Nazaruddin Dan Counter Pembunuhan

24 August 2011 | 6:43 am | Dilihat : 416

Dalam organisasi Mafia atau Mafioso, ada sebuah kekuasaan yang demikian dominan, dimana kedipan matanya saja sudah dapat menerbangkan nyawa seseorang. Kekuasaan yang dimiliki oleh Capo Dei Capi (Kepala dari para Capo atau kepala Mafioso) adalah tokoh yang demikian disegani dan ditakuti oleh siapapun di organisasinya ataupun oleh masyarakat dan bahkan pejabat sekalipun. Dia dengan enteng akan mengirimkan team cleaner ke sasaran atau target untuk melenyapkan orang atau bahkan keluarga yang dinilainya menjadi 'trouble maker' bisnisnya. Pejabat yang takut biasanya pernah terlibat dalam kegiatan ilegal dan terkait dengan mafioso.

Nah, kalau kita melihat kasus Nazaruddin saat ini, dimana dia dikawal oleh tokoh pengacara O.C. Kaligis, ternyata mampu melakukan tekanan balik kepada aparat keamanan dan hukum di negeri ini. Nazar melakukan upaya, aksi diam, aksi kata  lupa, minta pindah rutan, menulis surat kepada presiden SBY, mencoba menekan KPK dengan kata-kata Dewa, ingin diperiksa Polisi, menyebut ada kaitan dengan Ketua KPK Busyro Muqodas dan beberapa acting lainnya.

Apakah maksud dan tujuan dari semua yang dia lakukan itu? Siapa yang berada dibalik ini semua? Ada tiga kemungkinan, yaitu karena akalnya dia sendiri, strategi pengacara/kuasa hukumnya dan ada ahli perang psikologi (psychological warfare) yang bersembunyi dibalik layar. Mari kita ulas lebih lanjut. Apa yang ditakuti Nazaruddin? Dia faham bahwa kemungkinan penghabisan nyawanya sangat mungkin, apabila mereka yang diduga terlibat merasa Nazar akan buka mulut.

Langkah pengamanan atau counter pembunuhan dilakukan dengan pengumuman tutup mulut dan siap dihukum sendiri tanpa melibatkan siapapun. Dia akan aman karena para mafioso (kelompok koruptor) merasa aman, tidak akan terjerat hukum atau dipanggil KPK. Kedua dia minta pindah Rutan, ini hanyalah sebuah pelemparan informasi bahwa ada kemungkinan dia dibunuh di Rutan Mako Brimob. Dengan demikian aparat, khususnya polisi akan sangat hati-hati menjaganya dari kemungkinan dia di karetkan (baca dikubur di karet).

Langkah selanjutnya dia minta dipindah pemeriksaan ke polisi, menunjukkan bahwa KPK tidak kredibel, dan dia mencoba menjatuhkan citra ketua KPK. Langkah cerdas menulis surat ke presiden adalah sebuah schak oleh  buah catur kuda. Dalam permainan catur, raja mau tidak mau harus bergeser, schak dengan kuda tidak bisa ditutupi, berbeda dengan buah catur lainnya. Nah, presiden terpaksa bergeser dan memilih membalas surat Nazaruddin. Terlepas apapun isinya balasan presiden, kita bersama melihat bagaimana publik, pengamat mencerca presiden, bahkan banyak yang nadanya menghina. Lupa bahwa presiden SBY adalah presiden terpilih.

Publik menjadi jelas bahwa Nazar dilindungi, dengan harapan dia mau membuka mulut, menyentuh siapapun yang terlibat.  Nazar dan team pembela sadar bahwa keselamatan Nazar akan sangat terancam tanpa perlindungan berlapis tadi. Dengan demikian maka Nazar menyampaikan pesan kepada para capo bahwa dia akan menutup informasi yang buruk-buruk. Dengan cerdik dia tanpa meminta langsung, keselamatannya akan dilindungi aparat keamanan  karena presiden juga menyatakan keselamatannya akan dijaga.

Selanjutnya  Nazar menyatakan bahwa KPK tidak akan mempu menekannya, dan dia bahkan mampu menekan KPK. Citra KPK dan pemimpinnya coba dihabisi oleh Nazar dan team. Nah, itulah pembacaan penulis terhadap ulah Nazaruddin yang cerdik. Sebetulnya semua dilakukan Nazar, dengan team pembela serta kemungkinan adviser ahli perang urat syaraf dibelakangnya, agar dia bisa selamat dari ancaman cleaner. Tokoh sentral macam Nazar akan jauh lebih takut terhadap  ancaman abu-abu mafioso dibandingkan ancaman hukuman dari KPK.

Dia yakin, kalaupun toh nanti dipenjara, ada saja peluang menjenguk keluarganya, kira-kira begitu. Dilain sisi Capo Dei Capi akan tetap berkiprah dan tersenyum, jangan takut dengan ancaman KPK katanya, kamu akan tetap dilindungi, dan hukumannya tidak lama. Dengan kata lain langkahnya merupakan upaya counter pembunuhan. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.