Gayus, Ujung Mafia, Tantangan Bagi KPK

14 January 2011 | 4:27 pm | Dilihat : 138
1295002165726740404
Tersangka Gayus Tambunan usai menjalani pemeriksaan selama 13 jam di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (12/1/2011) malam. Gayus menjadi tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan dan penggunaan paspor atas nama Sony Laksono/Admin (KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN)

Kalau ditanya siapa kini orang paling popular di Indonesia? jawabnya pasti serempak 'Gayus.' Pegawai kantor pajak golongan tiga ini kini menempati tempat teratas baik media cetak maupun media elektronik. Banyak yang suka dan banyak juga yang 'boring' dengan ulah media yang terus menayangkan sang maestro pajak yang negatif ini. Dengan gayanya yang santai, penampilan bak selebrities, wah pokoknya lengkap sudah dia membius masyarakat mulai dari yang 'top level' hingga yang kelas bawah.

Tetapi dibalik semua itu, apakah kita menyadari bahwa sebetulnya kita harus menangis bersama, bagaimana seorang anak kemarin sore, pegawai pajak kelas bawahan sudah mampu menggetarkan dunia bisnis yang terkait dengan pajak. Kabarnya ada 149 perusahaan yang terkait dengan kasus Gayus tersebut. Dalam kondisi didalam tahanan yang relatif ketatpun, Gayus mampu melenggang pulang kerumahnya, dan bahkan 'keluyuran' sampai ke Singapore, Kuala Lumpur dan Makau, juga ke Bali. Orang Jawa sambil geleng-geleng kepala akan mengatakan 'opo tumon?'.

Nah sebetulnya apa sih yang dibelakang Gayus ini? Kenapa dia demikian sakti? Jawabannya hanya satu, dia sakti karena punya uang. Dia mampu memainkan kelemahan para pembayar pajak yang mencoba 'nakal' dengan melakukan korupsi terhadap kewajibannya. Nah, untuk itu, mari kita telusuri dengan sedikit bekal ilmu penyelidikan intelijen.

Kekuatan Gayus berada pada kerawanan para pembayar pajak yang mencoba bermain diwilayah abu-abu, artinya ya tidak mau bayar penuh, mengemplang, kira-kira begitu. Jelas karena Gayus mempunyai demikian banyak data perusahaan-perusahaan tersebut, dia mempunyai uang sangat banyak, disamping dia mampu melakukan tekanan keberbagai institusi. Itulah kekuatan dan kemampusn Gayus. Selain itu, jelas dalam pergerakannya Gayus dapat dipastikan telah dilindungi dengan sebuah kekuatan yang tidak main-main.

Nah mari kita lihat sebuah teori konspirasi yang terkait dengan korupsi. Menurut hasil penelitian dari Hasan Hambali,1985, sumber korupsi mencakup dua hal pokok yaitu kekuasaan kelompok kepentingan dan hegemoni elit. Kekuasaan kelompok kepentingan cenderung berwawasan politik, hegemoni elit lebih berkait dengan ketahanan ekonomi. Peranti korupsi umumnya menggunakan perlindungan politis dan penyalahgunaan kekuasaan. Interaksi sumber dan peranti menimbulkan empat klasifikasi. Pertama, manipulasi dan suap, interaksi antara penyalah gunaan kekuasaan dan hegemoni elit. Kedua, mafia dan faksionalisme, golongan elit menyalahgunakan kekuasaan dan membentuk pengikut pribadi. Ketiga, kolusi dan nepotisme, elit mapan menjual akses politik dan menyediakan akses ekonomi untuk keuntungan diri, keluarga dan kroninya. Keempat, korupsi terorganisir dan sistem, korupsi yang terorganisasi dengan baik, sistematik, melibatkan perlindungan politik dari kekuasaan kelompok kepentingan.

Jadi, dengan menggunakan referensi diatas maka sangat besar kemungkinan Gayus berada di bawah naungan kekuasaan kelompok kepentingan dan hegemoni elit, terutama masuk ke klasifikasi kedua. Dia adalah ujung dari sebuah konspirasi besar yang sudah merupakan sebuah sistem. Jadi memang sulit melihat demikian banyaknya oknum institusi yang terlibat. Kini pertanyaannya, kenapa Gayus harus ke luar negeri dan ke Bali?

Suatu hal yang paling ditakuti oleh pengusaha adalah jatuhnya citra, nama baik, terlebih sebuah 'big fish'. Begitu nama mereka diumumkan sebagai pengemplang pajak, maka runtuhlah nama besar dan kredibilitas perusahaan tersebut. Selain itu bisa saja kemudian kasus pajak menyeret para 'owner' dalam masalah politik.

Jadi kepergian Gayus ke luar negeri bukan tidak mungkin justru merupakan 'deal' baru agar para hegemoni elit tadi aman dan tidak disebut namanya dalam pengadilan. Atau mungkin Gayus justru meningkatkan bargaining power dengan membuat testimoni, agar dia tidak dibunuh para pengemplang pajak itu. Begitu dia ada apa-apa, maka dokumen akan otomatis dibuka di luar negeri, ini cara umum mafia dalam melakukan penekanan. Gayus pasti akan diamankan oleh sebuah jaringan besar yang tertata dengan sistem yang sudah bekerja cukup lama.

Terakhir, bagaimana kalau ada yang iseng kemudian mengirim tim 'cleaner?'. Kasus tersebut akan menjadi sebuah catatan hitam dinegeri ini, polisi sudah makin alert setelah Gayus dikaburkan dari tahanan polisi. Mereka akan menjaga agar dia tetap hidup dan banyak yang memang menginginkan dia hidup. Begitu ada yang mengisengi Gayus, negara ini akan bergetar, kira-kira begitu. Apakah penegak hukum mampu membongkar kasus ini?. Kita lihat saja, beberapa pakar sudah pesimis dan hingga meminta presiden turun tangan. Jelas kurang tepat permintaan tersebut. Kita percaya bahwa Ketua KPK yang baru dan masih fresh Pak Busyro Muqodas akan mampu membuka perisai gayus tersebut.

Yang perlu diwaspadai oleh KPK kini, yang dihadapi adalah sebuah sistem korupsi sangat besar, mungkin terbesar kedua setelah kasus BLBI yang pernah ada tetapi tidak ada. Kiprah Antasari Azhar pada tahun 2008 yang demikian hebatnya akhirnya toh juga runtuh, dan dia masuk bui hanya karena Rani Gate. Sepele tetapi mematikan dan menghancurkan. Jadi penegak hukum di Indonesia nampaknya mesti dukdeng. Selamat bekerja Pak Busyro, ini case berat pertama nampaknya setelah Pak Busyro duduk di KPK. Orang Inggris bilangnya "Good Luck."

PRAYITNO RAMELAN, Penulis Buku Intelijen Bertawaf.

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/01/14/gayus-ujung-mafia-tantangan-bagi-kpk/

(Dibaca : 605 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.