SBY dijepit dengan Provokasi dan Agitasi

28 March 2012 | 2:18 am | Dilihat : 630

Dalam dua hari terakhir, agak miris melihat di media elektronik yang meliput demonstrasi anti kenaikan BBM. Massa dibeberapa daerah menjadi agak brutal, menyerang polisi, merusak dan menutup jalan dan fasilitas umum. Mereka dapat dilokalisir aparat keamanan tidak melakukan penjarahan serta menjurus kearah kerusuhan fatal seperti yang terjadi pada demo tahun 1998. Presiden SBY telah memerintahkan aparat keamanan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menyiagakan TNI untuk mengamankan obyek-obyek yang dinilai vital. Penulis mencoba mengulas situasi dan kondisi terkait dengan isu anti kenaikan BBM tersebut.

Dalam sambutan pembekalan kepada petinggi Demokrat di kediamannya Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (18/3/2012), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa kebijakannya menaikkan BBM telah berkembang menjadi sangat politis. Dikatakannya bahwa lawan-lawan politiknya melakukan provokasi dan agitasi agar menentang dan melawan apapun yang dilakukan pemerintah.

"Isu ini sudah berkembang sangat politis dan sudah jauh  menyimpang dari hakikat dan masalahnya. Kemudian kita akhir-akhir ini sudah menyaksikan ada provokasi dan agitasi yang isinya 'pokoknya harus menentang dan melawan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah'," kata SBY.

Dalam pembekalan kepada pimpinan dan kader-kader Partai Demokrat, SBY  meminta para kader itu tidak apatis dan pasif melihat fenomena ini. "Lakukanlah kerja politik yang mencerdaskan, rasional, dan segala sesuatunya harus jelas dari inti permasalahan itu  sehingga masyarakat akan mendapatkan penjelasan yang benar. Tampillah. Saya mendengar sebagian kader kita tidak tampil. Tampil, kuasai, sehingga terang benderang bisa dijelaskan," katanya.

Dari arahan tersebut terbaca bahwa serangan psikologis terhadap SBY sebagai Kepala Pemerintahan dan pemerintahan yang dipimpinnya telah dapat dipetakan olehnya yaitu, serangan berupa provokasi, agitasi. Memolitisir kebijakan apapun yang dibuatnya dan kebijakan lainnya dari  pemerintahan yang dipimpinnya.

Provokasi dan agitasi pada dasarnya adalah ilmu kecabangan dari intelijen yaitu dari fungsi intelijen penggalangan atau 'conditioning.' Provokasi dan agitasi disebut juga sebagai  sarana intelijen penggalangan.

Provokasi bisa diartikan sebagai tindakan atau upaya menghasut orang lain  agar terjadi perselisihan, melakukan revolusi. Bisa juga upaya menggoda atau mendorong seseorang untuk membangkitkan respon yang diinginkan sehingga mereka mau untuk bereaksi. Provokasi juga ditujukan untuk membuat gelombang, untuk mengganggu atau mengacaukan keseimbangan dari sebuah situasi, menimbulkan masalah dan mengaduk berbagai hal. Sementara agitasi sangat erat dengan provokasi,  adalah upaya untuk membangkitkan opini, menggugah perasaan dan tindakan publik dengan memberikan stimulus agar tercipta keributan.

Dalam ukuran ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan), serangan provokasi dan agitasi yang disebutkan oleh SBY  nampaknya sudah naik ketingkat yang tertinggi dari yang terendah berupa gangguan, diklasifikasikan menjadi sebuah ancaman. Demikian seriusnya upaya provokasi dan agitasi, sehingga dengan bahasa terang ancaman tersebut dilontarkan oleh Presiden SBY dalam pertemuan dengan para petinggi partainya.

Dari arahan SBY, para kader Partai Demokrat secara langsung telah ditegur, dan dikatakannya agar tampil, menjelaskan inti masalah kenaikan BBM yang direncanakan pada 1 April 2012. SBY merasa bahwa semua serangan ditujukan kepada kebijakannya. SBY merasa menjadi target utama atau terpenting ('prominent target'). Dalam sebuah sistem kepartaian, SBY adalah salah satu sub sistem dari  Partai Demokrat, sebagai inti yang menggerakkan sistem secara keseluruhan. Sub-sub sistem lainnya seperti Ketua Umum, Sekjen, Dewan Pembina, Dewan Pertimbangan, Fraksi, DPP, DPW, DPC seharusnya bergerak seirama bersama SBY dalam sistem secara utuh.

Dengan perkataan 'tampilah,' nampak bahwa sub sistem lain dari Partai Demokrat dinilai tidak tampil sebagaimana mestinya. Mesin partai pincang, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penulis pernah menuliskan pada beberapa artikel terdahulu, bahwa SBY jauh lebih besar dari partai Demokrat. Disinilah titik rawan kesatuan antara SBY dan partainya. Titik rawan adalah titik dimana apabila lawan mampu mengeksploitasinya akan menyebabkan kelumpuhan. Partai dan segala isinya nampaknya tidak mampu melindungi SBY sebagai inti yang harus menanggung demikian berat beban keseluruhan baik tanggung jawab partai penguasa maupun tanggung jawab pimpinan pemerintah.

Kerawanan lainnya, para pembantunya di Kabinet sebagian adalah kader parpol yang ada parpolnya kadang tidak sejalan dengan kebijakan yang dibuatnya sebagai pimpinan nasional. Pembantahan terjadi karena parpol-parpol itu lebih mengutamakan kepentingannya masing-masing dan mereka menjadi pragmatis, terlebih apabila dikaitkan dengan  pemilu yang  tersisa sekitar dua tahun lagi.

Nah, bagaimana mengatasi serangan dari mereka yang dikatakannya sebagai lawan politiknya? Apakah benar bahwa semua ancaman terhadap SBY dan pemerintahannya hanya berasal dari lawan politik. Nampaknya tidak begitu. Bisa diperkirakan ada para ahli dibelakang ini semua yang memanfaatkan situasi, bukan sekedar lawan politik belaka. Yang perlu disadari, memang serangan seperti provokasi, agitasi akan menyerang titik terlemah dari SBY, pemerintahan dan parpolnya. Citra SBY terus diturunkan, cukup dengan terus mengaitkan parpolnya dengan kasus-kasus korupsi, tanpa kejelasan.

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, serta tokoh terkenal seperti Anggie terus disebut oleh mantan bendaharanya Nazaruddin dalam sidang pengadilan, terlibat. Secara hukum mungkin sulit dibuktikan, tetapi secara citra maka kepercayaan publik terhadap Demokrat jelas telah rusak. Demokrat selalu identik dengan SBY, maka citra SBY ikut runtuh. Terlihat dari beberapa hasil survei terjadinya penurunan persepsi publik itu.

Jadi, langkah pengamanan yang sebaiknya diambil adalah pengamanan dari sisi intelijen, yaitu pengamanan pribadi, pengamanan informasi, pengamanan organisasi  dan pengamanan kegiatan. Menurut penulis SBY sebaiknya segera melakukan ke-empat langkah tersebut yang penulis yakin juga difahami oleh para inner circle-nya. Tanpa counter dengan ilmu intelijen, maka kerusakan yang telah terjadi penulis perkirakan akan menjadi semakin parah.

Penulis pernah menuliskan, para penyerang yang profesional tersebut hampir mencapai titik tertinggi target operasi mereka. Teori yang mereka terapkan beberapa tahun terakhir adalah  "Let them think, let them decide," biarkan rakyat berfikir, dan biarkan rakyat yang memutuskan. Itulah yang kini terjadi, beberapa momentum sulit mereka dapatkan. Nah, kini momentum sentimen BBM coba mereka mainkan. Bak bola salju, anti SBY akan semakin membesar, karena yang disentuh para ahli conditioning itu sesuatu yang kecil tetapi berarti besar bagi masyarakat, baik rakyat yang susah ataupun mereka yang mau menjadi pahlawan.

Parpol, mahasiswa, ormas ataupun LSM dan lain-lainnya yang turun kejalan itu, mereka hanyalah alat yang dimainkan sesuai peran masing-masing dan tanpa mereka disadari. Itulah hebatnya ilmu intelijen. Memprihatinkan dan agak mengkhawatirkan.  Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : fmlk.worpress.com

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.