Kala Tiga Bom Meledak di Thailand Selatan

17 September 2011 | 2:07 pm | Dilihat : 300

Rangkaian ledakan tiga buah bom terjadi di Kabupaten Sungai Kolok, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan Jumat kemarin (16/9).  Setidaknya tiga orang, termasuk turis asing, tewas dan lebih dari 50 terluka dalam rangkaian tiga serangan bom tersebut. Demikian diberitakan serangan teror yang  menakutkan di wilayah yang penuh dengan bar dan hotel tersebut.

Ledakan pertama terjadi pukul 06.40 waktu setempat, berasal dari sebuah sepeda motor, terjadi di Charoen Khet Road, sungai Kolok yang berseberangan dengan Asosiasi Teochew. Ledakan berasal dari sebuah sepeda motor yang diparkir, melukai sejumlah besar orang yang lewat, baik wisatawan maupun penduduk lokal, dan menyebabkan seorang anggota staf dari asosiasi meninggal dunia.

Ledakan kedua terjadi Sekitar 15 menit kemudian, kembali sebuah  bom yang diletakkan pada sepeda motor meledak di depan sebuah bar yang terletak  sekitar 300 meter dari lokasi ledakan pertama. Ledakan terjadi didekat persimpangan jalan yang menuju kantor cabang Sungai Kolok TOT Plc. Beberapa turis Thailand dan Malaysia menderita luka-luka terkena serpihan bom tersebut.

Bom ketiga meledak sekitar pukul 07.20 dari sebuah mobil yang diparkir di dekat sebuah warung makan di seberang Hotel Merlin. Beberapa toko di dekat sumber ledakan dan salah satu sisi hotel mengalami  kerusakan. Kapten Theerapong Suwannawetch, komandan 1922 Gugus Tugas yang bertanggung jawab atas keamanan di Sungai Kolok menderita luka parah. Dua orang lainnya, termasuk seorang turis asal Malaysia juga tewas. Polisi telah menahan dua orang  tersangka untuk diperiksa terkait  serangan tiga bom tersebut.

Paska ledakan, terjadi pemadaman listrik di pusat kota. Aparat keamanan/polisi kemudian  memblokir jalan-jalan di sekitar tiga lokasi bom dan aktivitas ponsel sementara dimatikan, untuk mencegah kemungkinan adanya serangan susulan berupa  bom jarak jauh.

Rangkaian serangan bom tersebut terjadi beberapa jam setelah polisi Muslim, petugas serta relawan pertahanan ditembak mati di masjid Tambon Budi yang terletak di distrik Muang Yala. Seorang anggota polisi dan relawan pertahanan tewas ditembak oleh empat pria saat melaksanakan shalat dan berdoa di masjid. Sehari sebelumnya lima perwira polisi juga tewas akibat ledakan bom yang ditanam di jalan Distrik Kapho Pattani.

Dalam serangan lain, sebuah bom meledak di sebuah pangkalan militer Narathiwat 31st Special Task Force di Cho Airong distrik Narathiwat pada Kamis malam (15/9), yang  melukai tiga anggota militer dari enam anggota militer Thailand  yang sedang mendirikan sebuah pos pemeriksaan di desa terdekat. Para penyerang kemudian meledakkan bom pinggir jalan dimana para prajurit biasa melewati jalan tersebut. Bersamaan dengan ledakan bom, kelompok penyerang lain menembaki pangkalan militer. Menurut para petugas, serangan bom itu ditujukan untuk memikat tentara agar meninggalkan basis mereka untuk memeriksa lokasi ledakan.

Wakil PM Thailand, Kowit Wattana mengatakan bahwa kegiatan kelompok militan meningkat setelah pemerintah mengirimkan perwira tinggi ke Thailand Selatan, dimana pemerintah akan mengetatkan pengamanan wilayah dan akan melakukan  serangan pre-emptive. Tercatat, sejak  2004 hingga bulan Agustus tahun ini, telah terjadi 11.074 kasus tindak kekerasan di provinsi yang mayoritas penduduknya muslim. Sejumlah 4.846 orang, yang sebagian besar Muslim telah tewas di propinsi Pattani, Yala dan Narathiwat sejak terjadinya pemberontakan muslim berkobar sejak bulan Januari 2004. Provinsi Narathiwat Selatan adalah satu dari tiga provinsi yang didominasi Muslim dan berbatasan dengan Malaysia.

Kekerasan demi kekerasan terus melanda Thailand Selatan. Dari sejarah, wilayah Selatan Thailand yang terdiri dari Pattani , Narathiwat dan Yala pada awalnya adalah bagian dari Tanah Melayu (Malaysia), tetapi oleh Inggris kemudian diserahkan kepada pemerintah Thailand melalui Perjanjian Bangkok 1909. Kelompok kaum nasionalis di Thailand Selatan menginginkan kemerdekaan sepenuhnya dari Thailand. Namun akhir-akhir ini Organisasi Pembebasan Bersatu Pattani (PULO) telah berunding dengan pemerintah.  Sementara kelompok muslim lainnya menginginkan terbentuknya  negara Islam di wilayah selatan Thailand tersebut .

Luka lama di Thailand Selatan kembali berdarah sejak 2003 menyusul instruksi keras oleh Perdana Menteri Thailand , Thaksin Shinawatra terhadap penduduk Yala , Narathiwat dan Pattani yang militan . Tercatat lebih dari  1500 orang penduduk muslim telah tewas. Terdapat tujuh organisasi militan di Thailand Selatan, yaitu Pergerakan Mujahidin Pattani (BNP) Organisasi Pembebasan Bersatu Patani (PULO), Gerakan Mujahideen Islam Pattani (GMIP), Gerakan Grup Mujahidin Islam Pattani Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Pembebasan Nasional Pattani (BNPP) , Jemaah Islamiyah (JI), dan Kelompok Kecil Runda (RKK)

Metode perjuangan Al-Qaeda khususnya di Afganistan telah menjadi sumber ide dan inspirasi di kawasan bergolak tersebut. Militer Thailand menuduh Gerakan Mujahidin Islam Pattani (GMIP) dan  kelompok serpihan lainnya dituduh menjadi  penyedia bahan peledak dan melatih anggota-anggotanya  untuk meledakkan bom bunuh diri, melakukan penembakan gelap dan merakit dinamit pada motor dan sepeda. Sasaran utamanya adalah tentara, polisi dan sarang maksiat.

Apa yang bisa dipetik dari kasus Thailand Selatan. Kelompok militan memperjuangkan idealismenya dan kemudian mengkristal  menjadi kelompok separatis. Unsur SARA sangat kental berperan di tiga propinsi Thailand Selatan tersebut. Indonesia juga memiliki beberapa wilayah yang berpotensi terjadinya kasus serupa, intelijen strategis menyebutnya "trouble spot." Kini di era demokrasi kebebasan, Papua,  Ambon/Maluku adalah trouble spot yang harus diikuti perkembangannya dengan fokus, disana masih terdapat ide kelompok separatis OPM  dan RMS. Walaupun masih kecil, gangguan keamanan di Papua dengan senjata api serta pernah terjadinya perang di Ambon nampaknya telah menjadi studi kasus 'sangat penting' untuk terus dicermati. Semangat menjaga NKRI kini berada di pundak masyarakat, dengan pejuru aparat pemerintah. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen. net )

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.