Mengapa Hary Tanoe Bersemangat ke NasDem

9 November 2011 | 9:18 pm | Dilihat : 826

Nama Hary Tanoe secara perlahan mulai berkibar dengan bendera MNC yang entah mempunyai beberapa channel media elektronik itu. Hary Tanoe sangat pintar memainkan media elektronik sebagai kartu penting dalam dunia politik di Indonesia. Bahkan dia berani mengukuhkan diri sebagai jawara dunia pertelevisian di tanah air, dengan membuat beberapa macam ragam acara yang dapat menjadi pilihan bagi para pemirsanya. Mulai dari Indovision, MNC, Global TV, RCTI, MNC News, MNC Muslim, Musik dan beragam lainnya, disamping harian Seputar Indonesia.

Kini secara resmi Hary Tanoe menyatakan bahwa dia resmi bergabung dengan Surya Paloh pemilik Metro TV dan Harian Media Indonesia. Dikatakannya, "Sederhana, kalau saya secara pribadi, secara bisnis bisa dikatakan mapan, tapi bagaimanapun saya ingin berkontribusi dengan bangsa ini," ujar Hary Tanoe usai pembukaan Rapimnas I partai Nasdem di hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Rabu (9/11/2011). Kemana mereka akan menuju dan seberapa besar bahaya keduanya bagi parpol dan capres lainnya dalam pertarungan di 2014 nanti?

Menurut penelitian khususnya pada pemilu dan pilpres 2009, media adalah alat yang disebut "silent revolution". Dia senyap tetapi tanpa terasa pengaruhnya demikian besar dalam mempengaruhi pemirsa. Tanpa terasa pemirsa kemudian terperangkap alam bawah sadarnya setelah menyaksikan sebuah tayangan yang diulang-ulang. Revolusi senyap yang diciptakannya menurut beberapa pakar politik dikatakan mampu mengalahkan jejaring partai dalam memengaruhi konstituen.

Mengapa demikian? Televisi tanpa disadari telah menyusup kebalik dinding dimanapun, dan merupakan hiburan bagi rakyat yang memang haus hiburan disaat sulit. Pernah seorang pejabat diluar Jawa menyampaikan kepada penulis, bahwa dia tidak pernah beranjak dari dua buah stasiun televisi, yaitu Metro TV dan TV One. Ini berarti berita sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Nah, kini Hary Tanoe dengan dukungan media yang tidak main-main, akan meramaikan panggung politik dalam naungan Partai Nasdem. Partai ini menjadi pilihan Hary dengan beberapa alasan. Hary Tanoe menyebut dirinya saat ini ingin berkontribusi kepada bangsa Indonesia. Dia ingin memadukan pengalaman bisnisnya dengan menimba pengalaman di dunia politik. Saat ditanyakan mengapa memilih Partai NasDem, dijelaskannya "Saya beberapa kali berbicara dengan Pak Surya Paloh, kita ini memiliki perpektif misi yang sama, bagaimana membangun negeri ini," terangnya. Selain itu karena Nasdem adalah partai baru.

"Kami partai baru, dinamika akan lebih mudah dari pada suatu partai yang sudah mapan dan establish. Mereka sudah punya platform yang mungkin sulit untuk dimodifikasi," jelasnya. Dengan kesamaan misi dan perspektif itu, Hary Tanoe kemudian didaulat menjadi Ketua Dewan Pakar partai NasDem.

Berkaitan dengan bisnis dikatakannya,"Dari hari ke hari bisnis saya makin baik. Anda bisa cek di pasar modal semua harga saham perusahaan saya naik. Jadi tidak ada unsur itu. sebagai warga negara kita ingin berkontribusi secara konkrit. Bukan di belakang layar tapi di depan dan mudah-mudan saya berguna," jelasnya. "Bagaimana saya membesarkan MNC selama ini, saya satukan menjadi strategi yang kita pakai untuk partai NasDem, setelah itu besar apa tidak, itu urusan yang Maha Kuasa," katanya.

Itulah alasan utama Hary Tanoe bergabung ke NasDem, selain yang katanya juga ingin berkontribusi kepada bangsa Indonesia. Nah gabungan kedua kekuatan media ini jelas tidak dapat dipandang ringan oleh kandidat lainnya. Seorang pakar media jelas mampu dengan ilmunya membuat sebuah acara, mendukung atau menjatuhkan citra lawan politik, disamping terus menanamkan kepercayaan kepada masyarakat. Dengan demiian maka pada pemilu 2014 nanti yang akan banyak dimainkan adalah peran media, khususnya media elektronik.

Golkar jelas memiliki stasiun televisi, entah bagaimana dengan PDIP dan Partai Demokrat. Nampaknya harus bersiap-siap menghadapi perang media pada era digital ini. Siapa cepat dia dapat, itulah pepatah yang perlu diperhatikan. Waktu tiga tahun adalah waktu yang cukup pendek untuk membangun brand image. Apakah Surya Paloh dan Hary Tanoe mampu membesarkan diri dan partainya? Bisa ya dan bisa tidak. Secara bisnis keduanya sangat mahir memainkan perusahaan sebagai pendukung misi politiknya, akan tetapi yang harus mereka hadapi adalah tricky politik.

Dan yang harus diingat, sudahkan Hary Tanoe dan Surya Paloh menjadi patron? Penulis berani  menjawab belum. Kini patron terkuat yang siap  baru Megawati, Aburizal Bakrie sedang berusaha menjadikan dirinya patron. Prabowo mulai menuju kearah patron, tetapi hambatannya Partai Gerindra masih sebagai partai papan bawah, yang bisa tersapu apabila parliamentary threshold dinaikkan menjadi 4-5 persen. Partai Demokrat yang menurut Anas Urbaningrum baru akan bicara capres pada tahun 2014 jelas akan jauh ketinggalan kereta, menurut penulis elit politiknya tidak siap untuk bersaing. Calon yang lainnya jelas masih belum mampu apabila kini dihadapkan head to head dengan Mega dan Aburizal serta Prabowo, mereka masih kalah kelas.

Nah, dengan demikian Apabila Surya Paloh dan Harry Tanoe akan maju pada 2014, gerakan membesarkan NasDem semestinya harus paralel dengan menjadikan keduanya menjadi patron. Terlepas dari segalanya, pasangan ini menjadi berbahaya karena selain memiliki media, jelas keduanya mempunyai uang. Kiranya begitu?. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.