Jokowi, Foke dan Rahwana dalam Ilmu Kepemimpinan

23 August 2012 | 1:58 pm | Dilihat : 1231

 

Sekitar 28 hari lagi penduduk DKI Jakarta akan mendatangi bilik suara yang dikenal sebagai TPS  (Tempat Pemungutan Suara) untuk memilih Gubernurnya. Konstituen hanya akan memilih salah satu,   pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli atau pasangan Joko Widodo-Basuki T.Purnama. Dalam beberapa waktu terakhir ini, penduduk Jakarta dibuat gelisah dan jadi merasa kurang nyaman karena adanya hembusan isu primordial,  ditebarkannya  isu SARA antara Islam dan Kristen serta antara pribumi dengan warga negara keturunan (China). Di jaman demokrasi bebas seperti sekarang, untuk mencapai tujuannya, politik sering menggunakan cara-cara yang  bisa mengorbankan rasa persatuan dan kesatuan yang mulai luntur. Tapi yah, itulah politik yang kini menjadi panglima di Indonesia.

Sementara kita lupakan dahulu isu SARA tersebut, karena Jakarta adalah Ibukota dimana masyarakatnya sudah faham dengan geliat politik yang lengkap dengan segala  akal bulusnya. Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny) , putri Gus Dur, dimana almarhum ayahnya yang mantan presiden dan  dikenal sebagai tokoh besar Islam pluralis memberikan pandangan menarik soal isu tersebut. Yenny yang juga Direktur Wahid Institute  mengatakan, melalui isu SARA akan menunjukkan karakter dan rekam jejak calon yang dizalimi dengan isu tersebut. “Saya percaya masyarakat DKI merupakan masyarakat yang rasional dalam memilih pemimpin. Itu yang paling terpenting.”

Nah, penulis mengajak pembaca untuk memilah, siapa sebenarnya orang yang cocok untuk memimpin Jakarta. Dimana penulis mencoba menggunakan parameter ilmu kepemimpinan.

 

Jakarta itu Apa?

 

Saat penulis maju sebagai salah satu calon gubernur independen, saat itu  bersama Bang Faisal Basri, penulis bertemu dengan Didi Petet yang sangat kita kenal. Didi menanyakan, sebagai anak Betawi Kemayoran, bagaimana Bang Pray melihat Jakarta? Penulis mengatakan, ini sebuah kota besar, ibukota negara, jatuh bangunnya pemerintah penguasa banyak ditentukan di Jakarta. Kota yang penuh sesak, macet, kadang banjir dimana-mana, kejahatan lumayan tinggi. Apa-apa mahal.

Penduduknya banyak yang egois individualis,  tidak peduli sesamanya, selain banyak orang kaya tak terkira, penduduk DKI yang masuk dalam kelompok miskin, hidup di daerah kumuh juga banyak. Kesenjangan sosial bak bumi dengan langit.  APBD-nya besar sekali, tetapi rasanya ya begitu-begitu saja, kenyamanan di jalan raya hampir tidak ada membosankan dan sumpek. Nyaman hanya terasa dalam mall yang ruangannya berpendingin. Kesejahteraan rakyat rasanya tidak tersentuh (Atau Foke tidak mampu menyosialisasikan hasil pekerjaannya?). Kalau ngurus apa-apa mesti bayar. Pokoknya mirip sebuah hutan, dimana kalau mau hidup disini ya harus cerdik, kalau tidak mau tersesat dan bisa menjadi jahat. Itu yang penulis katakan pada Didi.

Didi Petet tersenyum dan mengatakan, kalau begitu, bagaimana kalau kita umpamakan Jakarta itu seperti Rahwana? Penulis termenung, rasanya benar juga. Jakarta kota yang besar bak raksasa ganas, kejam dan kadang mau mengambil yang bukan miliknya. Oleh karena itu kita harus menyikapi dengan benar dan cerdik apabila akan hidup di Jakarta. Apabila kita tidak mau terpinggirkan. Nah, si pemimpin Jakarta (baca Gubernur) mestinya harus jauh lebih faham hidup bersama dengan Bang Rahwana tadi.

Melihat Jakarta sebagai Rahwana, kemudian banyak yang meng-underestimate Jokowi, termasuk beberapa petinggi bangsa ini yang penulis kenal. Jokowi katanya baru sekelas tokoh lokal, produk pemimpin Jawa yang akan berat menghadapi penguasa DKI diluar tokoh formal. Mereka dalam bahasa intelijen disebut  key informal individual. Kelompok penguasa tadi  berasal dari berbagai suku yang keras kata si pejabat tadi. Mampukah Jokowi mengatasi mereka? Jangan-jangan Jakarta makin amburadul kata mereka.

Akhirnya ada kelompok (ya politisi itu), yang memutuskan, sudahlah, kita pilih Foke saja yang sudah mengenal Jakarta. Yang lainnya bertanya, apakah ada jaminan akan adanya perubahan di Jakarta kalau Foke memimpin lagi lima tahun? Itu pertanyaan mendasar. Konflik antara Foke-Priyanto nampaknya dilatar belakangi  persoalan Rahwana juga.  Mungkin Foke faham dengan Rahwana tadi, kalau dia menang kali ini, beranikah dan mampukah dia menjinakkan Rahwana atau justru berkolaborasi? Silahkan dibantu renungan penulis tentang Jokowi, Foke dan Rahwana itu.

Mari kita ukur secara lebih mutu sedikit (walau penulis juga ilmunya standard, bukan kelas Doktor). Penulis melihat bahwa kepemimpinan yang terprogram dan harus dijalani secara berjenjang adalah di militer. Berlaku di seluruh dunia, militer ya sama dalam menentukan siapa pemimpin mulai tingkat satuan bawah hingga panglima perang tertinggi. Dari beberapa referensi, diantaranya dari US Army, penulis mencoba mengukur Foke dan Jokowi, maksudnya pemimpin DKI harus siap menghadapi medan perang yang selama ini Gubernurnya selalu kalah. Musuhnya adalah ketidak nyamanan warga, bentuknya macam-macam.

 

Konsep Kepemimpinan

 

Pemimpin adalah sebuah produk, artinya dia memang dibentuk dan bukan dilahirkan. Jika seseorang memiliki keinginan dan kemauan, seseorang dapat menjadi seorang pemimpin yang efektif. Pemimpin yang baik berkembang melalui sebuah proses  yaitu pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Untuk menginspirasi para pegawai ke tingkat yang lebih tinggi dalam sebuah kerja sama tim, ada beberapa hal yang harus dikatahui dan lakukan. Hal itu tidak datang dengan sendirinya secara alami. Si pemimpin yang baik harus terus bekerja dan belajar. Dalam konteks politik, mereka tidak beristirahat setelah meraih kemenangannya.

Kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang harus mampu memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan dan mengarahkan organisasi dengan cara dan strateginya yang membuat lebih kohesif dan koheren. Menurut Northhouse, kepemimpinan adalah suatu proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama.

Empat Faktor Kepemimpinan. Penulis mengambil referensi empat faktor kepemimpinan yang sukses diterapkan oleh US Army, 1983. Empat faktor tadi adalah, pemimpin (leader), pengikut (follower), komunikasi (communication) dan situasi (situation).

Pemimpin. Seorang pemimpin harus memiliki pemahaman yang jujur ​​tentang siapa dirinya, apa yang dia ketahui, dan apa yang dapat dia lakukan. Juga, perhatikan bahwa yang dipimpin  itu adalah pengikut. Jika mereka tidak percaya atau kurang percaya kepada pemimpin mereka, maka mereka sama sekali tidak akan bersemangat. Untuk menjadi sukses, anda harus meyakinkan pengikut Anda, bukan diri sendiri atau atasan anda, bahwa anda layak diikuti. Dalam konteks Gubernur DKI, siapa yang  dipercaya konstituen (rakyat) Jakarta, Foke atau Jokowi? Ini salah satu kunci. Bahas gaulnya, kalau sudah tidak dipercaya ya dia siap-siap ke "laut."

Pengikut. Orang yang berbeda disebuah organisasi atau tempat, memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda. Si Pemimpin  harus tahu orang-orang yang dipimpinnya. Titik awal yang mendasar adalah memiliki pemahaman yang baik tentang sifat manusia, seperti kebutuhan, emosi, dan motivasi. Dalam organisasi, pemimpin  harus datang untuk mengetahui karyawannya, mencoba mencari tahu dan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dalam konteks pilkada DKI, maka cagub/cawagub harus faham tentang kondisi serta karakter masyarakat Jakarta, dan mengetahui apa kebutuhan mereka. Si pemimpin perlu faham dengan yang namanya empatiEmpati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan kebutuhan mereka. Dalam teori kepemimpinan, sebuah bisnis di mana rasa empati tersebar luas, bisa dipastikan bisnis itu akan selalu sukses.

Nah, diantara Foke dan Jokowi, siapakah kini yang dinilai memiliki empati lebih besar? Nampaknya Foke kalah jauh dari Jokowi. Foke dalam putaran kedua disarankan oleh team suksesnya secara terbuka agar lebih sering turun kebawah, dan itu kemudian dilakukannya. Hanya Foke melakukan blunder, terasa kurang empatinya justru  saat berkunjung ke lokasi kebakaran, dinilai kurang memahami perasaan orang lain, bahkan mengeluarkan kata-kata sensitif saat orang susah. Hal tersebut justru merugikannya sendiri, dan tersebar luas. Ini titik lemahnya dibandingkan Jokowi yang demikian merakyat. Pembentukan opini dikalangan rakyat miskin dan orang susah jelas akan menyentuh publik yang tidak terlibat langsung.

Pemimpin mestinya sadar bahwa  kepribadian dinamis, keterampilan manajemen yang baik dan kemampuan mendengarkan yang efektif yang menjadi bagian penting sebuah kesuksesan bukan sebuah kunci suksesnya dalam memimpin. Para ahli menyatakan  kualitas yang diperlukan pemimpin adalah perasaan empati.

Menurut para ahli, empati dibangun di atas tiga perilaku yaitu;

- Memahami dan menerima  keterbatasan dirinya.

- Mendengarkan orang lain dan belajar tentang kehidupan pribadi mereka dan tantangan

- Melihat kepemimpinan sebagai suatu cita-cita mulia (Looking at leadership as a noble ideal)

Komunikasi. Pemimpin harus melakukan komunikasi dua arah. Sebagian besar nonverbal. Misalnya, ketika Anda "memberi contoh," mengomunikasikan itu kepada orang anda bahwa anda tidak akan meminta mereka untuk melakukan apa pun yang anda tidak akan bersedia melakukan. Apa dan bagaimana anda berkomunikasi baik dalam membangun atau merusak hubungan antara anda dan karyawan Anda. Masyarakat Jakarta kini terus menilai diantara kedua calon itu, siapa yang mampu dan mau berkomunikasi dengan mereka, baik itu dikalangan elite, middle class maupun grass root. Disinilah peran penting komunikasi dalam mewujudkan empati tadi.

Situasi. Semua situasi jelas berbeda. Apa yang anda lakukan dalam menangani sebuah kondisi, situasinya belum tentu akan efektif apabila dilakukan di tempat lain. Pemimpin harus menggunakan penilaian dengan lebih detail untuk menentukan tindakan yang terbaik dan gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk menangani setiap situasi. Disinilah yang sebaiknya harus disikapi lebih hati-hati oleh Jokowi dan tim suksesnya. Gambaran yang diberikannya dengan menggunakan referensi Solo, apabila akan diterapkan di Jakarta bisa dinilai konstituen belum tentu efektif. Jangan terlalu bangga dengan keberhasilan Jokowi di Solo, atau jangan terlalu membanggakan Solo. Pendekatannya harus lebih bijak karena masyarakat Jakarta memiliki keangkuhan, merasa sebagai warga kota metropolitan, dan banyak yang memandang Solo hanya sebagai kota kelas dua dan bahkan kelas tiga.

 

Mengukur Kepemimpinan Foke dan Jokowi

 

Rakyat Jakarta yang cerdas semakin kritis dalam menilai calon pemimpinnya yang akan menjadi penguasa dalam lima tahun mendatang. Dalam mengukur kepemimpinan kedua Cagub itu,  penulis menggunakan empat pilar standard organisasi yaitu, Kepemimpinan (Leadership), Manajemen (Management), Komando (Command) dan Kontrol (Control). Empat pilar ini sangat penting dan harus dikuasai si pemimpin dalam mengarahkan organisasi yang dipimpinnya. Dalam teorinya, apabila pilar itu digunakan dengan benar, organisasi akan tumbuh, apabila tidak, bisnis akan tenggelam.

Rakyat Jakarta banyak terpengaruh dengan pemberitaan tentang kepemimpinan Jokowi di Solo, track record sebagai Walikota dan bagaimana dia melaksanakan  ke empat pilar tadi. Memang Solo kota sedang, jauh dibandingkan Jakarta. Tetapi Jokowi mampu melakukan tugasnya dengan dasar empat pilarnya. Karena itu dia terpilih sebagai walikota periode kedua tanpa susah payah. Sebuah keberhasilan yang wajar tidak perlu diangkat berlebihan, biarkan rakyat Jakarta yang menilai sendiri.

Bagaimana dengan Foke? Dalam masalah kepemimpinan, nampaknya ada kegagalan menyatukan derap langkah dengan Wakil Gubernurnya, Priyanto. Apapun masalahnya, penyampaian pengunduran diri Priyanto adalah sebuah cacat fatal dalam kepemimpinan Foke termasuk juga soal manajemen, komando dan kontrol, karena keempat pilar tadi saling bertumpang tindih. Dalam hal ini nampaknya karakter Foke yang agak "nose up" dan yang kemudian memperlemahnya  adalah soal berkomunikasi.

 

Kesimpulan

 

Dari pembahasan diatas, dengan menggunakan teori sederhana kepemimpinan, terlihat masih adanya kelemahan dari kedua calon. Kelemahan Foke adalah soal empati dan komunikasi, walaupun juga ada terselip titik lemah dari Jokowi yang dinilai sebagai tokoh lokal dan harus menghadapi DKI bak Rahwana. Keberhasilan utama Jokowi dalam menarik minat konstituen Jakarta adalah rasa empatinya yang tinggi, Jokowi mau membuka komunikasi dua arah hingga ke level terendah. Disini Foke berada satu langkah dibelakangnya. Memang Timses Foke kemudian mencoba menarik simpati dari pendukung lawan, memainkan isu sensitif primordial khususnya masalah agama Islam dan Kristen serta masalah diangkatnya keengganan dipimpin warga keturunan (China).

Dari sudut pandang konsep kepemimpinan, melihat Jakarta seperti apa serta pentingnya penguasaan empat pilar dalam kepemimpinan, sementara penulis menyimpulkan, Jokowi agak diatas angin. Isu soal SARA justru bisa menjadi kontra produktif bagi Foke, karena konstituen Jakarta mayoritas pluralis, sehingga pada putaran pertama yang unggul adalah calon dari nasionalis. Calon langsung parpol Islam (PKS) hanya menempati posisi ketiga.

Dengan demikian, menarik seperti apa yang dikatakan oleh Yenny Wahid, masyarakat DKI merupakan masyarakat yang rasional dalam memilih. Walaupun demikian, Foke dengan timsesnya masih punya waktu untuk menaikkan citra, menaikkan kredibilitas. Kalau penulis boleh pesan,  jangan memainkan kartu kecil yang justru tidak popular kebaikannya dan jangan memainkan kartu SARA. Masyarakat tidak suka dan sudah jenuh dengan segala sesuatu yang berbau fanatisme, apapun bentuknya. Maaf kalau ada yang kurang pas, Salam.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : vanamaliashram.org

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.