Konsistensi Seorang Megawati

9 May 2009 | 4:12 pm | Dilihat : 37

Rumor tentang PDIP yang akan berkoalisi dengan Partai Demokrat terjawab sudah. Rapat konsultasi DPP PDIP yang digelar hari Kamis (7/5) tidak menghasilkan keputusan tentang cawapres darI Megawati. Kondisi ini tidak sesuai dengan yang dikatakan sekjen PDIP Pramono Anung yang menyatakan rapat hari Kamis itu untuk menetapkan capres-cawapres dari PDIP. Dari beberapa informasi yang berkembang, sesuai yang diperkirakan, rapat berlangsung dalam suasana yang tidak solid, ada nuansa perbedaan pandang antara Mega dan beberapa elitnya. Memang dalam sebuah parpol yang  demokratis, perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah.

Topik dan opsi yang yang dibahas adalah masalah kemungkinan Mega tetap maju menjadi capres, PDIP mendukung Boediono menjadi cawapresnya SBY serta pengajuan Puan Maharani menjadi cawapres dari Prabowo. Diskusi yang membutuhkan syaraf baja bagi para pengurus dan ketua Umumnya tersebut berakhir dengan keputusan dari Megawati. Pertama, Mega tetap maju sebagai capres PDIP. Kedua PDIP siap untuk tidak mengajukan capres. Ketiga PDIP siap kembali menjadi oposisi.

Sikap tegas Megawati tersebut merupakan sikap seorang pemimpin partai besar yang diakui jarang dimiliki oleh parpol lainnya. Mega menepis anggapan banyak orang bahwa PDIP sudah goyah dan akan merapat ke Partai Demokrat. Beberapa hari terakhir, tercatat Gubernur BI Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie berkunjung ke kediaman Mega di Teuku Umar. Banyak pihak memperkirakan kunjungan beliau-beliau tersebut bertugas untuk meluluhkan hati Mega. Mengijinkan beberapa elitnya akan ditempatkan menjadi menteri kabinet dari pemerintahan SBY apabila menang, termasuk putrinya Puan Maharani.

Keputusan Mega tersebut membawa dua arti bagi PDIP baik masa kini maupun dimasa depan. Arti positif yang didapat, Megawati menunjukkan keteguhan sebagai pemimpin partai besar yang menolak rayuan parpol lain bahwa tujuan parpol hanya sekedar meraih kekuasaan dan jabatan. Demokrat akan membarter "gerbong" PDIP dengan beberapa jabatan di kabinet. "Lobby" dari beberapa petinggi dan tokoh tersebut ternyata juga tidak menggoyahkannya. Upaya mengangkat lewat putrinya Puan Maharani juga tidak membuatnya bergeming. Keteguhan ini oleh beberapa pengamat dinilai, akan menyelamatkan negara ini dari kemungkinan terbentuknya pemerintahan yang "otoriter".

Bisa dibayangkan apabila beberapa partai jadi bersatu dengan Partai Demokrat. Saat ini saja, kekuatan Demokrat yang 20,87%, PDIP 14,28%, PKS 8,05%, PKB 5,02%, PAN 6,01%, PPP 5,42%, jumlahnya sudah 59,65%. Kekuatan ini sudah demikian besar dan diperkirakan pada saatnya nanti perolehan kursi di parlemen juga akan berada diatas 60%. Partai Demokrat akan demikian perkasa,  pemerintahan SBY akan bisq bergeser bisa menjadi lebih otoriter, ini yang dikhawatirkan banyak pihak.

Dari sisi negatifnya, keputusan Mega akan kembali menempatkan PDIP sebagai partai oposisi. PDIP yang tidak berada diwilayah kekuasaan jelas akan memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam membesarkan parpolnya, khususnya dalam masalah pemanfaatan rentang kendali serta terbatasnya dukungan dana bagi partai. Apabila diingat, nanti pada tahun 2014 diperkirakan tokoh-tokoh muda akan muncul sebagai calon-calon pemimpin bangsa. Penyiapan pemimpin dari kader parpol sebaiknya juga memiliki pengalaman dipemerintahan. Bagaimana seseorang akan menjadi presiden atau wakil presiden, kalau yag namanya rapat kabinet saja dia tidak pernah tahu?. Praktek "leadership" di parpol saja dinilai tidak mencukupi. Kader sebaiknya dipersiapkan secara berjenjang mulai dari pengalaman di partai, di parlemen dan di eksekutif. Beberapa partai "cerdik" mampu memanfaatkan situasi dan kondisi yang berlaku pada saat ini.

Demikian sedikit tinjauan atas sikap Megawati Soekarnoputri terhadap "rayuan" Partai Demokrat. Ternyata Mega memang berkarakter keras dan "keukeuh" dengan prinsip yang dipegangnya. Sementara ini tidak ada yang dapat menggoyahkan pendiriannya, PDIP adalah segala-galanya bagi Mega. Yang jelas kini banyak pihak menilai bahwa ke-keukeuhan Mega adaah sebuah konsistensi yang sangat jarang dimiliki oleh para elit parpol. Terlepas efek keputusannya tersebut, yang nanti berdampak positif ataupun negatif kepada diri dan partainya, ini adalah sebuah pembelajaran politik bagi bangsa ini. Kini, tersisa sebuah pertanyaan, bagaimana kalau SBY mau mengalah dan datang ke Teuku Umar?. Jangan-jangan Mega luluh hatinya?. Apakah duri kecil tersebut masih menyisakan infeksi dihatinya?. Hanya Mega yang tahu !

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/05/09/konsistensi-seorang-megawati/

(Dibaca: 2084 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.