Soekarno, Soeharto dan Susilo

8 August 2009 | 1:18 am | Dilihat : 1110

Orang tua dari suku jawa banyak yang memberi nama anaknya dengan awalan Su atau Soe, dengan harapan anaknya akan bernasib baik, maju dan sejahtera, karena Su itu berarti baik. Maksudnya agar anaknya tersebut baik segala-galanya. Dari banyaknya nama-nama dengan awalan Su/Soe, yang kemudian berhasil dan menjadi sangat terkenal dan hebat adalah Soekarno (Presiden RI pertama), Soeharto (Presiden RI kedua) dan Susilo Bambang Yudhoyono (incumbent).

Ir. Soekarno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901, wafat di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Jenderal Besar TNI Purn. Haji Moehammad Soeharto, lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta  8 Juni 1921, wafat di Jakarta 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun. Jenderal. TNI (Purn) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur  9 September 1949, umur 60 tahun, kini masih menjabat dan kembali terpilih sebagai presiden untuk periode 2009-2014.

Apa kehebatan para pemimpin itu? Bung Karno telah mampu menunjukkan dan memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah sebuah negara besar, berdaulat dengan konsep demokrasinya yang mempunyai keinginan terciptanya perdamaian dunia, dengan politik bebas aktif. Presiden yang mempunyai kharisma dan sebagai orator tingkat dunia dan diakui sebagai salah satu tokoh pemimpin Asia, Afrika dan Amerika Latin. Beliau adalah Bapak Proklamasi kemerdekaan RI, itulah torehan sejarahnya.

Pada saat operasi pembebasan Irian Barat, dunia mengetahui bahwa Indonesia mempunyai kekuatan Darat dan kekuatan laut besar, mempunyai kapal induk. Kekuatan udara kita saat itu termasuk yang paling modern di kawasan Asia Tenggara. TNI AU (AURI) dilengkapi dengan pesawat tempur MIG 15, MIG 17, MIG 19, MIG 21, dan pembom menengah IL-28. Negara-negara tetangga merasa takut dan tidak aman karena AURI mempunyai pesawat pembom jarak jauh TU-16 yang dapat mencapai kota-kota di Australia dan kota-kota dikawasan Asia Tenggara. Presiden Soekarno dengan diplomasinya mampu menjadikan  Indonesia menjadi negara yang disegani dan ditakuti negara-negara sekeliling.

Presiden kedua Jenderal Besar H.M. Soeharto mampu membangun perekonomian Indonesia, pada tahun 1970 Indonesia adalah negara pengimpor beras terbesar didunia, tapi pada tahun 1984 negara yang dipimpinnya berhasil berswasembada pangan. Pak Harto berhasil membangun dibidang Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam yang ditata selama 32 tahun masa jabatannya, sehingga diberi gelar "Bapak Pembangunan". Program pendidikan, kesehatan masyarakat, posyandu, pembatasan kelahiran,  dinilai sangat berhasil. Pak Harto menjadi salah satu pendiri Asean, menempatkan Indonesia sebagai Negara yang disegani didunia internasional. Tokoh terkemuka dikawasan Asia Tenggara.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah sosok Jenderal yang mampu menempatkan diri sebagai demokrat sejati sesuai dengan kehendak dan semangat reformasi. Menata Negara ini dalam masa transisi pelaksanaan demokrasi, berhadapan dengan mental korupsi pejabat yang masih merajalela. Dibidang ekonomi  mampu menjaga negara dari  imbas sulitnya perekonomian global. Mampu mengatur ritme antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mampu mengatur keseimbangan koalisi parpol.  Mampu membawa Indonesia dalam pergaulan internasional hingga lebih berperan dan dihargai, termasuk dalam forum PBB. Presiden kita yang satu ini bertekad keras memberantas korupsi. Itulah kira-kira keberhasilan ketiga presiden kita.

 

Akhir Yang Tidak Baik

 

Kita tahu bahwa akhir hidup Bung Karno dan Pak Harto pada akhir hayatnya tidak baik. Presiden pertama, Bung Karno saat sakit setelah kejatuhannya katanya sulit mencari dokter, diasingkan, wafat dalam kondisi yang kurang baik. Masalah politik yang membelit Bung Karno sulit dan memerlukan waktu yang lama untuk terselesaikan. Waktu berjalan juga akhirnya yang mampu menaikkan kembali kehormatan Bung Karno, bahkan kemudian putrinya Megawati, menjadi salah satu Presiden RI.

Hal yang sama terjadi kepada Su/Soe kedua, Pak Harto hingga saat akhirnya masih dicerca, didemo oleh mereka yang masih merasa sakit hati dan dendam. Persoalan hukum masih juga belum selesai, masalah Yayasan-yayasan yang didirikannya masih dalam tuntutan kasus perdata. Ada masalah hukum yang masih membelit dan tersisa pada putra dan keluarganya. Hingga kini belum ada kata putus terhadap nasib pengadilan/keadilan almarhum.

Kenapa nasib kedua pemimpin Su/Soe pertama dan kedua tersebut menjadi tragis seperti itu? Ini diantaranya karena lamanya beliau menduduki jabatan sebagai Presiden. Sebagai manusia biasa, jelas manusia tidak sempurna, beberapa keputusan yang pada awalnya baik, akhirnya menggelincirkannya. Bung Karno dengan Nasakom, menempatkan tuduhan lebih pro kepada kelompok komunis, pada saat peristiwa G30S/PKI, beliau sebagai presiden menjadi orang yang disalahkan. Pak Harto, dengan kebijakan stabilitas keamanan, stabilitas ekonomi dan pemerataan pembangunan, dalam pelaksanaannya akhirnya  terlibat dengan ekseseksesnya, kemudian  dituntut bertanggung jawab, juga sebagai presiden.

Kelemahan dan kerawanan kedua pemimpin besar diatas disebabkan kurangnya kewaspadaan keduanya saat berada dipuncak. Informasi yang diterima beliau sebagai pimpinan nasional ternyata tidak seakurat dengan perkembangan situasi  lapangan. Dengan demikian, maka keputusan yang diambilnyapun menjadi tidak tepat dan merugikannya. Apa pelajaran terbaik yang dapat dipetik dari kasus tersebut?. Ternyata para “inner circle” dan pembantunya yang justru membuat keduanya jatuh. Secara tidak sadar telah terjadi kompartmentasi terhadap beliau berdua. Besar kemungkinan kedua pemimpin besar tersebut masuk dalam killing ground dari konspirasi global, yang dalam ilmu intelijen disebut conditioning.

Bagaimana dengan pemimpin 'Su/Soe' ketiga yang kita miliki? Pak SBY menjadi presiden dalam masa transisi demokrasi yang sulit. Presiden SBY harus menghadapi kekuasaan kelompok kepentingan (cenderung berwawasan politik) dan hegemoni elit (berkait dengan ketahanan ekonomi). Kedua kelompok ini bersama beberapa pejabat banyak yang terlibat korupsi dengan memanfaatkan jabatannya. Dibutuhkan ketegaran menghadapi beberapa kelompok kepentingan tersebut yang sulit diharapkan kesetiaannya kepada beliau dan negara. Yang dihadapinya adalah kepentingan individu dan kelompok. Belum lagi tantangan dan ancaman globalisasi dan menyebarnya faham dan pengaruh neo liberalisme, yang mengagungkan kapitalisme sebagai jalan keluar dari kesulitan bangsa kita.

Untuk menghindari terjadinya kasus seperti kedua pemimpin besar diatas, diperlukan kewaspadaan justru pada saat beliau masih menjabat. Presiden SBY bisa menjadi sasaran tembak banyak pihak, bisa dimanfaatkan, bisa dibuai, bisa dijerumuskan, dan akhirnya bisa dikorbankan oleh kelompok-kelompok oportunis ataupun mungkin kembali konspirasi global akan ikut bermain. Dibutuhkan data yang akurat, analisa yang komprehensif, obyektif, jujur dan jernih untuk mengantisipasi dan mengamankan baik diri dan negara yang dipimpinnya.

Tanpa pikiran prejudice, kalau mau berkata jujur, banyak orang kita yang sangat baik dan terlihat sangat mengabdi kepada pejabat selama dia menjabat...tapi akan mensia-siakan begitu dia posisinya lemah atau kalau sudah turun dari jabatannya. Memang sulit mencari mereka yang benar-benar setia dinegara ini. Dalam keadaan bahaya biasanya merekalah yang pertama menyelamatkan dirinya, meninggalkan si pemimpin dikeroyok orang banyak. Sejarah telah mencatat kasus-kasus seperti itu.

Itulah sepenggal nama kisah 'Su/Soe' , yang artinya baik, tapi ternyata dua orang pemimpin nasional Indonesia yang hebat dan sangat dihormati tadinya, diakhir hayatnya justru berakhir kurang baik. Kini kita akan melihat pemimpin besar Su ketiga, apakah akan berakhir baik? Semoga saja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan kembali memimpin bangsa ini dalam lima tahun kedepan. Dibutuhkan kerja keras dan kewaspadaan tinggi, agar torehan sejarah terhadap dirinya baik dan tidak ternoda.

Memang berat memimpin bangsa yang sedang berkembang dan sangat dinamis ini, banyak "raja tega" didalamnya. Dengan dukungan rakyat yang demikian besar, kiranya Pak SBY akan sulit didikte oleh kekuatan politik manapun. Kita doakan agar beliau berhasil membawa bangsa ini menuju cita-cita luhur bangsa ini, masyarakat yang adil dan makmur. Amin.

Catatan : Penulis pada Januari 2008 pernah menulis artikel dengan judul serupa pada blog pribadi. PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana   Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2009/08/08/soekarno-soeharto-dan-susilo/ (Dibaca : 3658 kali)
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.