Mampukah Demokrat Melakukan Counter ?

12 July 2011 | 12:22 am | Dilihat : 305

Senin (11/7) sekitar pukul delapan malam, Pak SBY dalam posisinya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, mengutarakan pandangan terhadap situasi politik belakangan ini yang dinilainya tak sehat.  Dikatakannya banyak pemberitaan media massa, termasuk media yang selama ini memiliki kredibilitas dan reputasi baik, yang terus memojokkan Partai Demokrat dengan bersumber dari SMS atau BBM.

Misalnya, SMS dan BBM yang dikirim orang yang mengaku bernama Nazaruddin, yang sekarang yang bersangkutan masih buron. Tak dikonfirmasi kebenarannya, dianggap kebenaran, dan dijadikan alat untuk menghakimi Partai Demokrat. SBY mengatakan, ada kampanye negatif yang diedarkan bahwa kader PD dan orang-orang dekat SBY tak tersentuh hukum ketika diduga terlibat kasus korupsi. SBY meminta masyarakat tak mudah percaya dan  mengimbau masyarakat yang mendengar hal tersebut agar bertanya langsung kepada aparat penegak hukum.

SBY mengimbau seluruh kader PD untuk bersatu dalam menghadapi serangan bertubi-tubi. Para kader PD juga diminta tetap sadar dan tawakal. "Jangan mau dipecah belah dalam acara-acara talkshow apa pun. Atau dijadikan objek berita kalangan pers yang sengaja menghadap-hadapkan satu sama lain. Di atas segalanya, saya mengajak kader Partai Demokrat jangan ikut-ikutan politik seperti ini," tegasnya.

Pak SBY juga menegaskan bahwa isu Kongres Luar Biasa (KLB) tidak ada dan yang akan diselenggarakan adalah Rakornas ada akhir Juli 2011. Ditegaskannya,  "Saya pastikan, Partai Demokrat tidak merencanakan kongres luar biasa seperti itu. Ini jelas adu domba. Seolah ada unsur pimpinan Partai Demokrat yang mengusulkan kepada saya untuk menggelar kongres luar biasa dan kemundian menurunkan Ketua Umum Anas Urbaningrum. Usulan dan permintaan seperti itu tidak ada."

Partai Demokrat pada Rakornas akan membahas langkah untuk mendisiplinkan kader partai yang dinilai tidak patuh pada etika dan disiplin partai. "Partai Demokrat tak ingin karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Partai Demokrat, dengan sadar dan penuh tanggung jawab, akan mendisiplinkan, menertibkan, dan menindak kader yang tidak benar."

Konperensi pers tersebut diberikan oleh SBY sehari setelah beredar SMS Marzuki Ali yang kader Demokrat dan kini menjadi Ketua DPR, yang malaporkan perkembangan politik negatif dan memukul PD. Marzuki menegaskan bahwa sebagai anggota Dewan Pembina, wajar bahwa dia perlu melaporkan segala sesuatunya kepada Ketua Dewan Pembina.

Apa yang bisa dilihat dari konperensi pers tersebut? Nampak Pak SBY mengingatkan bahwa Partai Demokrat sedang di obok-obok, dan meminta kadernya agar waspada, jangan terpancing dengan politik adu domba. Juga SBY mengingatkan bahwa ada ketimpangan pemberitaan, dimana pengiriman SMS dan BB gelap akhirnya menjadi pegangan media massa. Dan PD adalah partai yang dirugikan. Selain itu nampaknya Pak Ketua juga kecewa karena ada kader Demokrat yang mau diadu domba satu sama lainnya.

Nah, dari informasi diatas, nampaknya sumber serangan terhadap Partai Demokrat dan SBY dilakukan dengan cerdik dan bergelombang. Penyusun strategi sangat pandai memainkan momentum dengan ikon negatif Nazaruddin yang dinilai sudah cukup terkenal dan negatif secara resmi. Nazar hanya menjadi detonator dalam rangka serangan bergelombang yang secara perlahan menyentuh kader tengah, kader atas dan terakhir inner circle Ketua Dewan Pembina. Rumors sudah bergulir dan digulirkan, sasaran di tubuh elit Demokrat sudah menyentuh nama kader-kader muda, Anas, Andi dan Ibas.

Dengan penjelasannya nampaknya Dewan Pembina Partai Demokrat sudah sepakat akan memberhentikan  kadernya yang bermasalah dan mengingatkan kadernya yang salah langkah  pada akhir Juli mendatang. Yang dibutuhkan kader Demokrat adalah satu pegangan, mestinya mereka tetap berpegang pada tokoh utamanya Pak SBY, sebagaimana PDIP berpegang teguh kepada Mega dan Golkar kepada Bang Ical. Entah mengapa Partai Demokrat memunculkan tokoh kontroversial, yang bahasa politisnya kurang tertata.

Dilain sisi, Anas sebagai Ketua Umum DPP PD, sebaiknya berani tampil, disamping langkah hukum, dia harus menjelaskan ke publik tentang rumors yang bertiup bahwa dia tidak  menerima gratifikasi.  Anas kurang berani muncul, dan momentum yang ada sekarang justru tidak dipergunakan sebagai sarana untuk menunjukkan kemampuannya dalam memimpin.

Kepemimpinan menurut General Norman Schwarzkopf, pemimpin pasukan AS dalam Perang Teluk 1991, "adalah kombinasi antara strategi dan karakter. Jika harus melepaskan salah satunya, tinggalkanlah strategi dan tetaplah dengan karakter." Terlihat begitu penting arti karakter itu. Anas harus lebih berani tampil demi Partai Demokrat. Disitu akan terlihet karakternya yang kuat. Kemelut dalam kasus Nazaruddin adalah ujian bagi politisi muda pintar dan mantan Ketua Umum HMI ini, bahwa dia berani menunjukkan dirinya bersih dan pantas menjadi pemimpin. Itu baru jago.

Nah, penulis kembali mengingatkan, bahwa dari beberapa indikasi dan fakta, memang sedang terjadi serangan pengondisian yang menjurus penghancuran dengan pola memecah belah dan perusakan citra serta pengarahan menjadi musuh rakyat terhadap Partai Demokrat. Kalau ingin tetap selamat, para kader muda harus bersatu dibawah bimbingan para seniornya. Jangan 'greedy' dan jangan saling mengiri. Yang terpenting jangan bersembunyi dibelakang Pak SBY. Waspada dan bijak, itulah kata kuncinya, serangan yang terjadi barulah merupakan serangan kejut, akan tetapi serangan dengan "cluster bomb" cepat atau lambat akan bisa datang dan jauh lebih berbahaya..

Lawan PD adalah juga lawan SBY, yang menurut penulis menggunakan pola-pola dan metoda serangan intelijen clandestine. Beberapa serangannya adalah upaya mendelegitimasi pemerintah. Kelas penyerang adalah "master spy". Dibutuhkan analisa mendalam dan counter intelligence. Yang agak berat, pembentukan opini sudah mulai nampak. Rumus terbaik,  kekuatan dan kemampuan bertahan PD paling tidak tiga kali lebih kuat dari penyerang.

Mampukan elit Demokrat melakukannya, penulis agak meragukannya mengingat jenis politisinya gado-gado dan loyalitasnya belum terlalu kental. Akan tetapi masih ada waktu apabila segera melakukan langkah pengamanan. Sekali lagi jadilah politisi handal dan smart, ingat Pak SBY pada 2014 sudah bukan merupakan bemper yang selalu akan  menjadi sandaran. Biarkan beliau istirahat, setelah sepuluh tahun mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara.  Beliau adalah penjuru yang membuka hutan pada awalnya, soal babat alas selanjutnya ya urusan yang muda-muda. Begitu bukan?Prayitno Ramelan, http://ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : padang-today.com

 
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.