Penyerang Tama Pake Ilmu Intelijen

16 July 2010 | 4:42 pm | Dilihat : 153
Headline Rakyat Merdeka - 16 Jul 2010

SULITNYA polisi mengungkap pembacok aktivis ICW Tama Satrya Langkun memunculkan spekulasi. Bahwa, pembacok Tama mungkin orang intelijen. Karena, pelaku melakukan serangan dengan rapi, sedikit saksi, dan bisa kabur cepat. Menanggapi hal itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Arotonang menyatakan, polisi tak menaikkan kemungkinan penyerang Tama adalah oknum dari institusi intelijen.

"Saya sudah mengatakan iya (mungkin intelijen), kita tidak menampik kemungkinan-kemungkinan pelaku dari oknum manapun. Tapi, institusi Polri tidak terpikir sedikitpun untuk berbuat keji seperti itu," jelas Edward di Mabes Polri, kemarin.Lantas intel mana yang menganiaya Tama? Edward enggan menjawab. Menurut dia, sampai sekarang kepolisian memang masih terus berupaya untuk menyempurnakan sketsa wajah pelaku, dengan meminta saksi untuk terus mengingat wajah pelaku.

Kata Edward, penyidik tidak hanya bergerak berdasarkan sketsa wajah, tetapi juga berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi. Dari situ, polisi memperoleh gambaran pelaku penganiaya. Kepolisian juga memastikan masih terus melakukan penelusuran, serta mematangkan data dan fakta yang ditemukan di lapangan. Sampai saat ini, kepolisian belum bisa menyimpulkan siapa pelaku sebenarnya.

Yang pasti, pelaku diduga sudah berpindah lokasi, atau melarikan diri. "Sudah ada kemajuan yang signifikan. Ya, kita sudah mulai mendapat gam-baranlah," ujarnya., Sementara Tama S Langkun tak mau berspekulasi siapa yang menyerang dirinya. Tama hanya yakin, penyerangan itu berkaitan erat dengan kasus-kasus yang dia ungkapkan. Tak terkecuali soalrekening gendut perwira tinggi Polri.

Meski sempat trauma dan drop akibat penyerangan tersebut. Tama yang kini tinggal di kantor ICW mengaku sudah lebih tenang. Soalnya, tidak ada hal-hal yang kini menerornya lagi. "Tidak ada lagi teror telepon dan SMS ke HP saya. Mobil yang suka nong-krongin kantor ICW, juga sudah tidak ada. Apalagi petugas kepolisian sekarang suka muter buat patroli," tandasnya.

Sementara, pengamat Intelijen Marsekal Muda (Purn) Prayitno Ramelan menyebutkan, pelaku penyerangan Tama memang menggunakan modus intelijen. Modus tersebut terlihat dari pola serangan yang rapi dan tertutup. Pemilihan lokasi yang memungkinkan sepinya saksi dan bukti lainnya. Selain itu, lanjutnya, para pelaku juga mampu menghilangkan jejak sehingga sulit ditangkap. Terbukti, hingga kemarin polisi belum mampu meringkus kawanan tersebut. "Itu bukti para pelaku menggunakan ilmu intelijen tapi bukan berartipelakunya orang intelijen. Kalau betul pelakunya orang intelijen, polisi akan kesulitan menangkap," kata dia.

Meski begitu, dirinya tidak yakin adanya keterlibatan intelijen dari suatu institusi. Kenapa? Menurut dia tak lazim jika intelijen melukai orang kemudian langsung kabur begitu saja. Dalam setiap aksinya seorang intelijen di-doktrin untuk menyelesaikan tugas dengan tuntas. Lalu apa dugaan Prayitno? "Saya pribadi menduganya pelaku adalah orang yang pernah terusik dengan aktivitas ICW mengungkap kasus korupsi," tandasnya.

Sementara pengamat intelijen Wawan Purwanto mengaku tidak bisa menduga siapa pelaku dibalik penyerangan penggiat anti korupsi tersebut. Semuanya akan terang kalau para pelaku sudah tertangkap. "Dari situ bisa kita gali lebih dalam identitasnya, dan apa motifnya," ujar dia.

Presidium IPW Neta S Pane juga mengaku bingung dengan statement soalintelijen. Dia menyebut, hal itu hanya pengalihan isu karena hingga saat ini polisi belum mampu meringkus komplotan tersebut. Dikatakan dia, polisi harus mempertegas, oknum intelijen dari institusi mana yang disebutkan turut serta dalam pengeroyokan Tama.

Neta menyebut, polisi tidak mungkin melakukan pola-pola meneror seperti yang terjadi pada Tama atau majalah Tempo. Dengan begitu, maka anggapan adanya intelijen dari kepolisian juga terpatahkan. "Polisi itu memang melakukan penyiksaan, tetapi bukan di luar, di dalam. Ketika tersangka ditahan di kantor polisi, maka disitulah baru dilakukan pemeriksaan," kata Neta.

Bukankah bisa saja penyerangan itu rnerupakan upaya untuk menjatuhkan citra Polri? "Bisa saja, tapi itu terlalu kecil untuk menjatuhkan citra polri, tidak signifikan hanya dengan pemukulan Tama," tandasnya.

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.