Mengawal Imigran Penjahat Ke Guang Zhou bersama Kopassus

27 October 2009 | 9:00 am | Dilihat : 1285

Pada suatu hari di tahun 1992 saat penulis yang bertugas di Pangkalan Halim Perdana Kusumah sebagai Kepala Seksi Intelijen Udara, dipanggil Komandan Pangkalan. Penulis mendapat tugas dan diperintahkan komandan  sebagai FSO (flight security officer) dalam operasi geser imigran dari Pangkalan Udara Ranai di Natuna ke Guang Zhou di China. Setelah berkordinasi dengan crew dua pesawat C-130 Hercules, serta tim pengawal dari Detasemen Anti Teror Kopassus (Den-81) dan  tim Bais TNI (Badan Intelijen Strategis) , semua dipersiapkan dengan matang sesuai dengan rencana. Dari perintah yang diterima, di pulau Natuna telah ditangkap sebuah perahu imigran yang berasal dari China, dan diketahui diantara imigran tersebut diketahui terdapat beberapa kriminal bersenjata yang berbahaya yang tidak jelas statusnya.

Kedua pesawat Hercules yang masing-masing telah dilengkapi dengan tim khusus berangkat siang hari menuju ke Lanud Ranai. Setelah mendarat, kemudian tim pengawal melakukan pendataan dengan cermat bekerja sama denga petugas imigrasi, dibantu penterjemah dari Bais TNI.  Ternyata para imigran itu terdiri dari pria, wanita dan anak-anak. Mereka yang di ketahui membawa senjata saat ditangkap dipisahkan, diamankan tersendiri. Jumlah keseluruhan mencapai sekitar 160 orang (penulis lupa jumlah pastinya). Memang beberapa orang nampaknya sebagai orang yang kasar dan berbahaya. Pada malam itu mereka dipersiapkan untuk pemberangkatan. Melihat keganasan beberapa imigran tersebut yang menyatakan tidak mau kembali kenegaranya, penulis melihat sebuah kerawanan, karena bagaimana kalau mereka mengamuk di dalam pesawat. Masalah ini yang menadi fokus pertama dalam pengamanan pesawat.

Sekitar jam 02.00 para imigran disiapkan, diberi makan dan minuman botol kemasan yang sudah diberi obat tidur yang disuntikkan kedalam botol. Saat penulis menanyakan berapa lama efektif obatnya akan bekerja, oleh dokter diperkirakan sekitar 7-8 jam. Kemudian pada jam 03.30 semuanya boarding ke masing-masing  pesawat yang telah ditentukan. Demi keamanan penerbangan, bagi imigran prianya diborgol satu sama lainnya. Kedua pesawat kemudian take off menuju Guang Zou, penulis berada di pesawat pertama bersama dengan Danden-81 Anti Teror Kopassus Letkol Inf Idris Gasing (Alm,Mayor Jenderal) yang berisi para imigran pria. Karena pengaruh obat, semua imigran tenang tertidur, dan yang mengagumkan, para angota pengawal dari Kopassus selama penerbangan tetap berdiri mengawasi sektor yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Mendadak dalam kondisi agak mengantuk karena hanya sempat tidur satu jam, sekitar jam 06.00 terjadi keributan pada penumpang di bagian dekat ekor, ada yang berteriak-teriak memakai bahasa China yang tidak dimengerti. Walaupun sudah dipaksa diam oleh pengawal, dia tetap tidak mau diam. Eh, ternyata dia rupanya akan buang air, setelah dilakukan perundingan diantara tim, yang bersangkutan diijinkan ke kamar mandi darurat yang memang disiapkan di pesawat transport militer. Kemudian bergilir yang lainnya ribut mengikuti temannya, wah ternyata obat tidur dikalahkan dengan rasa ingin kebelakang tadi. Bisa dibayangkan, dari sekian banyaknya imigran, mereka minta ke toilet sederhana tadi. Kalau dilarang mereka pasti akan buang air besar di celana, kalau diijinkan pasti toilet akan berantakan, akhirnya diputuskandiijinkan ke toilet saja apapun yang akan terjadi.

Ternyata benar, karena darurat, maka mulailah terjadi serangan berat yaitu "bau" kotoran manusia, aduh...kalau teringat, didalam pesawat hercules, yang pakai AC, kini baunya minta ampun. Rasanya mau pingsan. Karena tanggung jawab sebagai security officer, walau dengan kepala pusing tetap harus ikut mengawasi. Walau hidung sudah berusaha ditutupi, tetap saja baunya tembus. Ada yang mengherankan penulis, kenapa para anggota Kopassus itu kok tetap tenang berdiri mengawasi? Tidak terganggu dengan bau tersebut?. Melihat penulis gelisah dengan tutup mulut, Letkol Gasing memanggil penulis, dengan senyum menanyakan "Kenapa Mas?,."  "Aduh... Gasing,saya mau pingsan rasanya,tidak tahan baunya," jawab penulis.

Penulis menanyakan kenapa dia kok tenang-tenang saja duduk, bahkan dekat toilet "keramat" itu. Gasing mengatakan, bau itu kan karena terjadi perbedaan antara indera bau kita dengan bau tidak enak itu. "Coba Mas, samakan, nanti kan baunya akan hilang, caranya bernafas, dengan menghirup dalam-dalam, samakan bau luar dengan bau dalam". "What?"...Apakah harus seperti itu?... Nah, karena terpaksa dicoba dahulu, eh... ternyata benar juga, makin lama bau tidak enak yang menyiksa tadi makin hilang. Hehehe...ilmunya boleh juga kalau ada yang mau mempraktekkan. Kuncinya menyamakan ukuran, ya ukuran bau luar dan dalam disamakan, dijamin beres...hehehe.

Dua setengah  jam kemudian pesawat akhirnya selamat mendarat di Guang Zhou. Para imigran tadi diterima oleh polisi atau tentara setempat, nampaknya mereka diperlakukan dengan kasar dan keras bak penjahat disana, begitu turun ada yang ditendang segala. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk membersihkan pesawat dari kotoran dan bau tidak sedap itu. Kalau dipikir boleh juga ilmu anggota anti teror Kopassus yang sangat tinggi disiplinnya itu. Walaupun saat pulang pesawat ya tetap bau, mungkin sudah menempel bau itu...tetapi dalam penerbangan kembali, penulis menghirupnya tidak dalam-dalam sudah cukup menetralisirnya. "Mission accomplished Sir," lapor penulis kepada Komandan sesampainya di Lanud Halim.

Walau sudah sekian tahun kenangan itu, penulis menyampaikan penghargaan kepada Tim Den-81 Anti teror Kopassus, serta Tim Bais TNI atas kerjasamanya dalam mission geser tersebut yang terlaksana dengan aman dan selamat. Sebuah pengalaman tempur yang tak terlupakan, tempur melawan bau tak sedap itu maksudnya. Pada kesempatan ini penulis jadi teringat dengan guru bau yang telah meninggal dunia, Mayor Jenderal TNI (Purn) Idris Gasing yang meninggal kecelakaan di jalan tol Cipularang, penulis mendoakan semoga diampuni dosa serta kesalahannya, dan diterima amal ibadahnya selama hidup, Amin.

PRAYITNO RAMELAN

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2009/10/27/mengawal-imigran-penjahat-ke-guang-zhou/ (Dibaca: 1096 kali)

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.