Bagaimana Demokrat Nanti Kalau SBY Mundur

4 August 2009 | 12:17 am | Dilihat : 84

Partai Demokrat adalah sebuah fenomena baru yang sebelumnya tidak terbayangkan akan merajai dunia perpolitikan di Indonesia. Pada pemilu yang baru berlalu di bulan April, Partai Demokrat menguasai pileg dan meraih 20,85% suara. Tidak terbayangkan partai ini mampu meningkatkan hampir tiga kali lipat perolehan suara dibandingkan pemilu 2004 yang sebesar 7,45%. Dengan hasil tersebut, maka dua partai "anchor" Golkar dan PDIP dibuat menjadi tidak berdaya. Partai Golkar pada pemilu 2009 hanya meraih 14,45% suara, sementara PDIP 14,03%. Banyak pengamat dan pelaku politik mengatakan bahwa Partai Demokrat terangkat karena mengandalkan popularitas SBY. Apakah betul demikian? Terus bagaimana nanti kalau pada 2014 SBY mundur?. Mari kita bahas masalah ini sambil minum teh hangat dan singkong rebus, pasti nikmat.

Partai Demokrat  resmi menjadi partai politik berdasarkan Surat Keputusan Menkeh & HAM Nomor M.MU.06.08.-138 tentang pendaftaran dan pengesahan Partai Demokrat.Selanjutnya pada tanggal 17 Oktober 2002 di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Partai Demokrat dideklarasikan dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pertama pada tanggal 18-19 Oktober 2002 di Hotel Indonesia yang dihadiri Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) seluruh Indonesia. Nah, mulai saat itulah Partai Demokrat berjuang memperkenalkan dirinya sebagai sebuah partai nasionalis dengan lambang segitiga.

Visi dari Partai Demokrat adalah  bersama masyarakat luas berperan mewujudkan keinginan luhur rakyat Indonesia agar mencapai pencerahan dalam kehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur, menjunjung tinggi semangat Nasionalisme, Humanisme dan Internasionalisme, atas dasar ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa dalam tatanan dunia baru yang damai, demokratis dan sejahtera. Dengan visinya tersebut serta ketenaran SBY sebagai tokoh sentral, pada pemilu 2004 secara mengejutkan Demokrat mampu menempatkan diri pada lima besar dengan meraih 7,45%, dibawah Golkar (21,58%), PDIP (18,53%), PKB (10,57%) dan PPP (8,15%). Demokrat bahkan mampu menggungguli partai lama PAN yang meraih 6,44%.

Pada pilpres 2004 tersebut, pasangan SBY-JK berhasil maju ke babak kedua menangguk 33,57% suara bersama pasangan Mega-Hasyim Muzadi yang meraih 26,61%. Pada putaran kedua, kembali pasangan SBY-JK unggul dengan 60,62%, sedangkan pasangan Mega-Hasyim hanya meraih 39,38%. Keunggulan pasangan SBY-JK sangat dipengaruhi dengan adanya rasa kekecewaan masyarakat terhadap pimpinan nasional. Kebutuhan pemimpin itulah yang dipenuhi oleh SBY, dimana setelah era kepemimpinan Pak Harto, masyarakat menilai beberapa presidennya lemah dalam soal kepemimpinan. Mereka membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya dan  dibanggakan. SBY muncul dengan postur gagah, simpatik, purnawirawan Jenderal, bicaranya santun dan menguasai setiap persoalan. Selain name awareness sudah tersosialisasikan, brand awareness-nya dikemas dengan benar. Maka dilantiklah SBY presiden RI keenam.

Pada akhir perjalanan kepemimpinan duet SBY-JK periode 2004-2009, keduanya kemudian berpisah dan menjadi capres masing-masing partainya. SBY dengan modal dari partai Demokrat yang 20,85% serta popularitasnya yang semakin baik menjadi lebih confident. Strategi yang dikatakan SBY pada saat diwawancarai oleh Najwa Shihab di Metro TV disebutnya strategi putih. Sebagai perwira tinggi yang pernah mendalami masalah teritorial dan sosial politik saat menjabat sebagai Kasospol ABRI, jelas SBY sangat memahami kondisi dunia politik di Indonesia. Bagaimana perubahan perilaku konstituen, bagaimana kebutuhan masyarakat, bagaimana perkembangan masyarakat sebagai akibat reformasi, semua diamati satu persatu dengan teliti dan dikuasainya. Parpol dikelola lebih modern, seperti  yang dilakukan PKB saat pemilu 1999. SBY tidak mengandalkan semuanya perencanaan, strategi dan kampanyenya kepada jejaring partai, tetapi memanfaatkan jasa konsultan Fox Indonesia.

Secara jujur dapat dikatakan bahwa Demokrat menjadi besar karena SBY. Memang SBY jauh lebih besar dari Demokrat. Seperti kita ketahui, parpol di Indonesia masih menganut budaya paternalistik. Partai akan cepat membesar apabila patronnya hebat. Sebagai contoh Golkar dahulu hebat karena Pak Harto, PDIP mengandalkan Mega, Demokrat ada SBY, PAN dikawal Amin Rais dan kemudian digantikan oleh  Sutrisno Bachir, PKB patronnya Gus Dur. Gerindra sebagai partai baru maju karena Prabowo, Hanura karena ada Wiranto. Tanpa patron maka partai banyak yang rontok, Golkar menurun sepeningal Pak Harto, PKB runtuh setelah Cak Imin meninggalkan Gus Dur. PPP juga semakin rontok karena tidak mempunyai patron. Partai khusus yang mencoba tanpa patron hanya PKS, tetapi ya kini hanya bisa mempertahankan perolehan yang sama saja, belum menunjukkan indikasi akan  meningkat.

Pemilu 2014 masih lama,  anggota DPR juga belum dilantik dan pemenang pilpres walau sudah ditetapkan KPU masih menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi. Tetapi apa para elit Partai Demokrat hanya akan terus bergembira dengan pesta kemenangan? Ada hal yang sangat penting, prinsip dan strategis dan harus segera dibicarakan. Kalau hanya berbicara taktis lima tahun kemuka dimana kekuasaan telah diraih, yah sangat disayangkan. Apakah sudah dipikirkan, bagaimana menghadapi 2014 nanti? Disana akan terlihat bahaya terhadap Demokrat. Pertama, dengan dominasinya di DPR, apakah para anggota legislatifnya tidak akan arogan? Saat kampanye saja arogansi sudah muncul. Begitu mereka menjadi sombong, maka simpati rakyat akan turun. Kedua, sesuai UU Pilpres Nomor.42/2008, pak SBY pada tahun 2014 tidak akan bisa nyapres kembali. Kecuali UU tersebut dirubah, dan apakah ini tidak akan justru menjadi anti klimaks?.

Artinya, mau tidak mau Partai Demokrat harus melakukan kaderisasi, mempesiapkan calon presiden. Tapi siapakah tokoh yang mampu ditonjolkan? Kini yang menonjol untuk dicalonkan sebagai Ketua DPR diantaranya Hayono Isman, Taufik Efendi, Marzuki Ali, Syarif Hassan dan Anas Ubaningrum. Apakah juga calon ini yang akan dijadikan capres nantinya? Apabila Demokrat ragu-ragu, mungkin bisa mengambil calon dari luar. Tetapi yang jelas, Pak SBY sebagai tokoh sentralnya besar kemungkinan tidak akan muncul kembali di panggung-panggung kampanye. Dan ini akan berakibat perolehan suara Demokrat pada 2014 bisa turun.

Secara umum, turunnya perolehan suara beberapa parpol dari satu pemilu ke pemilu lainnya berkisar antara 4%-7%, terjadi pada Golkar, PDIP dan PKB. Kalau mengambil yang terburuk 7%, maka Partai Demokrat masih bisa menuai 14,85% pada 2014, tetap sebagai papan atas. Jadi yang perlu diwaspadai hanyalah siapa capresnya. Putra mahkota Demokrat sebaiknya mulai di gadang-gadang sejak kini, mungkin dijadikan anggota kabinet atau Ketua Umum Partai Demokrat. Demikian sedikit masukan terhadap Partai Demokrat. Dari pengalaman yang demikian canggih, kenapa kok takut dan repot? Percayakan saja kepada Ketua Dewan Pembinanya...biasanya juga begitu bukan?

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2009/08/04/bagaimana-demokrat-kalau-nanti-sby-mundur/ (Dibaca: 2138 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.