Kesombongan Di Take Me Out Yang Memprihatinkan

25 October 2009 | 11:08 am | Dilihat : 1024

"Take Me Out," mungkin salah satu acara yang ratingnya cukup tinggi di kalangan media elektronik. Mampu menarik iklan yang cukup ramai, hingga kadang kita yang menonton terpaksa harus bersabar menunggu. Acara semacam kontak jodoh dengan host Choki Sitohang  ini dikemas dengan apik, dan bahkan kemudian dilebarkan lagi dengan acara serupa Take him out. Kalau take me out yang memilih adalah 30 wanita single, kalau take him out yang memilih adalah pria single. Penulis termasuk salah seorang pemirsa yang menyukai acara tersebut. Para kontestan mendapat kesempatan memasarkan.... ups mengenalkan dirinya dengan sebaik-baiknya. Kalau sekali saja salah dalam penampilan ataupun pembicaraan, maka lampu pemilih dengan entengnya akan mereka matikan.

Penulis suatu saat bersama isteri pernah melihat secara langsung acara yang di tapping beberapa hari sebelumnya di Ancol. Menyenangkan melihat acara tersebut, saat itu yang jadi bintangnya Lala dan Jessy, dan malam itu dapat jodoh juga setelah beberapa lama tampil, penonton ikut senang melihat para single parent itu akhirya dapat jodoh juga. Pengunjung rata-rata muda-muda, mereka tampil keren dan bahkan beberapa pakai dasi dan bahkan ada yang berjas.  Ini nampaknya diarahkan menjadi biro jodoh berkelas. Menurut beberapa orang, acara ini tidak di setting si ini dengan si itu, dibiarkan mengalir apa adanya, hanya pada saat akan tampil mereka dilengkapi oleh produser dengan segala pernik, toh dalam acara hiburan harus ada yang menghibur bukan. Para pemain atau pemilih yang 30 orang kabarnya dapat honor juga, disamping kemungkinan dapat juga kenalan yang sesuai dengan harapan masing-masing. Tetapi yang jelas beberapa diantaranya suka dengan kemunculan dilayar kaca, maksudnya kalau casting iklan atau sinetron sudah ada nama.

Dari beberapa episode, penulis mengamati perubahan perilaku wanita single atau single parent muda, yang mungkin juga merefleksikan perilaku wanita Indonesia? Mereka umumnya mencari pria yang selain penampilannya baik, karir dan kehidupannya sudah mapan. Memang tidak bisa disalahkan, wanita itu tidak materialistis...tetapi didalam hidupnya dia butuh materi. Nah apa bedanya kan, artinya tetap saja dia butuh hidup, butuh beli bedak, gincu, sepatu, beli pulsa Hp, mobilitas tinggi, artinya kalau bisa segera punya mobil. Dan terakhir ya idamannya punya rumah itu dan suami yang baik.

Disinilah yang harus diketahui oleh kontestan pria, bayangkan ketiga puluh wanita single itu akan menentukan pilihannya dengan beragam alasan dan kepentingan. Suatu saat ada pria keren tetapi pekerjaannya pas-pasan, yang mematikan lampu pada awalnya banyak, tetapi akhirnya dia dapat juga pasangan. Terus ada yang bergaya artis, rambut gondrong, talentanya baik...tapi akhirnya semua lampu dimatikan, tidak ada yang memilihnya. Nah, suatu saat ada yang tampil dengan back ground pengusaha, ditayangkan mobilnya BMW...hehehe...tidak ada lampu yang dimatikan. Ada lagi yang mempunyai back ground master, agamanya kristiani, mapan, punya usaha sendiri dan menjanjikan, ternyata dia dipilih juga oleh wanita manis yang beragama Islam.

Jadi pada acara tersebut, yang mejadi kekuatan para kontestan adalah back ground-nya, kemapanan dan penampilan, itulah kuncinya. Yang lain bisa tidak menjadi kriteria esensial. Kalau orang mapan dan mampu memperlihatkan dia kaya, wuiiih...jangan takut, akan banyak peminatnya. Nah, tadi malam penulis melihat ada salah satu pemilih wanita yang demikian sombong tampil percaya diri. Dia mengatakan kepada salah satu kontestan pria yang mempunyai travel biro, karena dijanjikan akan diajak jalan-jalan ke Bali dan Australia, eh dia mematikan lampu...mengatakan saya kira jalan-jalannya keliling dunia, ke Eropa...ternyata hanya ke Australia. Dan dia juga mengatakan hanya mau sendiri keliling dunia tapi dibiayai oleh kontestan tadi. Si pria yang kesal dan marah akhirnya memberikan hadiah kepada Co Host mau kemana saja silahkan.

Apa yang terlihat disitu, sebuah kesombongan seorang wanita single dimuka publik, bahkan isteri saya mengatakan amit-amit...karena dia pada beberapa episode terdahulu juga berani menghina kontestan pria, katanya mobilnya saja lebih jelek dari mobil saya, buat apa memilih dia? Nah lho! Apakah demikian karakter dan budaya kita masa kini? Walau kita tidak bisa menggeneralisasi masalah ini, tetapi kini ada wanita yang berani dan bisa demikian vulgar tampil di publik seperti itu. Apakah demikian tampilan wanita baik-baik yang siap untuk diambil sebagai isteri? Hal seperti ini bisa menurunkan kredibilitas acara tersebut sendiri. Memang acara tersebut hanya sebuah acara hiburan, akan tetapi perlu juga diingat bahwa apa yang ditampilkan di layar kaca, sedikit banyak akan ada pengaruhnya bagi pemirsa, harus dipikirkan unsur edukasinya,  khususnya bagi para wanita muda kita didaerah.

Acara tersebut jelas hanya merupakan sebuah panggung hiburan, dan kita sebagai penonton hanya bisa pasrah menonton, tetapi karena penulis mungkin termasuk orang yang tidak suka dengan kesombongan, yah terpaksa dengan berat hati mengklik ke channel lain, menonton acara lainnya saja. Tidak tega rasanya melihat ada wanita muda, generasi penerus kita yang demikian sombongnya tampil dilayar kaca dan di tonton jutaaan pemirsa, dan... justru dijadikan ikon  pada beberapa episode. Rasanya kok tidak sesuai dengan budaya kita ya. Apakah ini sebuah pengaruh globalisasi, dimana semuanya diukur dengan materi dan dengan segala kebebasannya?

Ada yang dilupakan oleh wanita tadi...Allah SWT paling tidak suka dengan orang yang sombong. Jadi jangan sombong deh non. Nanti kalau gusti Allah marah, repot deh. Atau mungkin, memang acara itu kini khusus untuk kawula muda kali ya...tidak untuk orang Jadul ini...Itu saja, good bye take me out.

PRAYITNO RAMELAN

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2009/10/25/kesombongan-di-take-me-out-yang-memprihatinkan/ (Dibaca: 2719 kali)

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.