Peringatan Natal dan Kewaspadaan Terhadap Serangan Teroris di Indonesia

24 December 2011 | 5:34 am | Dilihat : 395

Peringatan Natal di Indonesia akan dilaksanakan bertepatan pada hari libur, Minggu, tanggal 25 Desember 2011. Untuk bersama menghormati hari besar umat Kristiani tersebut, pemerintah mengumumkan, bahwa hari Senin (26/12/2011) sebagai hari libur, cuti bersama.

Berkaitan dengan Natal, penulis membaca pandangan yang menggugah tentang makna dari Natal tersebut. Rohaniwan, Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI menuliskan di sebuah harian di Jakarta. Disebutkannya Kita merayakan Natal di tengah berbagai keterpurukan. Di tengah situasi bangsa yang suram. Bangsa yang mulai abai terhadap penghargaan martabat manusia.

Natal itu untuk mengingatkan kita tentang perlunya kelahiran kembali keadaban publik yang telah hancur akibat nafsu-nafsu yang terkait dengan kepentingan kapital.Yesus datang untuk mengubah struktur sosial bahwa Allah yang punya kekuasaan begitu besar mau melayani mereka yang miskin, lemah tak berdaya karena kaum yang lemah ini punya martabat yang sama sebagai manusia.

Juga dituliskannya, kita menyaksikan begitu banyak bencana melanda negeri ini, juga kekerasan yang masih saja terjadi dengan mengatasnamakan agama dan kepentingan tertentu. Bagaimana kita harus menyikapinya dengan spiritualitas Natal? Natal itu mengajarkan damai. Hidup yang damai baru bisa kita lakukan setelah kita berhasil membangun dialog. Adanya problem intoleran di tengah masyarakat kita itu bisa karena persoalan ideologi, apalagi dengan masuknya paham-paham radikal akhir-akhir ini, juga bisa karena persoalan kesenjangan sosial.

Sementara Budayawan Muji Sutrisno juga membuat tulisan menarik di harian ibukota (24/12) yang menggunakan pesan Ibu Teresa dari Calcuta kala menerima hadiah nobel perdamaian Di Oslo Norwegia dekade lalu. Ibu Teresa dikira ingin menyampaikan sambutan ilmiah dan “speech” akademik seperti tradisi nobel. Namun, apa yang dia buat? Ibu Teresa mengajak hadirin-hadirin para terhormat dunia ini untuk berdiri dan berdoa: “Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai di tempat terjadi perselisihan. Jadikanlah daku penghibur di tempat berlangsung kesusahan. Jadikanlah daku terang di tempat kegelapan. Jadikanlah daku pembawa kasih-Mu di mana terjadi perseteruan, balas dendam,dan kebencian."

Nah itulah masukan dari dua tokoh Kristiani yang  sangat faham dan dalam  menyampaikan  pesan Natal kepada bangsanya. Penulis melihat bahwa perayaan Natal harus dihormati bersama, tanpa melihat perbedaan agama yang oleh sekelompok radikal diniatkan sebagai ajang permusuhan. Kita mesti melihat lebih jauh bahwa mereka yang akan merayakannya adalah saudara kita sebangsa dan setanah air.

Disatu sisi, sejak menjadi narasumber di beberapa stasiun televisi, jauh hari penulis menyampaikan bahwa masih ada kelompok teroris di Indonesia yang kelompoknya kini kecil tetapi jumlahnya masih banyak. Mereka masih berbahaya karena masih ditanamkan oleh para handler untuk siap mati sahid, berjihad dan hadiah surga. Teroris Indonesia yang masih berkeliaran terakhir menyerang dengan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh, Kepunton, Solo, pada hari Minggu (25/9). Terungkap oleh Densus bahwa kelompoknya masih satu jaringan dengan penyerang Masjid Polres Cirebon.

Dari hasil penelitian dan pengamatan selama ini, penulis menyimpulkan bahwa target teroris hingga kini masih belum berubah, yaitu polisi, masjid, gereja dan presiden. Oleh karena itu peringatan Natal yang akan diselenggarakan  di 32.000 gereja di Indonesia  memang sangat patut untuk diamankan. Polri sebagai penanggung jawab keamanan perayaan Natal telah bersiap melakukan pengamanan dengan lebih fokus dan akan menerjunkan 87.000 anggotanya, baik untuk  perayaan Natal 2011 dan Tahun Baru 2012.

Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo seusai apel gelar pasukan Operasi Lilin 2011 di Monas  menyampaikan, “Ancaman anarkisme tentunya menjadi perhatian serius dalam momen merayakan Natal dan Tahun Baru tahun ini.” Timur menyebutkan, dari analisisnya, teror bom kemungkinan bisa saja terjadi. Namun, dia mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir. “Yang penting kewaspadaan. Termasuk di semua tempat,” pesannya. Di Indonesia, kata dia, terdapat 14 provinsi yang menjadi prioritas pengamanan,di antaranya Provinsi Papua, Sulawesi Utara, Maluku, Banten, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat.

Nah, polisi sudah mengantisipasi, tokoh Kristiani juga sudah mengingatkan, kini yang harus dilakukan adalah teknis pelaksanaan sekuriti. Penulis melihat sebuah kerawanan dalam perayaan di Gereja, banyak jamaah yang menggunakan jas ataupun jaket serta membawa tas. Disitulah teroris bisa menyembunyikan bom kecil ataupun mungkin senjata api. Di negara lain, selain bom, serangan dengan sebuah senjata api justru membawa korban yang banyak dan menakutkan. Kini banyak senjata api otomastis yang diperkirakan masih dipegang oleh kelompok teror.

Sebaiknya tiap-tiap gereja melakukan pengamanan internal, memeriksa jamaahnya yang akan memasuki gereja. Akan lebih baik apabila kegiatan pengamanan dibantu oleh anggota Polri. Pengurus gereja tidak bisa sepenuhnya mengandalkan polisi, melihat tidak seimbangnya jumlah polisi dan target yang harus diamankan.

Serangan teror bisa dilakukan dengan tidak terduga, perayaan agama dimanapun menjadi sasaran utama  mereka. Serangan bom yang menimbulkan korban jiwa pada  peringatan Hari Asyura yang dirayakan Islam Syiah di tiga kota Afghanistan pada tanggal 6 Desember lalu adalah bukti, bahwa  hari besar agama tetap menjadi target yang mereka sukai. Teror adalah tindakan brutal yang mengharapkan sensasi besar, agar menjadi konsumsi media yang memang suka menyiarkan berita penuh sensasi. Ketelitian pemeriksaan team pengamanan internal sebelum masuk gereja menjadi kunci keamanan perayaan.

Terorisme bisa di counter, dihalangi dengan langkah antisipasi yang serius dan fokus. Jumlah 32.000 gereja tidaklah sedikit. Partisipasi aktif dari gereja jelas langkah yang jauh lebih baik.  Lakukan pengamanan dan pemeriksaan sebelum masuk gereja tanpa toleransi sedikitpun, terlebih bagi mereka yang dikenali bukan sebagai jamaahnya. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Jangan abaikan jaringan teroris yang nampaknya padam. Mereka masih ada dan berkeliaran, berbahaya, mencari mangsa dan sensasi. Seperti pesan Kapolri, tidak perlu khawatir, tetapi waspada. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.