Terima Kasih Polisiku

12 August 2011 | 1:46 pm | Dilihat : 203

Tadi pagi penulis menghadiri undangan AKI Pagi TV One sebagai narasumber diserahkannya teroris buronan kelas kakap seharga Rp 8,4 miliar dari pemerintah Pakistan kepada pemerintah indonesia. Umar Patek nama yang cukup terkenal dengan penampilan jenggot dan bermuka keturunan arab memang patut ditakuti.

Pada acara tersebut, penulis menjadi narasumber bersama-sama dengan Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ketut Untung Yoga Ana. Sebelum talk show Umar Patek, Brigjen Untung menjadi narasumber pemulangan mantan bendahara Partai Demokrat Nazaruddin. Semua di negara ini menjadi sibuk hanya karena seorang Nazaruddin, beberapa elit politik saling mencari kelemahan, bahkan ada yang menyarankan membubarkan partai. Serem sekali. Belum lagi ada 45 tokoh yang menyatakan kecewa ke SBY. Waaah, tambah ramai lagi.

Kemarin malam saat juga diundang TV One, penulis menyampaikan, bahwa berita Nazar yang diborgol jauh ratingnya dibanding berita teroris. Entah mana yang lebih bahaya. Memang penulis pernan menyampaikan kalau ulah Nazaruddin adalah juga tindakan teror, menyampaikan berita terbuka ke publik, menyerang Anas. Teroris selalu menyerang psikologis, nah beberapa elit Demokrat walau tetap tenang nampak agak gelisah dan tertekan. Jagoan yang biasa berteriakpun pada surut. Yang membuat prihatin ada yang mengatakan kalau partai Demokrat adalah fans club, maksudnya kumpulan mereka yang ngefans ke Pak SBY. Aduuuh, terasa repot sekali budaya demokrasi ini. Bisa saling omong seenaknya.

Nah, kita tahu bahwa Nazaruddin adalah tokoh kunci yang akan membuka aib beberapa orang, seperti yang pernah diteriakannya, kalau betul. Publik dengan harap-harap cemas menantikan pembuktian celotehnya. Bagaimana gegernya dunia politik ini apabila memang dia punya bukti. Tapi melihat gaya jalan dan tundukan mukanya, nampaknya Nazar yang tertangkap itu kecil kemungkinan berani berteriak lagi. Lantas kalau Nazar bungkam, bagaimana reaksi publik? Penulis perkirakan akan kembali terjadi ribut, tuduhan beterbangan dan yang diserang ya Partai Demokrat lagi.

Kenapa sebenarnya terjadi seperti itu? Kita harus bersabar, dan kita ikuti nanti seperti kisah Ali-Baba saja. Penulis kembali ke Pak Untung Yoga, pertanyaannya kenapa orang sulit sekali mengucapkan terima kasih? Tidak ada apresiasi kepada Polisi, katanya. Kalau penulis pikir benar juga. Nazaruddin kan tertangkap tidak begitu saja, ada sebuah proses pencarian melalui berbagai jalan. Polisi melalui interpol, nah masyarakat menilai memang itu pekerjaannya. Lantas keberhasilan polisi menggulung, menangkap tindak terorisme di Indonesia. Orang ya menilainya biasa saja. Kenapa? Karena memang kini kita tidak ada yang peduli dan memikirkan orang lain  selain diri kita. Tidak ada peduli kalaupun ada polisi terbunuh dalam tugas.

Rupanya budaya kebebasan telah membentuk masyarakat menjadi bebas, tidak peduli, serobot sana serobot sini, saling mendesak, mencerca, memaki, selalu mencari kesalahan orang lain. Terakhirnya kalau sudah panas dia membawa golok. Memprihatinkan bukan? Iya penulis prihatin. Nah, siang ini penulis mencoba menuliskan sebuah artikel dengan gaya bebas.....eeeeh... ternyata memang enak bebas itu. Tidak mikir apa-apa. Karena itu kesimpulannya, kalau gaya bebas dibiarkan berlangsung seperti ini terus, tanpa melupakan para kyai, bukankah banyak dari kita-kita yang akan masuk neraka? Betul? Silahkan deh bergaya koboy. Jangan hanya menyerang presiden saja, coba dibuat rekonsiliasi nasional. Berdamai, berdamai, berdamai...Kata spanduk Kodim, "Damai itu indah." Maafkan saya para pembaca sekalian.

Pada akhir tulisan ini penulis mengucapkan "terima kasih teman-temanku, adik-adikku Polisi" yang telah berbuat yang terbaik kepada bangsa dan negara, jangan lantas kecewa apabila masyarakat tidak peduli dan tidak mau mengucapkan terima kasih  kepadamu.  Teruskan pengabdianmu, perjalanan bangsa ini masih panjang dan jauh, kawallah itu sesuai dengan tugas masing-masing. Percayalah semua pengabdian anda pasti dicatat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan lemah, jadilah Bhayangkara terbaik dinegeri ini. Salam hangat dan selamat bertugas, dimanapun anda berada. Prayitno  Ramelan (Ordinary people).

 
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.