Kisah Kejatuhan Khadafi dan Masa Depan Libya

22 September 2011 | 10:40 am | Dilihat : 1384

Carut marut kondisi keamanan di Libya dalam tujuh bulan terakhir begitu memprihatinkan. Tanpa belas kasihan perang saudara sebangsa itu terasa menyesakkan kita yang melihatnya di media elektronik. Saling tembak, saling bom dan saling bunuh. Presiden Khadafi dan pendukungnya (loyalis) melawan pejuang pemberontak yang didukung NATO dan AS dilain sisi.

Kekuasaan Kolonel Muammar El-Qaddafi (Khadafi) yang telah berkuasa lebih dari 42 tahun telah dirongrong oleh rakyatnya sendiri sejak Februari 2011. Selama ini Khadafi demikian superior, otoriter,  berani, tidak mengenal takut. Intelijen Barat mengidentifikasi keterlibatannya  dalam banyak  serangan teroris yang paling mematikan di belahan dunia pada pertengahan tahun 1980. Diantaranya pengeboman pesawat Pan American di Lockerbie Scotlandia yang menewaskan 270 penumpang dan awak pesawatnya.

Pemberontakan terhadap Khadafi dimulai pada bulan Februari 2011. Pemberontak berhasil menguasai bagian Timur Libya dan kemudian ditumpas oleh pasukan Khadafi. Pada saat pemberontak akan dihabisi di kubu mereka di Benghazi, Dewan Keamanan PBB melakukan langkah dan wewenangnya dalam penggunaan kekuatan untuk melindungi warga sipil di Libya.

Pada tanggal 19 Maret 2011, kekuatan militer (khususnya udara dan laut) AS dan NATO mulai melakukan kampanye serangan udara terhadap kekuatan militer (loyalis) Khadafi. Serangan udara tersebut merupakan operasi udara strategis terbesar setelah perang di Irak, berupa pemboman pesawat tempur dan penyerangan dengan peluru kendali jarak menengah dari kekuatan sekutu. Operasi udara berhasil menghancurkan kekuatan pertahanan udara AU Libya dan superioritas udara di kuasai NATO dan AS. Kekuatan udara Libya serta pertahanan udaranya sebagian besar telah dihancurkan karena kalah jauh dalam masalah teknologi. Di Libya kemudian diterapkan aturan zona larangan terbang, tiap pesawat yang terbang tanpa ijin akan ditembak jatuh.

Kolonel Khadafi menyatakan tidak takut dan akan terus melawan kekuatan sekutu dan pemberontak yang disebutnya aliansi. Dia menolak upaya  mediasi dari Presiden Afrika Selatan pada akhir Mei 2011, walau kekuatan udaranya telah lumpuh dan kekuatan daratnya sebagian besar telah dihancurkan sekutu. Pasukan lapis bajanya tidak berdaya menyerang pemberontak karena terus didikte dan dihancurkan oleh pesawat penyerang sekutu.

Mahkamah Pidana Internasional yang berkedudukan di Belanda pada 27 Mei 2011 akhirnya mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Khadafi, Saif Al-Islam (anaknya) serta Kepala Dinas Intelijennya, Abdullah Senussi dengan tuduhan telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan, diklasifikasikan sebagai tindak kejahatan terhadap kemanusiaan. Sejak akhir Agustus, setelah Tripoli jatuh ketangan pemberontak Khadafi menghilang dari Tripoli.  Khadafi mendadak muncul di televisi Syria (Suriah), menjelekkan para pemberontak, mengajak semua suku di Libya agar berbaris melawan pemberontak. Bahkan Khadafi menyatakan pesawat tempur NATO tidak akan terus mampu menyerang para loyalisnya. Dia menyatakan siap mati syahid dalam melawan aliansi.

Pada Selasa (20/9) dalam sidang di PBB, para pemimpin dunia sebagian besar menyatakan agar tidak mengakui lagi pemerintahan Khadafi. Dukungan juga datang dari China dan Afrika Selatan yang selama ini pro ke Khadafi. Presiden Afrika Selatan menyentil agar serangan balas dendam terhadap Sub Sahara Afrika agar dihentikan.  Kepala pemerintahan sementara Libya Abdel-Jalil mengatakan senang bahwa pemerintahan baru Libya telah diakui. Hanya dia agak khawatir terhadap kemungkinan langkah sabotase yang mungkin dilakukan para loyalis.

Presiden Obama menyatakan akan membuka kembali kedutaan besarnya di Tripoli yang telah ditutup saat terjadinya konflik. Obama menyatakan  dan mengingatkan "kita tidak dapat dan tidak seharusnya ikut campur tangan setiap kali terjadi ketidak adilan di dunia." Dalam kasus di Libya, dikatakananya bahwa setelah empat dekade, rakyat Libya akan dapat bebas dari tirani.

Itulah kisah Khadafi dan negara Libya yang dapat dipastikan belum akan selesai dan aman dalam waktu-waktu mendatang. Irak dan Afghanistan adalah contoh dimana pemerintahan baru terus menerus dirongrong pendukung rezim lama, dan penyerangan dengan pola terorisme terus berlangsung bertahun-tahun. Memang di dunia tidak ada teman yang abadi, yang abadi adalah kepentingan nasional sebuah negara. Jadi kini Libya sebagai salah satu negara penghasil minyak, tetap akan merangsang negara-negara besar untuk berbaik-baik dengan pemerintahan sementara itu.

Menurut penulis, masa depan Libya masih suram dan belum jelas, ancaman loyalis Khadafi potensinya tetap besar. Sementara diantara kelompok pemberontak juga belum tentu solid, kemungkinan perpecahan bisa terjadi sewaktu-waktu. Kita akan melihat nanti, bahwa sebuah pemerintahan yang dijatuhkan dengan gaya koboi akan sulit dipersatukan, karena koboi itu memegang senjata dan bisa menjadi liar sewaktu-waktu. Sekarang teman, besok belum tentu menjadi teman, tergantung kepentingannya, karena mereka masig-masing merasa kuat dan hebat dengan senjatanya.  Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.