Kuatnya SBY-Boediono Dan Resiko Yang Dihadapi

27 June 2009 | 12:52 pm | Dilihat : 86

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden sejak hari ini tersisa sepuluh hari lagi. Kegiatan kampanye semakin gencar dilakukan diseluruh tanah air, debat capres dan cawapres masing-masing hanya tersisa  satu kali lagi. Apakah debat mempunyai pengaruh terhadap elektabilitas pasangan? Semua telah dibahas oleh manajer kampanye yang banyak mengadopsi ilmu kampanye dari negeri paman sam. Dari debat capres dan cawapres, ada kecenderungan ketertarikan publik dengan debat cawapres dibandingkan debat capres yang katanya terlalu monoton. Artinya cawapres tersebut mempunyai daya tarik tersendiri dalam memperkuat nilai elektabilitas gabungan. Nah, dari ketiga cawapres, cawapres Boediono pada awalnya dinilai sebagai figur terlemah, hanya seorang ahli ekonomi, bukan politisi. Kelasnya masih dibawah cawapres Wiranto dan Prabowo. Bahkan beberapa partai mitra Demokrat pada awalnya meragukan kemampuannya  bisa berbicara dan bersaing dalam konteks politik. Apakah memang demikian?

Sekali lagi kita hanya bisa melihat ukuran posisi capres, cawapres ataupun duet keduanya melalui lembaga survei. Diakui memang ada  beberapa lembaga survei yang bekerja dengan dana dari pasangan yang menggunakan jasanya. Terlepas dari pandangan negatif publik, penulis mencoba tetap mengajak pembaca melihat posisi masing-masing dengan melalui hasil survei. Apabila hasil survei yang dipakai adalah sebuah pembohongan publik, maka lembaga survei tersebut harus bertanggung jawab atas hasil ilmiahnya tersebut. Mari kita simak hasil survei dari LSI.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Mujani mengeluarkan hasil dari surveinya yang dilakuk, dengan wawancara tatap muka, margin of error 2,8%, tingkat kepercayaan 95%. Survei dilakukanan pada tanggal 15 hingga 20 Juni 2009, melibatkan sampel 2000 responden, dengan teknik multistage random sampling. Komposisi 50% pria dan 50% wanita, responden dikelompokkan dengan katagori 60% tinggal di pedesaan dan 40% diperkotaan. Survei mengukur rasa suka masyarakat ("likeability") terhadap Boediono yang kini ternyata mencapai 76%, Prabowo 66%, Wiranto 67%, Mega 64% dan JK 69%. Boediono ternyata memiliki keunggulan rasa disukai masyarakat dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, kecuali SBY.  "Pengenalan publik terhadap Boediono yang sebelumnya hanya 25%, dalam 50 hari terakhir melejit menjadi 73%," jelas Saiful Mujani.

Selain mengukur masing-masing pribadi, survei yang juga mengukur tingkat elektabilitas pasangan, menempatkan pasangan SBY-Boediono pada posisi terkuat dengan dukungan 67%, Mega-Prabowo 16%, JK-Wiranto 9% dan yang belum menentukan pilihan 9%. Bila penurunan ini dibaca secara konservatif, SBY-Boediono sekarang berada pada posisi 64%. Pada survei sebelumnya yang dilaksanakan tanggal 25-29 Mei 2009, SBY-Boediono mendapat dukungan 70%, Mega-Prabowo 18%, JK-Wiranto 7%, Tidak memilih 5%.

Menurut Anas Urbaningrum, angka sebelumnya yang sebesar 70% adalah produk band wagon effect dari pemilu legislatif. Dengan adanya "attacking campaign" maka angka 67% adalah adalah  nilai normalisasi elektabilitas dan dinilainya  masih aman menuju kemenangan pada pilpres 8 Juli mendatang.

Apakah dengan demikian SBY-Boediono akan menang dalam satu putaran?. Kalau mengacu dari hasil survei tersebut, nampaknya bisa saja terjadi. Dari beberapa fakta diatas, nampaknya pasangan SBY-Boediono masih sulit ditumbangkan, Boediono yang semula dihitung sebagai "titik mati" pasangan ini, mampu diangkat citranya justru karena dianggap tidak terkontaminasi kekotoran politik. Walau pasangan ini masih terlihat dominan, hingga tanggal 20 Juni, ada faktor-faktor mempengaruhi yang harus dihitung dan  bisa merusak perolehan suara.

Hal tersebut yaitu besaran angka golput dan DPT bermasalah. Angka Golput apabila mencapai besaran 40% diperkirakan akan berpengaruh terhadap peluang kemenangan pilpres dalam satu putaran. Menurut pengamat politik Alfan Alfian, kalau pertambahan DPT hanya 2,98%, maka tidak ada jaminan angka Golput akan turun drastis. Dinilainya KPU belum optimal dalam pendaftaran ulang, hingga banyak masyarakat yang sudah mempunyai hak pilih tidak terdaftar dalam DPT. Menurutnya, jika pada pilpres nanti banyak pemilih menjadi golput karena tidak masuk DPT, maka hal ini yang akan memicu konflik politik.

Kalaupun toh akhirnya nanti pasangan SBY-Boediono  yang berjaya, kiranya mulai kini patut diwaspadai kemungkinan timbulnya konflik sebagai akibat rasa tidak puas. Pendukung ketiga kubu yang semakin mengkristal dan fanatis dalam pilpres dibandingkan pemilu legislatif bisa sewaktu-waktu berubah menjadi kelompok massa yang rusuh. Incumbent sebaiknya lebih menghitung dan membuat perkiraan keadaan yang lebih mendalam.

Kerusuhan pascapemilu di Iran bukan tidak mungkin akan memberikan inspirasi kepada  pihak yang memang menginginkan negara kita tidak tenteram. Baik mereka yang dari dalam ataupun luar negeri. Iran, yang melakukan tindak kekerasan terhadap para demostrannya kini  menerima kritik dan kecaman  keras dari  negara-negara yang tergabung dalam forum G8. Oleh karena itu para elit politik jangan hanya  mau menangnya sendiri saja, tetapi perlu juga menghitung ketidak puasan mereka yang kalah nanti. Kalau tidak, maka kitapun harus siap menerima kecaman dan tekanan dunia internasional seperti Iran. Yang jelas perjalanan demokrasi yang kita unggul-unggulkan akan bisa  tercederai. Kita berdoa, semoga jangan sampai begitu.

PRAYITNO RAMELAN, Guest BLogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/27/kuatnya-sby-boediono-dan-resiko-yang-dihadapi/ (Dibaca: 2280 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.