Kok, Banyak Teroris di Jakarta?

13 May 2010 | 2:14 am | Dilihat : 180
Lokasi kejadian penggerebekan tersangka teroris di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jaktim, Rabu (12/5/20)/Admin (KOMPAS.com/Leo Sunu)
Lokasi kejadian penggerebekan tersangka teroris di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jaktim, Rabu (12/5/20)/Admin (KOMPAS.com/Leo Sunu)

Dalam beberapa waktu terakhir, Densus-88 telah melakukan sejumlah penangkapan di Jakarta terhadap kelompok yang patut diduga sebagai kader ataupun simpatisan teroris yang dianggap berbahaya. Beberapa dari mereka adalah pelarian dari kelompok yang melakukan latihan di Aceh Besar. Tangkapan besar pertama di lakukan Densus-88 pada Kamis (4/3) saat menyergap tempat latihan teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh besar. Dalam penyergapan, Polri menangkap 63 teroris, 50 orang ditahan dan diproses hukum, 8 orang tewas, dan 5 orang dipulangkan karena tidak terbukti.

Tokoh yang tewas tertembak adalah Sapta Adi bin Robert Bakri alias Ismet Hakiki alias Syaelendra, 40, terlibat dalam aksi bom di Kedubes Australia 2004. Tersangka asal dari Pandeglang, Banten, dan merupakan lulusan Mindanao, Filipina. Polri menyita sembilan pucuk senjata api  terdiri dari tiga M-16, senapan laras panjang AK 56 dan AK58, AK 47 pistol FN dan revolver, granat asap, belasan ribu peluru atau amunisi dari berbagai kaliber untuk AK dan M16.

Pada pengejaran selanjutnya diperkirakan terdapat sekitar 31 lainnya mampu melarikan diri.  Dalam pengembangan, Densus-88 pada (9/4) berhasil melakukan penyergapan kelompok teroris di Ruko Multiplus Pamulang , dan menembak mati  tokoh besar teoris yaitu Dulmatin  alias Mansyur, alias Joko Pitono, tokoh besar yang dihargai kepalanya oleh pemerintah AS sebesar US$10juta. Penyergapan  selanjutnya pada Jumat (12/3), dimana  polisi berhasil menyergap 10 orang teroris di Leupueng, Kecamatan Leupueng, Kabupaten Aceh Besar. Dua tokoh yang mati ditembak adalah Encang Kurnia alias Jajang asal Bandung dan Pura Sudarma alias Muttaqin asal Lampung. Dalam penyergapan tersebut dapat disita 2 pucuk AK-47, 3 pucuk M-16 dan pistol Glock milik Anggota Polri yang tewas saat penyergapan di gunung Jalin Jantho.

Sebagai hasil pengembangan, pada hari Minggu (11/4) Sebanyak 6 orang yang diduga merupakan kelompok teroris pelarian dari Aceh, ditangkap di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.  pada penangkapan, terdapat dua tokoh yaitu Ibrohim dan Jafar. Keduanya merupakan orang terdekat Noordin M Top dan Dr Azahari. Juga diketahui keduanya terlibat aksi pemboman di Kedutaan Besar Australia, Kuningan tahun 2004. Selain itu juga ditangkap Komarudin alias Abu Musa alias Mustakim alias Abu Yusuf alias Hafshoh. Dia adalah pimpinan pelatihan teroris di Aceh yang merupakan alumni Akademi Militer Al Jamaah Mindanao, Filipina Selatan (1998-2004).  Juga Bayu Sena alias Bayu alias Budi alias Rahmat alias Tono, alias Seno, terlibat pelatihan teroris di Aceh. Bayu diketahui  ikut merencanakan dan merakit bom yang akan digunakan untuk mengebom rombongan Presiden SBY.

Pada  Rabu (14/4), berdasarkan petujuk dua anggota teroris yang ditangkap di Aceh, telah ditemukan empat pucuk senjata api jenis M16 dan AK47 milik kelompok teroris yang berlatih di Jantho, Aceh Besar. Selain  empat senjata api, Densus 88  juga menemukan 16 magasin dengan pelurunya.

Pada hari Kamis (6/5) Densus-88 telah melakukan penangkapan terhadap 12 orang di seputar kota Jakarta, namun hingga kini belum membeberkan dasar sangkaannya ke publik. Ke-12 orang itu adalah Andriansyah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat ,Solehudin, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat, Yanto Abdillah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat, Ustadz Mahali atau Mahali Abdul Jabal, anggota Jamaah Anshar Tauhid, seorang guru, ditangkap di Pejaten Barat, Agus, anggota Jamaah Anshar Tauhid, di Pejaten Barat, Firman Firdaus, anggota Jamaah Anshar Tauhid, mahasiswa, di Pejaten Barat, Untung, anggota Jamaah Anshar Tauhid, Syarif Usman, dokter, ditangkap di Menten, Hariyadi Usman, wiraswasta, ditangkap di Bekasi, Hening Pujiati, ibu rumah tangga, ditangkap di Bekasi, Abdullah, anggota Jamaah Anshar Tauhid, ditangkap di Pejaten Barat dan Nanang Purwoko, belum diketahui lokasi penangkapannya.

Pada Rabu (12/5) Densus telah melakukan penyergapan di dua lokasi yaitu Cawang dan Cikampek.  Sebelumnya  Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (12/5) menjelaskan pada Selasa (11/5) Polri telah menangkap dua tersangka teroris di Jakarta Selatan. Dari hasil pemeriksaan, dilakukan pengembangan, hingga Polri dapat menyergap dua kelompok tersebut. Dari penyergapan Rabu, tim gabungan petugas Densus 88, Polda Metro Jaya dan polda Jabar telah menembak mati lima pelaku teroris dan menangkap satu orang hidup.

Pada saat penyergapan di Cawang,  pelaku melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata revolver, dan kemudian terjadi baku tembak dengan kelompok tersebut. Ketiga tersangka teroris tewas. Salah seorang dapat diidentifikasi sebagai Maulana. Dia merupakan DPO  yang merupakan pelarian dari kamp latihan di Aceh, dan juga merupakan buronan Polda Kaltim terkait jual beli senjata api pada 2009. Dalam penyergapan tiga tersangka pelaku teroris di Cikampek, dua di antaranya meninggal dunia. Satu dari yang meninggal adalah Saptono yang merupakan adik  dari Encang Kurniawan alias Yusuf alias Jaja, guru agama terpidana mati Imam Samudera yang dieksekusi tahun lalu. Saptono diketahui sangat mahir menggunakan senjata api dan amunisi. Maulana dan Saptono pernah ditahan di Malaysia terkait Internal Security Act (ISA) dan diketahui pernah  mengikuti latihan teroris di Filipina. Dari penyergapan di Cikampek, polisi berhasil menyita pistol revolver  dan ribuan peluru dari senjata api jenis AK-47 dan M-16.

Sejak penyergapan di Aceh besar dua bulan yang lalu, sisa-sisa teroris yang berlatih di Aceh tersebut telah melarikan diri kearah Jakarta melalui Medan. Dalam pelariannya, masing-masing kelompok dipimpin oleh tokoh lulusan sekolah teror di Mindanao. Seteleh penyergapan di Leupung, di Jakarta, di Medan dan kembali di Jakarta, nampaknya Jakarta menjadi tempat mereka untuk melakukan rekonsolidasi. Dulmatin saat disergap berada dekat dengan Jakarta, kini kelompok Sartono dan Maulana juga berada di Jakarta dan Cikampek yang relatif dekat Jakarta.

Dalam hal ini, masyarakat sebaiknya tetap disadarkan bahwa ancaman teroris tetap ada dan berbahaya. Yang menarik dan perlu diperhatikan, apakah mereka kini sedang mengumpulkan logistik pertempuran ( senjata dan peluru?). Di Cikampek saja telah ditemukan beberapa ribu butir peluru AK-47 dan M-16. Dengan meninggalnya tokoh pembuat bom, serangan bersenjata laras panjang termasuk teror yang mematikan. Karena rencana mereka belum terkuak, sebaiknya pengamanan terhadap VIP dan VVIP ditingkatkan. Ancaman terhadap presiden pernah disampaikan hingga tiga kali, dan apabila target mereka personal maka penyerangannya jauh lebih mudah dibandingkan serangan terhadap target kelompok. Selain itu serangan bisa mereka lakukan tidak perlu mendekat ke target, jarak efektif AK-47 dan M-16 adalah 200 hingga 300 meter. Dapat dibayangkan apabila mereka melakukan penyerangan dengan empat senjata panjang saja, pasti akan sangat berbahaya dan mematikan. Selain itu masih terdapat dua tokoh berbahaya dan belum tertangkap yaitu Umar Patek dan Zulkarnaen.

Demikian perkiraan ancaman teror, yang diperkirakan masih bisa eksis dan efektif melakukan penyerangan. Kemelut terhadap ricuhnya politik apabila tidak di waspadai akan menyebabkan turunnya kewaspadaan terhadap ancaman mematikan ini. Belum didapat informasi, apakah senjata eks kamp di Aceh telah berhasil diselundupkan ke Jakarta. Demikian sedikit pandangan dan perkembangan informasi tentang teroris yang perlu kita simak bersama.

PRAYITNO RAMELAN, Pemerhati Intelijen, Penulis Buku Intelijen Bertawaf.

Sumber: http://hankam.kompasiana.com/2010/05/13/kok-banyak-teroris-di-jakarta/(Dibaca: 761 kali)

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.