dalam kasus pemilukada putaran pertama lalu ada beberapa faktor yang bersifat anomali.

Jadi Bang Foke akan kalah kah? Nampaknya berat untuk mengejar keberpihakan penduduk Jakarta kepada pria Solo itu?. Yang akan meledak beritanya adalah apabila Puskaptis merilis hasil surveinya yang dikatakannya dua kali dilaksanakan. Nampaknya kita bersama wajib menunggu hasil tersebut, karena hingga saat ini publik masih buta dengan gambaran kondisi riil di lapangan. Yang ada hanyalah spekulasi buta dan keyakinan semu belaka masing-masing pihak.

Dari pengamatan penulis terhadap beberapa tanggapan publik baik di Kompasiana ataupun di Detik, terlihat bahwa lebih dari 85 persen kepercayaan publik  sudah menumpu ke Jokowi-Ahok. Dalam hal ini, walau tanggapan tersebut akurasinya belum dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, tetapi trend dari kelompok pendukung Jokowi semakin besar dan militan, bahkan cenderung fanatis. Foke masih akan menang dan pasti menang, apabila Tuhan Yang Maha Kuasa memang menentukan dia dengan Nara sebagai cawagubnya diputuskan untuk memangku amanah itu.

Yah, kita lihat nanti, seperti dikatakan LSI, pada H-10 hingga H-7 akan ada pergerakan suara yang cukup besar (?), yang diperkirakan merupakan peluang Foke, apabila mampu dimanfaatkan oleh Timsesnya. Semoga ulasan yang sederhana dan ringan ini ada manfaatnya bagi pembaca,  Salam.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : thejakartaglobe.com

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.