Yang Tersisa dari Musibah Sukhoi

12 May 2012 | 9:33 am | Dilihat : 1596

 

Tragedi kecelakaan Sukhoi Superjet 100 (RA 36801) di Gunung Salak memukul Indonesia dan Rusia. Bangsa Indonesia merasakan kepedihan karena jatuhnya korban yang cukup banyak warganya yang mengikuti joy flight, Rusia terpukul karena pesawat itu adalah sebuah proyek raksasa dan sangat prestisius sebagai simbol kebangkitan kembali produksi pesawat transport sipil komersial modern yang sangat mereka banggakan.

Kita dalam beberapa hari terus terpukau mengikuti berita upaya pencarian lokasi pesawat yang lost contact pada hari Rabu 9 Mei 2012 pukul 14.33 WIB, dan kemudian baru ditemukan oleh team SARdengan helicopter  Lanud Atang Senjaya pada hari Kamis 10 Mei 2012 pada pukul 08.30 WIB.  Serpihan pesawat terlihat di tepi tebing pada ketinggian sekitar 5800 kaki  dari permukaan laut dengan sudut kemiringan lereng 85 derajat. Setelah ditemukan oleh team SAR darat, terlihat betapa sulitnya hanya untuk mencapai titik benturan pesawat dengan lereng gunung Salak, tepatnya di daerah  Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Sebuah kecelakaan pesawat merupakan kasus yang dampaknya sangat besar bagi publik, dimana secara psikologis serangan terhadap pesawat merupakan sebuah trend yang disukai oleh para teroris di belahan dunia manapun. Kasus jatuhnya Sukhoi SSJ 100 kini diberitakan oleh hampir seluruh media di dunia. Dampak yang timbul pada umumnya merugikan operator pesawat yang jatuh apabila kasusnya menyangkut sekuriti dan keselamatan penerbangan. Penulis mencoba menyampaikan informasi dan mengulas sebuah kaitan apa yang tersisa dari musibah pesawat Sukhoi tersebut.

 

Pengalaman Sebagai Team PPKPT dan Pembelajaran Hidup

 

Selama 32 Tahun bertugas di TNI AU, penulis  mempunyai pengalaman menangani langsung sebuah kecelakaan fatal pesawat TNI AU yang merupakan tugas dalam team PPKPT (Panitia Penyelidik Kecelakaan pesawat Terbang). Kecelakaan terjadi pada tanggal 5 Oktober 1991, dimana setelah pelaksanaan Hari Ulang Tahun ABRI ke-46, dilaksanakan pull out, pergeseran pasukan dari Pangkalan Halim Perdanakusuma ke home base pesawat dan pasukan yang terlibat dalam kegiatan.

Penulis saat itu berpangkat Letnan Kolonel dan menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi Intelijen Udara di Halim. Siang itu penulis mendampingi Komandan Pangkalan Halim, Marsma TNI Amin Kahar, melepas keberangkatan pesawat tempur dan pesawat Hercules yang mengangkut pasukan. Terakhir pesawat Hercules A-1324 bergerak dari South apron menuju landasan untuk take off. Penulis mengucapkan syukur karena beberapa hari hampir tidak tidur menangani kegiatan pengamanan. Didalam kendaraan, penulis mendapat laporan dari anak buah melalui handy talky bahwa A-1324 jatuh. Dan dengan guide anak buah dari Helli, penulis menjadi personil TNI AU pertama yang dapat mencapai lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Condet (BLK) tersebut. Betapa terkejutnya melihat pesawat dalam kondisi terbelah, bagian cockpit lepas dan yang lainnya terbakar hebat.

Dengan dibantu masyarakat, penulis mencoba mencari kemungkinan korban yang hidup, ternyata di cokpit para crew tertumpuk dan captain pilot masih bernafas, kemudian bersama beberapa orang mencoba menyelamatkan, karena kondisi sebagian besar tubuhnya terbakar, akhirnya perwira tersebut meninggal dunia. Sementara semua anggota pasukan, sekitar  132 orang tertumpuk di bagian ekor dan kondisinya terbakar. Yang ajaib, ada seorang anggota yang terlempar, dalam keadaan hidup, walau sebagian tubuhnya terbakar. Selain mencari korban, hal penting lainnya adalah mencari senjata, agak sulit menghitung karena sebagian besar terbakar. Akhirnya yang dihitung adalah laras, yang merupakan bagian yang keras dan tahan api, secara prinsip senjata harus lengkap ditemukan semua.

Setelah proses evakuasi keseluruhan jenazah, dimana semuanya terbakar, kecuali crew yang dapat dikenali, bagi yang jenazahnya rusak dan tidak dapat dikenali, akhirnya disetujui olah dinas dan keluarga, para korban yang tidak dikenali  dimakamkan bersama dalam satu liang lahat di Taman Makam Bahagia, Pondok Aren Cileduk.

Bersamaan dengan upaya evakuasi, TNI AU membentuk team yang saat itu diberi nama PPKPT (kini bernama PPKPU), untuk menyelidiki segala hal yang menjadi penyebab kecelakaan. Tindakan ini sangat penting agar  data awal  TKP tidak berubah dari faktor manusianya, media, mesin, manajemen, misi, dan material. Semua bukti-bukti akan dianalisa oleh team. Dari fakta-fakta yang terkumpul, akhirnya team menyimpulkan bahwa terdapat unsur material dan human error dalam kasus tersebut. Sebagaimana kisah dalam kecelakaan pesawat terbang, terlihat bertapa tipisnya masalah hidup dan meninggalnya manusia itu, hanya Allah yang Maha Tahu. Pada saat pesawat akan berangkat, isteri captain pilot beserta anaknya yang berusia sekitar lima tahun ikut dalam pesawat. Mendadak anak kecil tersebut menangis meraung-raung, dan karena dianggap mengganggu, oleh ayahnya sang isteri dan anaknya disuruh turun. Keduanya turun dan tidak ikut menjadi korban, entah bagaimana kisahnya apabila ikut dalam pesawat naas tersebut.  Itulah gambaran tipisnya waktu antara hidup dan meninggalnya seseorang, sebuah pembelajaran hidup yang penulis ingat.

 

Keikhlasan Bagi Keluarga Yang Ditinggalkan

 

Hidup dan meninggalnya manusia merupakan rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa. Kini dalam kecelakaan Sukhoi SSJ 100 itu, nampaknya kecil kemungkinan ada dari penumpang dan crew yang masih hidup. Melihat fakta benturan antara pesawat dan tebing yang curam, serta reruntuhan pesawat yang tercerai berai berkeping-keping, nampaknya kondisi penumpang juga sangat mengenaskan. Kemungkinannya tercabik dan tercerai berai. Mungkin saja hanya beberapa yang agak utuh kondisinya.

Ridwan, team Mapala UI, menyatakan pada Jumat (11/5/2012), bahwa mereka menemukan tubuh manusia diantara puing pesawat. ”Kami menemukan serpihan (potongan) tubuh korban diantara puing-puing pesawat. Bila melihat kondisi tubuh jenazah yang berserakan itu, kami menduga pesawat meledak saat terjatuh,” katanya. Potongan organ tubuh yang ditemukan diantaranya hidung, kulit kepala dan lengan. Seluruh serpihan yang ditemukan di ketinggian 2000,05 mdpl sekira pukul 10.15 WIB itu diduga berasal dari beberapa korban berjenis kelamin pria dan wanita. Hingga kemarin sore tim SAR baru berhasil mengangkat enam kantong mayat hingga ketinggian 2.211 mdpl, yang menjadi lokasi pendaratan helikopter. Adapun enam lainnya masih berada di lokasi kecelakaan. ”Sisanya akan terus diupayakan agar Sabtu pagi seluruhnya sudah bisa dievakuasi,” kata Kolonel Inf Putranto, Ketua Tim Pencarian. Hingga kini belum dapat dipastikan berapa jumlah jenazah yang ada di 12 kantong mayat tersebut karena bercampur dengan anggota tubuh korban yang hancur. Team dari Mabes Polri akan melakukan proses identifikasi korban, yang  akan dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) yang memang bertugas melakukan proses identifikasi. Menurut Direktur Eksekutif DVI Mabes Polri Kombes Pol Anton Castilani, proses identifikasi tidaklah mudah, terlebih identifikasi tubuh yang sudah tidak utuh. Karena itu, pihaknya meminta kesabaran dan pengertian anggota keluarga.

Kini kita bersama harus bersabar menunggu proses evakuasi jenazah, karena kendala yang dihadapi team SAR sangat rumit. Kondisi medan yang sangat berat, jenazah yang tidak utuh, cuaca yang selalu berubah jelas merupakan tantangan tersendiri bagi team SAR dalam menuntaskan tugasnya. Semua sudah bahu membahu dengan arahan Presiden SBY, kita bersedih, tetapi kita harus bijak menanggapi kemungkinan emosi keluarga para korban. Nah, menurut penulis, berdasarkan pengalaman menangani kecelakaan pesawat TNI AU pada 1991, keluarga korban walau sangat bersedih dengan sangat ditinggalkan keluarganya, kebesaran hati haruslah di kedepankan. Emosi kita jaga bersama, belum tentu semua jenazah akan dapat ditemukan. Pihak Basarnas harus mampu berdialog dengan keluarga untuk mengambil keputusan, apabila terjadi kemungkinan terburuk tersebut. Mungkin keputusan seperti yang diambil TNI AU pada Tahun 1991 dapat dipertimbangkan, bagi jenazah yang bagian tubuhnya tercerai berai dan tidak dapat dikenali dimakamkan bersama.

 

Pukulan Berat bagi Industri Pesawat Rusia

 

Kasus kecelakaan Sukhoi SSJ 100 di Gunung Salak ini jelas merupakan sebuah pukulan berat bagi Industri penerbangan pesawat angkut sipil Rusia. Pesawat ini merupakan harapan simbol kebangkitan industri pesawat terbang sipil Rusia yang terpuruk sejak tahun 1991. Pesawat yang diproduksi oleh perusahaan Sukhoi pembuat pesawat tempur, sahamnya dikuasai oleh pemerintah. Pesawat seharga US$ 31.700.000 ini harganya sepertiga lebih murah dibandingkan Jet dengan karegori sekelas yang  diproduksi di Kanada. Perusahaan itu mengatakan pihaknya berharap dapat  menjual 1.000 pesawat selama dua dekade mendatang.

Hasil penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat ini sangat penting bagi Rusia, hanya dua kesimpulannya masalah “human error” atau masalah tehnis pesawat. Yang jelas pabrik sangat mengharapkan kesimpulannya, penyebab kecelakaan karena kesalahan pilot. SSJ100  itu  diterbangkan oleh crew  yang sangat berpengalaman, terdiri  Alexander Yablontsev sebagai chief test pilot dan copilot Alexander Kochetkov. Yablontsev  memiliki 14.000 jam terbang dan telah menerbangkan Superjet itu sejak penerbangan perdananya pada 2008. Terlepas seberapapun hebatnya Yablontsev, bukan tidak mungkin ada saja kemungkinan  kesalahan kecil yang dibuatnya. Pada umumnya penerbangan “bahagia” agak rendah kadar sekuritinya.

Perwakilan Interstate Aviation Committee Rusia, Leonid Kashirsky, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jumat (11/5) menyatakan ”Sulitnya medan Gunung Salak dan hancurnya badan pesawat cukup menyulitkan dalam proses investigasi. Tetapi kami tetap berusaha keras,” katanya. Kemungkinan penyelidikan akan memakan waktu setahun lebih.

Pemerintah Rusia mengatakan sudah menghubungi beberapa pakar penerbangan. Mereka cenderung percaya insiden dua hari lalu itu akibat kelalaian manusia. Hal itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin. Dia menilai beberapa informasi dari pakar cenderung mengarah terjadi kelalaian. “Kelalaian manusia paling memungkinkan sebagai penyebab insiden itu,” katanya.

Presiden SBY menyetujui dua permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menindaklanjuti peristiwa jatuhnya Sukhoi Superjet 100 tersebut. Permintaan itu adalah kerja sama dengan Indonesia untuk identifikasi forensik para korban musibah dan kerja sama mengirim pakar untuk mengidentifikasi reruntuhan pesawat. Dalam keterangan persnya Kamis 10/5/2012 pada jam 9 pagi, Presiden SBY menginstruksikan agar memprioritaskan pencarian pada kemungkinan penumpang yang selamat. Dan agar investigasi penyebab pasti kecelakaan segera dilakukan dengan seksama. Para ahli penerbangan menyatakan bahwa sampai akhir selesainya penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat tersebut, Sukhoi akan mengalami kesulitan memasarkan SSJ100 tersebut.

Sash Tusha dari Echelon Research & Advisory, London menyatakan, “Ini akan sepenuhnya dimengerti untuk setiap pelanggan potensial untuk menunda sampai kecelakaan itu ditentukan apakah penyebabnya adalah kesalahan manusia atau kegagalan mekanik,” katanya. Analis penerbangan mengatakan apabila kesalahan terbukti karena kelalaian pilot, maka sebagian besar dari 240 pesawat yang sudah dipesan akan tetap berjalan. Yang menjadi masalah apabila ditemukan cacat design dari pesawat. Dari sejarah penjualan pesawat komersial, nampaknya Rusia tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan pukulan penjualan produksinya.

Sebagai contoh,  pada awal demo terbangnya  di tahun 1988, pesawat Airbus 320 telah jatuh dan  menewaskan tiga orang serta melukai 50 orang lainnya. Penyelidikan menetapkan bahwa penyebabnya adalah kesalahan pilot dan tidak ditemukan bukti kerusakan pada sistem pesawat. Pesawat Airbus A320 kemudian menjadi salah satu pesawat yang terlaris di dunia.

 

Kesimpulan

 

Demikian sedikit catatan yang coba penulis buat. Kini banyak spekulasi analisa dan ulasan yang lebih bersifat mengulas tanpa keahlian. Sangat disayangkan sebenarnya, karena publik akan membaca dan bisa terpengaruh karenanya. Membahas sesuatu hal sebaiknya orang yang kompeten pernah mengikuti pendidikan mengenai masalah yang dibahas dan dia mempunyai pengalaman bekerja atau mengerjakan sesuatu yang dibahasnya.  Tanpa itu yang jelas apa yang ditulis dan dikatakannya tanpa adanya “sense,” justru dapat menjerumuskan pembaca atau pemirsa. ‘

Sebaiknya mengenai penyebab kecelakaan kita tunggu hasil investigasi dari KNKT dan pihak Rusia. Fokus evakuasi korban memang harus menjadi prioritas utama, disamping bagaimana menghadapi keluarga yang jelas sangat terpukul dan bersedih. Media juga sebaiknya lebih bijak memilah informasi yang akan ditayangkan.

Terakhir, bagi keluarga korban, mari kita ikhlaskan mereka yang telah menjadi korban kecelakaan itu, mari kita bersabar, kita doakan para korban yang meninggal dalam kecelakaan ini, semoga arwahnya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa, diampuni dosa dan kesalahannya serta dimasukkan kedalam surga, Amin. Kita sadar bahwa antara hidup dan meninggal sangat tipis sekali, dan kita percaya kepada takdir itu. Salam

Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : Islamtimes.org

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.