Dari Rapimnas Demokrat, dan Arah Cawapres SBY

27 April 2009 | 8:37 am | Dilihat : 53

Berita politik yang paling menarik perhatian akhir-akhir ini adalah koalisi parpol untuk mengajukan pasangan capres-cawapres, serta penentuan siapa cawapresnya SBY dan Megawati. Walau JK juga sudah dicalonkan sebagai capres Partai Golkar, hingga kini belum ada gambaran kemana arah koalisi yang akan dibangun Golkar. Kubu SBY,  lebih jelas gambarannya, sementara ini akan kemungkinan akan didukung oleh PKB dan PKS, sementara PAN masih ribut. Mega sudah menyatakan bahwa Gerindra dan Hanura akan berkoalisi, walaupun belum diputuskan secara tertulis. Kubu JK termasuk yang paling tidak jelas, meskipun komunikasi politik telah dijalankan oleh JK, gambarannya belum bisa didapat.

Dalam penentuan koalisi, beberapa parpol telah menggelar pertemuan, rakernas atau rapimnas. Pada akhir pertemuan keputusan yang dihasilkan tentang koalisi dan cawapres sementara ini masih abu-abu. Yang agak mengherankan, rata-rata parpol menyerahkan keputusan penetapan cawapres kepada capresnya masing-masing. Semestinya parpol dalam rapim atau rakernaslah  yang memutuskan capres-cawapres. Ini menunjukkan bahwa parpol besar  masih didominasi oleh patronnya masing-masing, komando dan kendali parpol berada disatu tangan baik itu ketua umum atau ketua dewan pembinanya.

Partai Demokrat pada Minggu (26/4) telah menggelar Rapimnas selama satu hari di JI Expo PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat. Rakernas yang diikuti oleh 33 DPD, 471 DPC serta 7 DPLN berlangsung meriah. Dalam rapimnas tersebut menelurkan keputusan  mengusung SBY sebagai capres dan memberikan mandat kepadanya untuk menentukan cawapres. Dalam sambutannya SBY mengatakan apabila terpilih lagi akan memajukan dan mensejahterakan rakyat. SBY menyampaikan lima faktor keberhasilan Demokrat. Pertama adalah karena Rahmat Tuhan, kedua Demokrat mampu membuat perencanaan dan persiapan terbaik yang disebut sebagai 50% kemenangan. Ketiga pengkaderan rutin partai, disebut sebagai "quiet revolution", keempat kebersamaan dan kekompakan, kelima dukungan dari rakyat. Disamping kelima faktor tersebut, SBY juga menekankan faktor non fisik yaitu kesabaran, ketegaran dan konsistensi.

Selain itu, SBY menyatakan pada waktunya nanti akan melakukan penjajakan koalisi, dan mengumumkan cawapresnya. Ditekankan kepada kadernya untuk tetap rendah hati, sabar menghadapi kritik dan dinamika politik. Dalam merespons suatu masalah harus tepat, proporsional dan terukur. "Jangan terbawa emosi, sehingga kata-kata tidak terukur, dan tetap santun. Santun tidak berarti tidak tegas, tidak berarti lemah, tapi membawa keteduhan."

Kerangka koalisi yang akan dibangun bukan hanya memasangkan pasangan capres-cawapres, bukan juga bagi-bagi kursi kabinet. "Meski power sharing adalah bagian dari koalisi, tapi jangan kehilangan kejernihan berfikir, mana yang tujuan dan mana yang sarana" kata SBY. Upaya membagi kekuasaan adalah yang tidak disukai rakyat. Koalisi dibangun bukan karena kesamaan ideologi, platform dan arah kebijakan. Tetapi berdasarkan aturan main dan kontrak politik yang jelas. Khusus menanggapi masalah cawapres, SBY mengatakan menerima ribuan pesan pendek (sms) usulan cawapres dari masyarakat, jumlahnya kini mencapai 19 orang. "We have to choose one, tepat bukan secara pribadi tapi tepat menurut kriteria yang memenuhi harapan rakyat."

Dari arena rapimnas Partai Demokrat tersebut, dapat terlihat sebuah konsistensi dari SBY dalam mengelola partainya. Semua kader harus tetap berada disebuah "koridor" yang dikehendaki, bersatu, penuh kesabaran dan santun. Lima faktor keberhasilan Demokrat  adalah stategi utamanya, yang ternyata memang berhasil. Memang didalam sebuah pertarungan, kesabaran adalah modal kemenangan. Lawan yang tidak sabar dan emosional akan melakukan tindakan yang tidak realistis, akhirnya akan memunculkan kelemahan dan kerawanannya. Strategi utama dikendalikan dari pusat kekuasaan partai, mereka satu suara dan satu tindakan.Nampaknya SBY telah merancang pemerintahan mendatang berdasarkan pengalamannya yang lalu.

Koalisi yang dibangun akan dipertegas dengan kontrak politik yang tegas dan jelas. Power sharing bukan berarti hanya pembagian kursi dan kekuasaan, tetapi juga berkait dengan tugas dan kewajiban. Yang menarik dikatakannya tentang "tujuan dan sarana". Ini berarti bahwa koalisi dibangun dengan tujuan untuk membangun sebuah pemerintahan yang kuat, kedudukan parpol adalah sebagai sebuah sarana dalam  pencapaian tujuan. Disini nampak bahwa dalam menentukan cawapresnya, SBY akan berpegang kepada lima kriteria yang disyaratkan. SBY mensyaratkan bahwa cawapres harus memiliki kecakapan yang tinggi untuk mengkoordinasikan, mensinergikan pekerjaan para menteri dalam kabinet, segaris dengan kebijakan presiden.”Untuk itu dia harus memahami banyak masalah. Masalah energi, ekonomi, hukum, tata negara." Ini nampaknya lebih menegaskan lagi bahwa SBY akan mengambil cawapres yang berkelas, bukan hanya simbol politik. Negara ini akan dikelola secara lebih profesional, dengan pejabat yang menguasai bidang masing-masing.

Dengan demikian maka semua yang berada didalam lingkaran politik akan diposisikan sebagai sebuah sub sistem dari sistem utuh pengelolaan negara. Parpol didudukan sebagai sarana penunjang  sesuai dengan Undang-undang, pemerintahan yang terbentuk akan menjadi sub sistem eksekutif, parlemen juga difungsikan sebagai sub sistem legislatif. Sementara presiden adalah sebagai motor penggerak sistem secara keseluruhan dalam membawa negara dan bangsa ini meraih cita-citanya. Semua sub sistem akan diatur dengan UU, Peraturan ataupun Kontrak Politik yang jelas, dengan demikian sub-sub sistem akan menyatu sesuai fungsinya masing-masing.

Kini, yang masih tersisa, apakah konsep tersebut disetujui dan disepakati oleh beberapa parpol yang menyatakan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat?. Karena parpol berpendapat bahwa pembangunan koalisi adalah juga termasuk persetujuan penetapan capres-cawapres. Oleh karena itu bagi parpol yang akan berkoalisi dengan Partai Demokrat harus bersiap dan tidak kecewa apabila  SBY nanti  mengambil "teknokrat" sebagai pendampingnya. Calon teknokrat jelas akan lebih bisa diterima oleh masyarakat, tidak menimbulkan rasi iri diantara parpol. Dan jelas, teknokrat kalaupun itu yang dipilih SBY adalah seseorang yang mumpuni, hebat dan mempunyai banyak pengalaman di pemerintahan...chemistry-nya cocok dengan SBY bukan. Saya kira kita bisa mengira-ira kalau pemikiran ini nantinya benar ?

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/04/27/dari-rapimnas-demokrat-dan-arah-cawapres-sby/ (Dibaca: 1363 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.