Untuk Pak SBY, antara Tradisi Lebaran dan Bertarung Melawan Maut

18 August 2012 | 12:37 am | Dilihat : 350

Setiap mendekati lebaran, penulis setiap tahun selalu merasa sangat prihatin, khususnya bila  mengikuti pemberitaan arus mudik. Kalau soal macet, adalah hal biasa, tidak lebaranpun banyak jalanan yang macet. Jakarta sebagai kota termacet di Indonesia pada saat menjelang dan hari lebaran terasa lebih nyaman, agak lepas dari kemacetan. Penulis sejak aktif menulis sejak tahun 2008 membuat artikel tradisi mudik. Tradisi  yang diyakini umat muslim merupakan hari keramat, sebagai hari bahagia berkumpul bersama keluarga. Yang memprihatinkan adalah demikian banyaknya korban jatuh, tewas dan luka-luka yang dari tahun ketahun, dan  angkanya mencapai sekian ratus.

Pada tahun 2008 tulisan awal penulis di Kompasiana sebagai artikel perdana ditayangkan dengan judul "Mengantar Nyawa Saat Lebaran", ditayangkan dalam bagian dari tulisan Admin Kompasiana, Pepih Nugraha (public-blogger-mengapa-tidak) dan pada Tahun 2009, penulis menulis sebuah artikel dengan judul "Eksodus Lebaran yang Menakutkan" (eksodus-lebaran-yang-menakutkan). Pada artikel tersebut penulis menyampaikan keprihatinan, dan mengekspresikannya pergerakan penduduk mudik ternyata membawa resiko demikian besar, dan banyak nyawa yang dipertaruhkan.

Yang sangat memprihatinkan adalah meningkatnya pemudik menggunakan sepeda motor bebek untuk tradisi pulkam (pulang kampung) dengan modal keberanian tiada tara, lebih menjurus ke nekat. Menurut Kementerian Perhubungan, sepeda motor (terlebih bebek) tidak dirancang untuk moda transportasi jarak jauh. Sehingga fisik pengendara amat berpengaruh terhadap keselamatan.  Bisa dibayangkan bagaimana menggunakan motor kecil yang hanya 100-125 CC dan bahkan dengan jumlah penumpang berlebih dan dengan juga barang bawaan menempuh jarak ratusan kilometer dalam suasana trafik yang sangat padat. Tetapi memang sulit bagi pemerintah untuk menyadarkan masyarakat yang beberapa tahun terakhir memutuskan bahwa nilai ekonomis pola mudik dengan sepeda motor mereka nilai jauh lebih hemat.

Pada artikel eksodus itu penulis menyampaikan beberapa data dari Departemen Perhubungan, pemudik yang menggunakan sepeda motor dari tahun ketahun terus naik. Tahun 2003 (0,71 juta), 2004 (0,79 juta), 2005 (1,29 juta), 2006 (1,86 juta), 2007 (2,12 juta), 2008 (2,5 juta). Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, pada tahun 2007, jumlah kecelakaan 1.875 kasus, korban meninggal 798 orang, luka berat 952, luka ringan 2.034 orang.

Pada Tahun 2012 ini, Kementerian Perhubungan memperkirakan, jumlah sepeda motor pada masa angkutan lebaran akan mencapai 3.167.666 buah, pada Tahun 2009 tercatat 3.146.945 unit, lebih rendah 15 persen dari jumlah yang diprediksi pada Tahun 2010. Jumlah yang tercatat pada 2009 itu melonjak hampir 38 persen dibandingkan masa yang sama pada 2008 yang mencapai 2.285.195 unit.

Dari data/angka kecelakaan, jumlah korban tewas pada 2007 mengalami kenaikan 82% dibanding tahun 2006, dari 437 menjadi 798. Dari korban tewas, 74% adalah pengendara sepeda motor. Sedang jumlah kecelakaan pemudik 2008 tercatat 1.181kasus, korban tewas 548 orang, luka berat 702 jiwa, luka ringan 1.162. Kecelakaan sepeda motor 1.426, mobil pribadi 394, bus 110, mobil rusak berat 191. Pada Tahun 2009, tercatat dari 1.545 kasus, korban meninggal dunia 598 orang.

Markas Besar Polri mengeluarkan data kecelakaan lalu lintas pemudik tahun 2012. Berdasarkan data yang dihimpun, sejak dimulainya pelaksanaan Operasi Ketupat 2012, selama 5 (lima) hari yang dimulai dari 11-15 Agustus 2012 telah terjadi setidaknya 1.602 kasus kecelakaan. "Total korban meninggal dunia adalah 283 orang. Rinciannya adalah H-9, 42 orang, H-8, 54 orang, H-7, 74 orang, H-6, 47 orang, H-5, 66 orang," kata Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (16/8/2012). Tak hanya korban meninggal, sejumlah korban luka baik berat maupun ringan pun berjatuhan. Luka berat total 392 sedangkan luka ringan total 1.435 orang. "Luka berat H-9 57 orang, H-8 69 orang, H-7 81 orang, H-6 69 orang, H-5 116 orang. Sementara luka ringan H-9 295 orang, H-8 266 orang, H-7 311 orang, H-6 258 orang, H-5 305 orang," papar Anang lagi.

Menurut pihak Kepolisian, penyebab tingginya angka korban kecelakaan disebabkan beberapa faktor yang menyebabkan bikers menjadi korban kecelakaan. Salah satunya disebabkan oleh faktor kelelahan dan mengantuk. Selain itu, penyebab kecelakaan lainnya yakni kurang bisa mengendalikan kendaraan saat dipacu dalam kecepatan tinggi. Kementerian perhubungan menyatakan terus mengusahakan mengurangi kemauan warga naik sepeda motor kelas bebek sebagai moda transportasi jarak jauh. Upaya yang dilakukan diantaranya dengan menyiapkan kereta api mengangkut sepeda motor warga ketujuan. Ternyata upaya tersebut tidak efektif, karena jumlah pengendara sepeda motor di jalan raya terus naik dari tahun ketahun.

Nah, kini masalah kepuasan pemenuhan tradisi pulang kampung saat Lebaran secara pasti akan tetap terus  dilakukan warga. Apabila dikaitkan dengan pertarungan melawan maut di jalan raya, jelas kasus ini  tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan serta instansi terkait lainnya. Rakyat yang tiap tahun demikian menggebu-gebu entah bagaimana caranya sampai di kampungnya harus diberikan jalan dan dilindungi oleh pemerintah. Mereka mengambil keputusan jalan pintas itu karena tidak adanya harapan baginya pulang kampung dengan nyaman. Yang jelas, banyak yang tidak ingin diri dan keluarganya tersiksa terjepit di gerbong kereta dalam waktu lama, disamping secara ekonomis lebih berat dibandingkan naik motor. Kemudian beberapa ratus dari mereka harus rela menyerahkan nyawanya, meninggalkan keluarga yang dicintai menjelang hari bahagia yang Fitri itu. Miris bukan?

Sudah waktunya pemerintah memikirkan lebih detail eksodus tahunan tersebut, karena itu adalah tugas utamanya, mengurus rakyatnya bukan? Bagaimana cara atau solusinya, mestinya instansi terkait sudah memiliki program pemecahan masalah. Yang belum dimiliki para pejabat adalah semangat dan upaya keras membela rakyat kecil, melindungi dan menjaga nyawa mereka. Menurut penulis, masalah akan terpecahkan asalkan ada kemauan, tanpa ada kemauan ya akan begini terus, lihat saja sejak 2008, berapa nyawa yang dikobankan. Tiap tahun kita prihatin melihat betapa rakyat, pemilik negara ini selalu tersiksa berpuluh jam untuk bersilaturahmi dengan keluarganya? Kemudian beberapa ratus dari mereka harus rela menyerahkan nyawanya, meninggalkan keluarga yang dicintai di hari yang Fitri itu. Miris bukan?

Presiden sebaiknya menilai dalam setahun apabila mereka, para pejabat itu tidak mampu mengatasi masalah urusan nyawa rakyatnya ya sebaiknya diganti saja. Dengan hak prerogatifnya, ketegasan bisa diterapkan, tidak apa-apa demi rakyatnya. Sejak menulis soal mudik mulai tahun  2008, penulis terus prihatin, kenapa setiap tahun terus begitu, korban terus berjatuhan, jumlahnya ratusan. Semoga saja tulisan yang sangat sederhana ini terbaca sama Pak SBY. Penulis prihatin Pak, semoga keluhan ini ada manfaatnya untuk kita semua.

Solusinya, kalau mau, secara  sederhana dan bodon menurut penulis, yaitu kemauan rela berkorban pejabat pemerintah terkait, tradisi pulang kampung untuk rakyat kecil di organisir sebuah Satuan Tugas, dibayari pemerintah atau di subsidi, motor diangkut kereta api atau truk. Apa iya pemerintah kalah sama penjual jamu yang bisa menyiapkan bis gratis? Pokoknya setahun sekali pemerintah mau ber-sodaqoh mengorganisir rakyatnya pulang kampung. Penulis yakin, pemerintah akan di doakan rakyatnya, tidak dicaci seperti sekarang. Tradisi ini terkait dengan masalah ibadah dan silaturahim. Maaf kalau ada yang tersentuh.

Prayitno Ramelan (Yang sangat  Prihatin), www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : ramadan.tempo.co

 

 

 

 

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.