Setelah Gembong Ditembak, Teroris Bisa Membalas

14 October 2009 | 12:21 am | Dilihat : 168

Akhirnya Polri mengumumkan bahwa kedua jenazah yang meninggal ditembak di tempat kos Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang adalah tokoh teroris yang masuk DPO yaitu Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad serta Muhammad Syahrir. Setelah keduanya yang dikenal sebagai tokoh besar kelompok Noordin M Top meninggal, timbul pertanyaan, apakah ancaman teror akan lenyap?. Kini, muncul sebuah  peringatan serius dari adik Amrozi dan Ali Ghufron dua aktor bom Bali-1 yang telah dieksekusi 9 November 2008, bernama Ali Fauzi. Dikatakannya, "Polisi jangan euphoria dahulu. Boleh-boleh saja Syaifudin Jaelani dan Syahrir tewas, namun yang punya pikiran dan keyakinan sama dengan mereka

masih banyak di Indonesia," tegasnya. Fauzi mengatakan bahwa dia tidak akan terkejut apabila dalam dua atau tiga bulan lagi tiba-tiba ada serangan. Bukan untuk menakuti katanya, tapi hanya mengungkap kemungkinan. Ali Fauzi tercatat sebagai salah satu bekas anggota Jemaah Islamiyah senior. Bagaimana kemungkinan serangan baru itu?. Yang perlu dilihat dan diketahui adalah siapa tokoh yang dianggap potensial sebagai ancaman kedepan itu. Dari daftar DPO yang dikeluarkan Polri, ada beberapa tokoh yang harus terus diwaspadai. Yang paling menonjol kini adalah yang bernama Zulkarnaen alias Daud alias Arif Sunarso,  nama yang kedua adalah Jaja, aktivis NII kelompok Banten, ketiga Dulmatin alias Joko Pitoyo, keempat Umar Patek alias Umar Kecil alias Abu Syekh alias Zacky. Keterangan lebih lanjut dari keempat orang tersebut adalah :

Zulkarnaen alias Daud alias Arif Sunarso. Zulkarnaen diduga berperan sebagai penanggung jawab operasi teror Jemaah Islamiyah. Ketua Dewan (Panglima Komando) Lasykar Askari atau pimpinan kelompok bersenjata Jemaah Islamiyah ini bukanlah eksekutor lapangan, melainkan penanggung jawab aksi teror. Beberapa aksi peledakan bom yang mendapatkan persetujuan Zulkarnaen antara lain peledakan bom di Bursa Efek Jakarta, pada 2000, bom Bali-1,  2002. Peledakan bom di hotel JW Marriott, tahun 2003. Dan  peledakan bom di Kedutaan Besar Australia, Jakarta, September 2004. Zulkarnaen merupakan alumnus  Al Mukmin  Ngruki, Sukoharjo. Veteran Afghanistan ini  juga bertugas sebagai instruktur di kursus pelatihan militer dekat Waimurat, Buru.  Setelah lulus SMP dan SMA di Ngruki, Zulkarnaen melanjutkan kuliah di UGM Yogya jurusan biologi.

- Jaja, merupakan aktivis NII dari kelompok Banten, berteman baik dengan Rois yang sama-sama bukan dari JI tetapi dari NII, Rois kini berada didalam tahanan. Jaja merupakan salah satu tokoh terkenal dikalangan aktivis jihad sebagai salah satu organisatoris kamp NII yang handal. Dia mengorganisir salah satu kamp pelatihan teroris di Pulau Saranggani, Mindanao. Pulau tersebut dikenal dengan nama kamp NII, berjarak enam jam menggunakan speed boat dari daratan Mindanao. Jaja, disinyalir sudah empat tahun lalu sudah kembali ke Indonesia. Dengan kemampuannya, Jaja dianggap sangat berbahaya dengan kemampuan mengorganisir dan melatih teroris.

- Dulmatin alias Joko Pitoyo. Tokoh  teroris ini berasal dari Pemalang, Jawa Tengah, masih terus diburu polisi karena terlibat dalam aksi bom Bali-1, 2002. Dulmatin sempat beberapa kali dikabarkan tewas dalam serangan udara militer Filipina di Pulau Mindanao, Filipina Selatan pada Januari 2005. Pada Januari 2007, Dulmatin juga dikabarkan tewas dalam baku tembak dengan militer Filipina, di Jolo, Filipina Selatan, namun Kepolisian Republik Indonesia memastikan Dulmatin belum tewas, dan masih diburu.

- Umar Patek alias Umar Kecil alias Abu Syekh alias Zacky, adalah anggota senior Jemaah Islamiyah. Umar Patek diduga terlibat dalam serangan bom di Bali-1, 12 Oktober 2002. Sampai sekarang polisi masih mencari Umar Patek. Sejak 2003, Umar Patek bersama Dulmatin diduga melarikan diri ke Filipina. Kemungkinan keduanya bersembunyi di wilayah Filipina Selatan, seperti pulau Simunul dan Mindanao, serta pulau Jolo bagian Barat Daya Filipina.

Dari ke empat gambaran tokoh yang paling diburu Densus-88, nampaknya Zulkarnaen dan Jaja yang sangat perlu diwaspadai. Keduanya diperkirakan kini berada di dalam negeri, dan akan menggabungkan antara kepentingan NII dengan jaringan Al-Qaeda yaitu kelompok Noordin yang lebih dekat dengan Jemaah Islamiyah. Walaupun demikian kedua orang lainnya tetap perlu diwaspadai. Dari penjelasan Kapolri pada saat penggerebekan di Jatiasih, dimana ditemukan dokumen bahwa kediaman Presiden di Cikeas serta Istana negara akan menjadi target, nampaknya mereka sudah bersepakat menempatkan Indonesia sebagai musuhnya, karena sasaran mereka adalah simbol negara.

Penilaian ini lebih dikuatkan dengan ungkapan Syaifudin Zuhri yang di ungkapkannya didalam Laptop Noordin, bahwa ada kata-kata hancurlah Indonesia. Oleh karena itu, maka kini kita tetap harus "alert" dalam menyikapi perkembangan teroris paska tewasnya Noordin, Syaifudin dan Syahrir. Ungkapan Ali Fauzy yang adik Amrozi kiranya perlu juga diperhatikan. Yang agak rawan kini adalah setelah penyergapan Syaifudin dan Syahrir, masyarakat menilai dan merasa bahwa masalah terorisme sepertinya sudah selesai. Mengendur sedikit mungkin, akan tetapi setelah mereka konsolidasi, bukan tidak mungkin mereka akan membalas dengan pemboman baru ataupun mungkin melakukan serangan teror dalam bentuk lain.

Yang perlu diingat, kita akan memasuki lembaran baru, berupa pelantikan presiden dan wakil presiden serta pengangkatan anggota kabinet, jangan sampai mereka mencederai perhelatan kita. Akibatnya akan luas dan sangat tidak baik. Mari tetap waspada, yang kita hadapi adalah teroris-teroris terlatih. Semoga bermanfaat.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/10/14/setelah-gembong-ditembak-teroris-bisa-membalas/ (Dibaca: 1471 kali)

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.