PKS Mengancam, SBY Tetap Bergeming!

13 May 2009 | 3:58 pm | Dilihat : 96

Hari kemarin (12/5) adalah hari teramai bagi kubu SBY, setelah berembus kabar Boediono akan diambil SBY sebagai cawapresnya.  Beberapa partai Islam yang direncanakan akan menjadi mitra koalisi Partai Demokrat meradang. Empat perwakilan parpol, yakni PPP, PKB, PKS, dan PAN mengadakan pertemuan di ruang Fraksi PKS, Gedung DPR, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut sempat muncul ancaman mereka akan meninggalkan koalisi dengan Partai Demokrat. Yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq. Mereka katanya akan membentuk poros alternatif kalau SBY tidak merevisi nama cawapresnya. Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq, saat jumpa pers mengatakan "Hitung-hitungan kami, kalau PKS dan empat parpol ini gabung dengan Gerindra, terus misalnya kami gabung dengan Hanura dan Golkar. Maka jumlah kursi kita bisa 60 persen di parlemen. Ini poros alternatif."

Tadi malam terjadi dua pertemuan, yang satu di wisma negara, dikendalikan oleh Mensekkab Sudi Silalahi serta Mensesneg Hatta Rajasa, hadir juga Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo. Yang hadir dari mitra koalisi adalah Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, dan Sekretaris Jenderal DPP PAN Zulkifli Hasan. Ketua Umum DPP PKS Tifatul Sembiring tidak hadir walau juga diundang. Mereka yang hadir sepakat tetap mendukung pasangan SBY-Boediono.

Pertemuan lainnya juga terjadi tadi malam  di Hotel Nikko, dihadiri wakil dari PKS, PAN, dan PPP minus PKB. Mereka hanya memutuskan untuk menunda penandatanganan koalisi dengan Demokrat. PKS diwakili oleh  Anis Matta dan  Mahfudz Siddiq,  juga hadir Sekjen PAN Zulkifli Hasan, dan Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP Romahurmuziy.

Ketua MPP PAN Amin Rais memberikan reaksi atas keputusan SBY dalam memilih Boediono sebagai cawapres, dia mengaku gagal untuk memahami pola pikir SBY yang biasanya selalu mengedepankan rasionalitas pemikiran dan kehatihatian. Namun yang dilakukan SBY kali ini menurut Amien tidak ubahnya sikap takabur. “Saya yakin duet SBY- Boediono tidak terlalu layak jual karena menyalahi tradisi baku Indonesia,” kata Amin.

Dari beberapa perkembangan dinamika politik yang bergerak demikian cepat, nampaknya parpol pendukung SBY (Demokrat) semakin terpecah belah. PAN disatu sisi dikomandoi oleh Hatta Rajasa tetap berada disisi SBY, dilain sisi Amin Rais meradang, kembali mengkritik SBY setelah usulannya mencalonkan Hatta ditolak. Tetapi nampaknya tekanan Amin Rais kini tidak terlalu kuat. PKB dibawah komando Ketua Umum Dewan Tanfidz Muhaimin Iskandar tetap mendukung SBY. PPP dibawah Suryadarma Ali tetap mendukung SBY, sementara ada wakil sekjennya yang menghadiri pertemuan di Nikko.

Yang paling  menolak adalah PKS, Presiden PKS Tifatul Sembiring tidak menghadiri undangan di Wisma Negara, bahkan Sekjen Anis Matta, Fachri Ali  dan Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq pada malam yang bersamaan menggelar pertemuan di Hotel Nikko bereaksi keras mengkritik SBY dan Demokrat, mengundurkan panandatanganan kontrak koalisi yang semula direncakanan hari Rabu ini. PDIP kini lebih intensif didekati SBY melalui komunikasi politik yang diwakili oleh Hatta Rajasa. Hanya PKB yang tetap tenang-tenang  berkoalisi dengan Demokrat.

Rupanya SBY dan Demokrat dalam waktu yang "mepet" ini telah kembali menghitung gejolak dari parpol calon mitra koalisinya. Memang inilah kerawanan apabila koalisi terbentuk diantara parpol yang berbeda platform dan ideologinya. Dalam kepergiannya ke Menado selama tiga hari, SBY  menyerahkan  tim lobi Partai Demokrat tidak dikendalikan oleh partainya tetapi justru kepada Sudi Silalahi dan Hatta Rajasa, dua orang kepercayaan SBY. Memang ada perhitungan bahwa  Partai demokrat dalam kondisi terburuk hanya akan didukung oleh PPP dan PKB. Ini nampaknya dinilai tidak menjadi  masalah bagi Partai Demokrat mengingat persyaratan pengajuan capres sudah terpenuhi. Rasa percaya dirinya sudah demikian besar. Terlebih kini Partai Demokrat sedang melakukan komunikasi politik dengan PDIP sebagai sesama partai nasionalis. Kemungkinan terburuknya,  PKS dan PAN sudah dihitung  sewaktu-waktu keluar dari koalisi.

Bagaimana kira-kira hasil akhirnya? Ya kira-kira mereka yang bergolak ya hanya bergolak, letupannya belum terlalu besar karena belum melibatkan pimpinan parpol atau "decesion maker" masing-masing. Memang yang bersuara adalah elit-elit yang muda dan sangat bersemangat, militan. Tetapi nampaknya tekanan dan langkah politik yang mereka buat tidak sekuat apabila dibandingkan dengan  harapan yang akan diberikan oleh SBY kepada partainya masing-masing. SBY sangat menyadari kekuatan dan apa yang dimilikinya,  kunci yang tidak akan dibuka hingga tanggal 15 Mei mendatang. Karena itu walau diancam, nampaknya SBY tetap bergeming.

Penulis memperkirakan  kondisi ini akan tetap terus diberitakan seperti angin ribut, tetapi belumlah akan berubah menjadi ancaman tsunami yang menghancurkan Partai Demokrat. Mereka kelihatannya tidak akan meninggalkan rencana koalisinya dengan Partai Demokrat, karena membangun koalisi dengan partai lain tidaklah dapat dilakukan dalam waktu yang demikian singkatnya. Waktunya sudah demikian "mepet" dan lagipula belum tentu juga ada yang mau. Selain itu akan terlihat bahwa kepentingan pemimpin serta pemuka parpol akan mampu mengalahkan mereka-mereka yang bersemangat itu. Apakah kursi manis itu akan mereka tolak hanya karena sebuah idealisme? Ini yang penting dan akan kita lihat bersama....Memang hebat para perencana "conditioning" itu, canggih.

PRAYITNO RAMELAN, guest Blogger Kompasiana

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/05/13/pks-mengancam-sby-tidak-bergeming/ (Dibaca: 2414 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.