JK Tertekan, Citra SBY Terancam

28 April 2009 | 6:04 am | Dilihat : 90

Berita mengejutkan disampaikan oleh Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla, yang menyebutkan ada kekuatan tersembunyi yang memecah keutuhan tiga parpol menjelang Pilpres bulan Juli mendatang. Dalam jumpa pers di Posko Slipi II Jakarta tadi malam, JK mengatakan "Tiga partai kok sama, ada perpecahan? PPP (Partai Persatuan Pembangunan) begitu, PAN (Partai Amanat Nasional) begitu, kita cari siapa (yang bikin) ini, apa ada terencana? Semua melawan ketua umumnya. Kita tidak menuduh siapa-siapa kenapa terjadi bersamaan di tiga partai.” Dalam keterangan pers tersebut, JK juga menyinggung penangkapan terhadap Ketua DPP PPP Emron Pangkapi,  “Akhirnya terlibat semua teman-teman di daerah sehingga terpecah belah pandangannya. Ditakut-takuti, ditangkapi, orang hanya bersalahnya sepuluh tahun lalu dengan kasus hanya berapa juta ditangkapi tiba-tiba.”

Penjelasan JK tersebut nampaknya berhubungan dengan  adanya surat dari 24 DPD-I yang menginginkan agar  Partai Golkar meninjau kembali hasil Rapimnasus, pernyataan keberatan Golkar menjadi oposisi dan mempertimbangkan Golkar berkoalisi dengan Partai Demokrat. Surat itu juga mengusulkan enam nama calon pendamping SBY yaitu Surya Paloh, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Fadel Muhammad. JK selanjutnya menanggapi munculnya surat dan mengatakan “Saya mencermati surat itu, yang merupakan langkah alternatif, jaga-jaga kalau Golkar tidak punya pasangan.”

Dalam keterangan persnya, JK didampingi Sekjen DPP Golkar Sumarsono, anggota Dewan Penasihat Fahmi Idris dan Aburizal Bakrie, Ketua DPP Burhanuddin Napitupulu dan Syamsul Muarif. Ditekankannya bahwa Golkar dalam satu dua hari ini akan mengumumkan sebagai partai pertama yang menyatakan koalisi. Wakil Ketua Umum DPP Agung Laksono mengakui, partainya mulai melunakkan sikap. Jika sebelumnya bertekad mengusung Kalla, kali ini membuka kembali opsi cawapres dan komunikasi dengan Partai Demokrat. Menurut Agung, ada sedikit perubahan sikap hasil pertemuan DPP dengan DPD I  Minggu (26/5). “Jadi tidak semata-mata Partai Golkar usung Kalla jadi presiden,” kata Agung di Jakarta kemarin. Agung mengatakan keputusan itu tidak mengubah hasil rapimnas khusus. Hanya mengoreksi sedikit dengan menekankan poin kedua, yaitu posisinya bisa capres atau cawapres dan membuka komunikasi dengan semua parpol. Artinya, membuka kembali komunikasi dengan Partai Demokrat.

Ditempat terpisah Aburizal Bakri mengatakan , Partai Golkar akan menimbang kembali kemungkinan mengajukan cawapres kepada Partai Demokrat. Dikatakannya "Golkar sebagai organisasi demokratis, semua orang berhak berpendapat. Di rapimnas, (Golkar) jelas menentukan capres dan cawapres. Kalau capres nggak bisa ya artinya cawapres. Apakah beliau (Jusuf Kalla) atau orang lain,tergantung nanti dengan siapa bicara. Capres dari Demokrat adalah SBY sehingga dengan demikian (jika) koalisi itu terjadi, yang paling tinggi Golkar sebagai cawapres."

Sementara itu Ketua DPP Partai Golkar Muladi bahkan meminta Jusuf Kalla untuk mengoreksi diri dan menjalin komunikasi kembali dengan Partai Demokrat. "Mungkin, Pak Kalla bisa menirukan apa yang dilakukan SBY waktu menyesalkan Mubarok (pernyataan Ahmad Mubarok). Kurang lebih segitulah, sebenarnya apa yang dikehendaki saya kira masih terbuka lebar. Korbankanlah prestise dan harga diri."  Muladi  juga menyesalkan pecahnya koalisi Demokrat-Golkar karena selama ini Golkar belum memiliki pengalaman dan budaya oposisi. “Ini yang perlu dipikirkan, jangan menempatkan partai ini pada oposisi.”

Nampaknya kini sedang terjadi perebutan pengaruh ditubuh partai papan atas Golkar, antara faksi ketua umum JK dengan faksi mereka yang berkiblat ke Demokrat. JK menengarai bahwa ada "hidden power" yang sedang diselidiki oleh JK dan Golkar, bertujuan memecah soliditas beberapa parpol diantaranya perbedaan arah koalisi di PAN (kubu Amin Rais yang condong ke Demokrat dengan kubu Ketua Umum PAN Sutrisno Bahir). Juga perpecahan terjadi ditubuh PPP antar faksi Suryadarma Ali Ketua Umum yang condong ke Prabowo dengan faksi Bachtiar Chamsyah yang lebih condong ke Demokrat. Kini di Golkarpun terjadi perbedaan pendapat antara faksi JK yang bersikukuh mengusung JK menjadi capres dengan faksi yang lebih pro ke blok SBY yaitu Agung Laksono, Muladi dan Aburizal Bakri dan didukung 26 DPD-I. Nampaknya JK berada dalam posisi tertekan, dan namanya menghilang sebagai cawapres internal yang akan diajukan ke SBY.

Dari beberapa kasus perpecahan ditubuh parpol, para penentang Ketua Umum rata-rata menginginkan agar parpolnya masing-masing berkoalisi dengan Partai Demokrat dan mengajukan cawapres ke SBY. Amin Rais mendukung Hatta Rajasa, Bachtiar Chamsyah mendorong agar PPP berkoalisi dengan Demokrat, beberapa elit Golkar mendukung beberapa nama sebagai cawapres SBY. Dari dinamika politik tersebut, secara perlahan disadari ataupun tidak, akan timbul sebuah opini bahwa Partai Demokrat sedang bermain dan sengaja melakukan tindakan "devide et impera" agar dukungan ke partainya menjadi semakin kuat. Hal ini sangat perlu diwaspadai oleh SBY dan elit Partai Demokrat.  Karena selama ini  selalu disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina SBY, Partai Demokrat harus menjadi partai yang baik, kadernya harus santun, sabar, konsisten dan memegang etika berpolitik.

Apabila opini negatif tersebut nanti sempat terbentuk, hal ini jelas akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat dan meurunkan citra SBY. Akan muncul stigma negatif  bahwa partai tersebut adalah partai "Rahwana" yang jahat dan perlu dimusuhi beramai-ramai. Oleh karena Partai Demokrat sebaiknya harus segera menentukan sikap, rumor yang berkembang jangan dibiarkan, karena jelas akan merugikannya. Perlu diingat bahwa rakyat sedang mencari pemimpin yang bisa mereka percaya, pemimpin yang arif, baik, kebapakan dan santun dalam memegang amanah. Semuanya itu telah melekat pada figur SBY.

Memang wajar sebagai parpol pemenang pemilu legislatif, Demokrat dan SBY akan menjadi madu yang didekati parpol dan tokoh-tokoh politik. Oportunisme di politik adalah hal yang biasa dan wajar dikerjakan oleh elitnya. Semuanya akan berusaha mendekat dan mencari peluang kecalon terkuat. Apabila ancaman terselubung terhadap SBY tidak segera dinetralisir, citranya akan terkikis, maka capres lainnya yang akan menangguk untung. Kini terserah kepada JK dan SBY, kemana akan melangkah.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/04/28/jk-tertekan-citra-sby-terancam/ (Dibaca: 4871 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.