Urutan Maret; PDIP, Demokrat, Golkar dan PKS

3 April 2009 | 10:08 am | Dilihat : 48

Lembaga Survei Puskaptis (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) merilis hasil survei yang dilaksanakan tanggal 16-23 Maret 2009 di 33 propinsi. Hasil survei menyebutkan PDIP mendapat 19,60%, Partai Demokrat didukung 19,18%, Partai Golkar 18,26%. urutan keempat diduduki PKS 8,78%, PPP 3,5%, Gerindra 2,46%, PAN 2,16%, PKB 1,67% dan Hanura 1,35%. Dalam survei tersebut, Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid mengatakan bahwa "swing voters" berada pada kisaran suara 22,5%.

Husin selanjutnya mengatakan bahwa secara perlahan tetapi pasti tingkat elektabilitas (keterpilihan)  Partai Gerindra terus menanjak, dan diperkirakan akan ikut bertengger di barisan partai papan tengah bersaing dengan PKS. Keberhasilan Gerindra menurut Yazid dikarenakan Gerindra didukung strategi dan manuver taktis serta iklan kampanye yang inovatif. Kemajuan Gerindra diantaranya dibuktikan dengan membludaknya massa Gerindra saat kampanye di Stadion Utama Gelora Bung Karno baru-baru ini. "Paling tidak Gerindra berpeluang merebut separuh dari massa swing voters" jelas Yazid.

Gerindra bisa menjadi ancaman bagi partai Islam, karena dari hasil analisa sementara Puskaptis, massa Gerindra juga banyak yang berasal dari partai Islam. Konstituen partai Islam meninggalkan "rumahnya" lantaran partai Islam saat ini dijangkiti virus akpol (asusila, korupsi dan poligami). "Isu poligami yang menjangkiti partai Islam dan korupsi menghancurkan peluang partai Islam. Apalagi saat ini dari PPP sudah ada kadernya yang masuk bui (Al Amin Nasution)," kata Yazid. "Inovasi dalam beriklan itu sangat menentukan posisi untuk merebut swing voters yang kebanyakan kaum muda, jika cara ini terus dilaksanakan maka bukan tidak mungkin Gerindra akan masuk dalam lima besar bersaing dengan PDIP dan Golkar" katanya.

Dari survei Puskaptis tersebut, untuk sementara terlihat bahwa PDIP kini mulai bertengger di posisi teratas dengan 19,6 %, dimana menurut persepsi publik posisinya berimbang dengan Partai Demokrat yang mendapat 19,18%. Partai Golkar berada diposisi ketiga dengan 18,26%. Dalam hitungan politik menjelang pilpres untuk data dengan mengabaikan swing voters maka apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar dan PPP mereka akan mendapat 41,36%, dan apabila Partai Demokrat berkoalisi dengan PKS saja akan mendapat 27,96%. Berarti dalam hitungan kasar ,maka kelima partai sudah berada di posisi aman dalam mendukung capresnya masing-masing.

Jadi bagaimana dengan capres lainnya? Untuk Prabowo, seperti yang disampaikanoleh Yazid, apabila konsisten dengan iklan dan manuver taktisnya diperkirakan akan mampu merebut setengah dari swing voters berarti suaranya akan naik sekitar 11%, maka perolehan suara Gerindra akan mencapai 13-14%. Berarti Gerindra akan bisa menjadi partai papan tengah yang mendekati partai papan atas. Untuk partai berasas Islam dalam survei tersebut terlihat suaranya merosot tajam, PPP hanya mendapat 3,5%, PKB yang melakukan "blunder" dengan menggusur Gus Dur dan pecahnya  paman keponakan tersebut bahkan diperkirakan tidak akan lolos parliamentary threshold yang 2,5% karena hanya akan mendapat 1,67%. Demikian juga dengan PAN yang pecah dengan PMB juga hanya mendapat 2,16%. Partai Islam yang mampu bertahan hanya PPP dan PKS. PPP adalah partai senior yang sudah lama, sedang PKS  sebagai partai yang berani dan mesin partainya yang terbaik. Sementara Partai Hanura menurut survei juga berat untuk lolos PT karena diperkirakan sementara ini hanya akan mendapat 1,35%. Jadi perjuangan memperebutkan swing voters adalah kunci kelau ingin lolos dari sergapan PT.

Kini yang menjadi pertanyaan. Bagi PDIP ataupun Golkar yang mengusung capres diperkirakan dalam kondisi "terpaksa" berkoalisi akan menjadi parpol aman, hanya bagaimana mengatur komposisi capres-cawapres. Bagi Partai Demokrat, walau kini ribut dengan PKS masalah tema kampanye, dengan berduet dengan PKS sudah akan menjadi parpol aman dalam mendukung capres (SBY). Dengan bargaining power yang kuat, PKS kelihatannya akan mampu memaksakan cawapres SBY dari PKS. Sebuah alternatif yang agak "musykil" tetapi bisa saja terjadi di politik, peta akan langsung berubah apabila Golkar kembali berkoalisi dengan Partai Demokrat. PDIP kemungkinan akan bergabung dengan Partai Gerindra dan PPP. Peluang Prabowo akan menjadi besar untuk maju baik sebagai capres ataupun cawapres, karena kalau Gerindra tidak masuk ke PDIP diperkirakan gabungan suara sebagai syarat pengajuan Prabowo sebagai capres tidak akan terpenuhi.

Demikian sementara ini perkembangan situasi, berdasarkan hasil survei Puskaptis. Pemilu hanya tersisa beberapa hari, upaya kampanye juga sudah hampir habis, yang tersisa hanyalah penayangan iklan di media massa. Upaya ini harus dimaksimalkan, karena swing voters sebesar 22,5% adalah pemilih mengambang yang berada diwilayah abu-abu, mereka akan mengambil keputusan pada "hari-H" saat berada dibilik suara. Walaupun demikian alam pikiran mereka masih saja tetap dapat dipengaruhi beberapa hari terakhir ini. Rumusnya hanya satu, mereka akan memilih parpol yang mereka yakini akan mampu mensejahterakan mereka, parpol yang berjuang untuk rakyat kecil, dan parpol yang mampu mengangkat Indonesia dari keterpurukan dan kesulitan yang silih berganti. Kita percaya, dan akan menyaksikan buktinya tidak lama lagi siapa parpol itu. Semoga!

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/04/03/urutan-maret-pdip-demokrat-golkar-dan-pks/ (Dibaca: 2090 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.