Mengenal Sepintas Pesawat Siluman F-22 Raptor Milik USAF

12 December 2011 | 12:02 am | Dilihat : 2922

Kalau mendengar kata Raptor, kita akan teringat film Jurassic Park yang disutradarai oleh Steven Spielberg. Film yang menghidupkan hewan-hewan purba pemangsa yang demikian ganas. Raptor adalah nama dari burung purba pemangsa. Raptor, nama informal untuk spesies dalam Velociraptor genus dinosaurus, atau anggota keluarga Dromaeosauridae pada umumnya. Raptor termasuk jenis burung ganas pemangsa, predator. Karena itu, F-22 sebagai burung besi udara pemangsa terunggul diberi nama Raptor.

Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) kini telah mengoperasikan pesawat  F-22 Raptor dibeberapa AFB ( Pangkalan AU). Pesawat ini adalah memiliki kemampuan tidak terdeteksi radar lawan, karena itu disebut pesawat tempur siluman. Ini adalah alutsista (Alat Utama Sistim Senjata) milik USAF yang sangat dibanggakan dan sulit ditandingi. Mendadak diberitakan bahwa China ternyata diam-diam juga mampu membuat pesawat tempur siluman sejenis dengan sandi J-20. Oleh karena itu, sebelum penulis mengulas J-20 pesawat tempur siluman milik China, kita kenali dahulu  F-22 Raptor ini sebagai perbandingan. Siluman-siluman udara tersebut yang penulis perkirakan akan meramaikan udara kawasan Laut China Selatan dimasa mendatang.

F-22  adalah pesawat siluman yang dibuat oleh perusahaan Lockheed Martin Aeronautics, dengan perusahaan Boeing sebagai subkontraktor utamanya. Pabrikan dari Raptor 4001 dimulai pada tahun 1994, pesawat diluncurkan pada bulan April 1997 dan diterbangkan untuk pertama kalinya September 7, 1997. Pesawat mulai  masuk jajaran operasional pada awal Desember 2005. Pesawat tempur ini disebut fighter mematikan, kemungkinan besar akan menang apabila melakukan pertempuran udara dengan jenis pesawat tempur lainnya. Raptor tidak tertandingi dalam dog fight (duel udara),  selain itu juga memiliki kemampuan presisi dalam melakukan serangan darat. disebutkan bahwa  F-22 mampu melakukan kontrol mutlak sebagai sebuah pesawat tempur.

F-22 memiliki suite sensor canggih yang memungkinkan pilot untuk melacak, mengidentifikasi dan menembak ancaman sebelum mendeteksi F-22. Misi F-22 Raptor adalah mendominasi wilayah udara pada setiap medan pertempuran dengan kelengkapan keunggulan gabungannya yaitu  kelengkapan teknologi siluman, supercruise engine, sensor avionik yang terintegrasi, mampu bermanuver melebihi pesawat tempur manapun, serta dilengkapi dengan persenjataan yang unggul. Raptor dilengkapi dengan dua engine  Pratt & Whitney F119-PW-100 yang sangat hebat melebihi pesawat tempur lainnya.

Pesawat dilengkapi dengan enam sistem radar, mampu mengontrol AIM-120 rudal jarak menengah  canggih udara-ke-udara (AMRAAM)  dan dua peluru kendali (rudal) jarak pendek pencari panas AIM-9 Sidewinder, selain itu juga dilengkapi meriam tunggal multibarel  versi modern M61A2, 20-mm. F-22 memiliki peran sekunder untuk menyerang sasaran permukaan. Pesawat ini mampu membawa dua bom 1.000 pon untuk Serangan Munisi Langsung Gabungan (JDAMs) internal dan akan menggunakan on-board avionik untuk navigasi dan dukungan persenjataan.

Raptor mampu melakukan  terbang sangat tinggi, jauh dan sangat cepat dengan  resiko terdeteksi minimal. Raptors selama dekade berikutnya dibuat untuk menggantikan armada F-15 Eagle, yang dinilai sudah sangat tua.  F-22 Raptor, dikembangkan di Pusat Sistem Aeronautika, Wright-Patterson Air Force Base. Skuadron operasional Raptor berada di Langley AFB, Va dan Elmendorf AFB, Alaska. Pangkalan lainnya yang dipilih adalah Holloman AFB, NM dan Hickam AFB, Hawaii. Tes lanjutan Raptor dilakukan  di Edwards AFB, California dan Nellis AFB, Nevada dan Tyndall AFB, Florida.  F-22 direncanakan dapat  terus dioperasikan hingga tahun 2040. Kandidat lainnya termasuk Elmendorf AFB, Alaska; Eglin AFB, Fla, dan Mountain Home AFB, Idaho.

Evolusi dan Tambahan F -22 Program dimulai pada awal Tahun 1980-an sebagai Pesawat tempur taktis lanjutan (ATF), sebuah generasi pesawat tempur yang dirancang untuk menghadapi dan mengalahkan Angkatan Udara Soviet pada puncak Perang Dingin. Dengan jatuhnya Tembok Berlin, peran ATF diperluas untuk mencakup kemampuan multimission, seperti presisi-strike serangan darat. Pemerintah AS saat ini tidak mengizinkan penjualan pesawat F-22 kepada negara lain.

Pada bulan April 2009, Menteri Pertahanan Robert M. Gates menyatakan bahwa Amerika Serikat, dalam melakukan dua perang yang panjang di Irak dan Afghanistan, belum akan menggunakan Raptor untuk misi tunggal disalah satu palagan tempur tersebut. Dia mengatakan menginginkan membeli tambahan empat buah pesawat F-22 saja, harga setiap pesawat sekitar sekitar US$ 140 juta. Pemerintah AS telah memesan dan sedang dikerjakan produksi 187 F-22 sejak Tahun 2009.

Itulah sedikit gambaran pesawat tempur mutahir yang mematikan dari USAF. Pemerintah China kini mulai meniru membangun pesawat tempur serupa, J-20 untuk mengimbangi AS dalam keunggulan di udara. Persaingan teknologi kekuatan Angkatan Udara berkemampuan unggul dalam melakukan penghancuran, yang diperkirakan akan menjadi kekuatan diplomasi militer sebuah negara.

Indonesia mendapat hibah 24 buah F-16, dan ditambah dengan satu skadron Sukhoi, serta beberapa pesawat F-16 yang sudah dimiliki, dinilai belum mempunyai nilai tawar untuk sebuah diplomasi militer dengan negara lain. Semoga kekuatan pesawat tempur tetap menjadi perhatian pemerintah, karena perang di Libya menunjukkan bahwa dominasi udara AS dan NATO akhirnya mampu melumpuhkan kedigdayaan Kolonel Khadafi. Prayitno Ramelan (http://ramalanintelijen.net)

Ilustrasi Gambar : mofoyo.com

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.