Dibalik Peluncuran Roket Korea Utara yang Gagal

14 April 2012 | 7:48 am | Dilihat : 559

Rencana ambisius Korea Utara untuk meluncurkan roket (Unha-3) yang dikatakan sebagai pembawa satelit ke ruang angkasa telah gagal total. Roket seharga US$450 juta yang diluncurkan dari lokasi Utara-Barat Korea Utara  pada hari Jumat kemarin (13/4) meledak dua menit setelah lepas landas. Rencana semula disebutkan roket akan terbang setinggi 310 mil, tetapi pada ketinggian 94 mil sudah meledak berkeping-keping. Menurut bebrapa pejabat AS, Jepang dan Korea Selatan, kepingan roket dimonitor jatuh di Laut Kuning di Selatan Korea Selatan.

Rencana peluncuran satelit yang diberi nama  "Bright Star Shining" semula direncanakan oleh Korea Utara untuk memperingati kelahiran 100 tahun Kim Il Sung, kakek pemimpin Korea Utara yang kini berkuasa. Rasa malu Korea Utara tidak bisa dmereka tutupi, karena paada peluncuran tersebut mereka mengundang media internasional untuk menyaksikannya. Beberapa jurnalis asing di Pyongyang mengatakan semua pejabat Korea  Utara termasuk Kim Jong-Un  terlihat  selama empat jam setelah peluncuran terlihat demikian tercekam ketakutan hingga pengumuman resmi kegagalan peluncuran. Kini yang tersisa adalah rasa malu dengan kegagalan propaganda kemajuan teknologi yang dikaitkan dengan pendiri negaranya Kim Il-Sung yang sudah dianggap semacam dewa oleh rakyatnya.

Korea Utara menurut pejabat AS dikatakan telah mengalami kegagalan meluncurkan dua roket jarak jauhnya pada beberapa tahun yang lalu. Walaupun mereka tidak mengakuinya, dan mengatakan satelit  mereka tetap mengorbit dan menyiarkan lagu-lagu perjuangan. Tetapi dari kegagalan kali ini, pemimpin Korea Utara dan para pejabat telah kehilangan dua sisi berupa kerugian, yaitu rasa malu   serta kehilangan bantuan pangan sekitar 240.000 ton bahan pangan seharga US$200 juta yang semula dijanjikan pemerintah Amerika apabila mereka membatalkan peluncuran roket tersebut. Janji AS disampaikan pada bulan Februari tahun ini, tetapi dibatalkan setelah Korea Utara tetap bersikeras tetap meluncurkan roket tersebut.

Pada hari peluncuran, Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat untuk membahas kenekatan Korea Utara yang tetap meluncurkan roket, tetapi PBB tidak mengeluarkan pernyataan sangsi hukuman. Dewan menyatakan menyesalkan peluncuran tersebut, sebagai pelanggaran terhadap dua resolusi Dewan Keamanan Nomor 1718 dan 1874 yang isinya melarang Korea Utara melakukan rangkaian kegiatan tersebut, dan untuk pelanggaran akan dikenakan sangsi berupa embargo baik senjata maupun embargo lainnya.

Peluncuran roket yang menurut beberapa analis akan menuju kepada peluru kendali balistik antar benua, pada awalnya demiian mencemaskan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat serta Jepang dan Korea Selatan. Kekhawatiran terkait dengan upaya pengayaan uranium Korea Utara yang menurut badan intelijen akan mempu membuat beberapa bom nuklir. Nah, ancaman nuklir akan terwujud apabila Korea Utara mampu menerbangkan roket pembawa hulu ledak nuklir. Teknologi roket Korea Utara diketahui telah semakin maju dengan pembuatan roket Taepodong-II, yang diperkirakan Jumaat kemarin gagal total.

Walaupun demikian, Amerika Serikat terus mengamati peralihan kepemimpinan di Korea Utara, khususnya kepemimpinan Kim Jong-Un, khususnya terhadap perubahan perilaku Korea Utara terhadap keinginan berperang. Selain itu  Presiden Obama sangat berkepentingan menghentikan program nuklir Korea Utara dalam persiapan pemilu di AS, disamping upaya menjaga jangan sampai Israel melakukan serangan ke Iran untuk menghentikan program nuklirnya. Kedua persoalan tersebut memiliki komplikasi tersendiri yang berbahaya bagi AS.  Menurut Korea Selatan, walaupun Korea Utara gagal dalam peluncuran ini, mereka telah meresmikan tempat peluncuran baru didekat perbatasan dengan China seharga US$400 juta.

Beberapa analis menilai bahwa kekerasan hati Korea Utara meluncurkan roket merupakan propaganda untuk mengukuhkan posisi dari pemimpin baru mereka menjadi pemegang kekuasaan penuh. Menurut tradisi kepercayaan Khonghucu, kesetiaan kepada leluhur adalah mutlak. Kim Jong-Un ingin menunjukkan kesetiaannya dengan melanjutkan cita-cita mereka untuk mempunyai senjata dan peluru kendali nuklir sebagai kekuatan deterent dalam menghadapi ancaman nuklir AS seperti yang dikhawatirkan kakek dan ayahnya itu.

Karena itu nampaknya program nuklir dan rudal balistik Korea Utara akan sulit dihentikan oleh siapapun, karena keputusan fungsi pencegah nuklir sudah menjadi keputusan para pemimpin di Korea Utara. Pejabat Intelijen Barat telah menemukan fakta bahwa Korea Utara telah memiliki bahan untuk membuat beberapa bom nuklir, akan tetapi Korea Utara dikatakannya belum menemukan cara menyerang dengan roket balistik antar benua. Karena itu kini mereka terus berusaha membuat roket antar benua.

Menarik yang disampaikan Profesor Kim Yong-Hyun dari Universitas Dongguk di Seoul, Korea Selatan, bahwa pejabat di Korea Utara ingin memperkenalkan Kim Jong-Un dengan sebuah perayaan besar dan Korea Utara ingin menunjukkan bahwa mereka kini bangsa yang kuat dan tidak mudah diintimidasi. Itulah propaganda yang  dilakukan oleh Korea Utara untuk lebih meyakinkan rakyatnya.

Yang jelas, perundingan masalah nuklir Korea Utara dengan AS dan beberapa negara seperti China, Jepang dan Rusia akan tetap sulit dilakukan, karena persoalan roket dan nuklir adalah masalah prinsip dan mati hidup bagi Korea Utara dibawah kepemimpinan Kim Jong-Un. Jadi benar seperti yang dikatakan sang profesor, "Dorongan utama di balik peluncuran roket tersebut adalah politik domestik." Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.