Nazaruddin Di Pakistan? Makin Berat!

9 July 2011 | 8:31 am | Dilihat : 716

Beberapa teman penulis mengatakan 'bosen' dengan berita Nazaruddin. Benarkah begitu? Penulis disela-sela acara menghadiri pernikahan keponakan diluar kota Jakarta, tetap mengikuti perkembangan Nazar yang satu ini. Ini target penting dalam sebuah kasus. Walau hanya seorang agent action, kasusnya ternyata membias kemana-mana, bahkan menggoyang ketenteraman baik  di Partai Demokrat sebagai partai pendukung  pemerintah, the rulling party pemilik suara terbanyak di DPR maupun di pemerintahan, maupun ketenteraman pemerintahan dibawah pimpinan Presiden SBY.

Nazar kini adalah sebuah target terpenting, karena dia kini dikejar beberapa instansi pemerintah Indonesia atas instruksi presiden SBY. Pertanyaannya apakah Nazar hanya single fihgter ataukah di termasuk dalam sebuah jaringan. Walau umurnya baru tigapuluhan, Nazar ditengarai banyak mempunyai  uang. Artinya kalau orang punya uang, dan dia mempunyai masalah dengan aparat hukum, dialah target perkeliruan yang bisa digarap oleh kelompok perkeliruan. Nah penulis pada bulan Februari 2009 pernah membuat artikel dengan judul 'Antara KPK dan Kopkamtib'. ( http://ramalanintelijen.net/?p=1467 ). Yang membahas soal korupsi,, KPK dan Kopkamtib.

Pada artikel tersebut penulis mengingatkan Ketua KPK (Antasari Azhar) dan para Wakil Ketuanya, bahwa  kekuatan dan kemampuannya mereka jauh dibawah Kopkamtib. Maksudnya agar lebih hati-hati memegang amanah, waspada dengan beratnya tugas. Ternyata kemudian Antasari Azhar akhirnya kini masuk penjara dalam sebuah kasus yang dalam bahasa gaulnya 'remeh temeh'. Demikian juga dengan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah pernah coba dijepit dan diadili.

Penulis dalam artikel tersebut menggunakan  hasil penelitian Hasan Hambali, 1985, yang menyebutkan bahwa sumber korupsi mencakup dua hal pokok yaitu kekuasaan kelompok kepentingan dan hegemoni elit. Kekuasaan kelompok kepentingan cenderung berwawasan politik, hegemoni elit lebih berkait dengan ketahanan ekonomi. Peranti korupsi umumnya menggunakan perlindungan politis dan penyalahgunaan kekuasaan. Interaksi sumber dan peranti menimbulkan empat klasifikasi. Pertama, manipulasi dan suap, interaksi antara penyalah gunaan kekuasaan dan hegemoni elit.

Kedua, mafia dan faksionalisme, golongan elit menyalahgunakan kekuasaan dan membentuk pengikut pribadi. Ketiga, kolusi dan nepotisme, elit mapan menjual akses politik dan menyediakan akses ekonomi untuk keuntungan diri, keluarga dan kroninya. Keempat, korupsi terorganisir dan sistem, korupsi yang terorganisasi dengan baik, sistematik, melibatkan perlindungan politik dari kekuasaan kelompok kepentingan.

Sebetulnya pencarian Nazar bisa dilacak melalui tiga  sumber yaitu lewat beberapa teman dekatnya di Partai Demokrat, pengacara  Oce Kaligis dan lewat Kemlu untuk meindak lanjuti penjelasan Kemlu Singapura Kementerian Luar Negeri Singapura melalui siaran persnya yang  mengungkapkan, Nazaruddin telah bertolak dari Negeri Singa itu sebelum ditetapkan sebagai tersangka pada 30 Juni 2011. Bahkan Ahmad Mubarok,Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat pernah mengatakan bahwa Nazaruddin sudah berada di Pakistan.

Dari penjejakan Kementerian Luar Negeri RI, seperti dikatakan Menlu Marty kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (7/7). "Kami telusuri, (Nazaruddin) sempat berada di Malaysia dan Vietnam." Sementara pengacara Nazaruddin, OC Kaligis disebut-sebut sebagai pihak yang mengetahui posisi Nazaruddin saat ini, namun, OC Kaligis belum mau menyebutkan di mana posisi Nazaruddin.

Mengenai posisi Nazaruddin saat ini, Wakil Ketua KPK Haryono mengatakan belum ada informasi terbaru di mana posisinya. Namun, KPK tetap akan melakukan upaya pencarian terhadap Nazaruddin yang telah ditetapkan sebagai buronan internasional itu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan enggan untuk menanyakan soal posisi tersangka  kepada kuasa hukumnya, OC Kaligis, karena takut dicurigai melakukan intervensi.

Dari perjalanan pencarian DPO sejak lama, nampaknya kita sering menjumpai kesulitan apabila target sudah keluar wilayah negara. Dari beberapa informasi diatas, terjadi kesimpang siuran informasi. Kalau kita mengandalkan fakta, dari data basic descriptive intelligence (informasi dasar) bahwa Nazar keturunan Pakistan serta indikasi pada the present, ada kecenderungan Nazaruddin akan bersembunyi di habitatnya yaitu Pakistan. Rupanya dia melakukan lompat katak untuk melakukan desepsi melalui jalur Malaysia dan Vietnam. Apabila Kemlu dan aparat lainnya hanya menggunakan fakta sebagai dasar pengejaran, biasanya akan kalah cepat dibandingkan dengan yang dikejar.

Kenapa Nazar memilih Pakistan? Jelas kordinasi dan mereka yang mau mendukung dan melindunginya lebih banyak, terlebih apabila dia membawa hartanya kesana. Pakistan adalah negara yang sering terjadi kemelut keamanan. Kelompok Taliban pendukung Osama cukup kuat disana. Osama Bin Laden sebagai musuh nomor satu yang dicari CIA juga beberapa tahun bersembunyi disana. Umar Patek benggolan teroris dari Indonesia yang juga merupaskan target berhadiah AS juga ditangkap disana. Dan kita hingga saat ini belum juga berhasil membawanya kembali ke Indonesia.

Jadi kini tugas yang lebih berat akan dihadapi aparat pemerintah terkait setelah Nazar keluar Singapura, pertama membuktikan bahwa Nazar memang bersembunyi di Pakistan, ini saja akan sulit. Kedua harus membawa keluar dari Pakistan, ini akan lebih berat lagi. AS saja sebagai negara super power harus melakukan operasi khusus tanpa kordinasi dengan pemerintah Pakistan saat menyergap Osama.Mereka tidak percaya bahwa Pakistan tidak melindungi Osama. Kini pertanyaannya mampukah kita melakukan langkah-langkah cerdas dan cepat untuk mempertahankan kredibilitas masing-masing instansi. Perintah pimpinan nasional sudah turun.

Jadi bagaimana selanjutnya? Ini sebuah pertaruhan nama, instansi terkait melawan Nazaruddin. Jadi nampaknya kesimpulannya dari teori Hambali, Nazar masuk pada  klasifikasi ke empat, korupsi terorganisir dan sistem, korupsi yang terorganisasi dengan baik, sistematik, melibatkan perlindungan politik dari kekuasaan kelompok kepentingan. Memang  makin berat nampaknya. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net/?p=260 )

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.