Posisi Golkar, PDIP dan Demokrat Menjelang Pemilu

25 February 2009 | 7:11 am | Dilihat : 61

Setelah Wapres Jusuf Kalla menyatakan kesediaannya untuk dicalonkan sebagai capres dari Partai Golkar, maka timbul bermacam-macam tafsiran tentang masa depan dunia perpolitikan di tanah air. Yang jelas manuver dari 33 DPD Tkt-1 Golkar  telah menyebabkan perubahan peta politik secara signifikan menjelang pemilu April mendatang.

Dari talk show di Metro TV tadi malam, terlihat Partai Demokrat  masih mengatakan  keputusan JK yang akan maju sebagai capres belumlah final, juru bicara PD Anas Ubaningrum mengatakan hubungan dan kerjasama yang baik antara SBY-JK adalah modal untuk dapat diteruskannya pasangan SBY-JK. Anas masih percaya setelah pemilu legislatif akan terjadi perubahan sikap dan keputusan JK tersebut. Kini, pertanyaannya apakah benar JK akan melakukan tindakan seperti itu?. Nah mari kita lihat perkembangan politik menjelang pemilu, yang akan mengangkat atau merontokkan parpol-parpol ditanah air.

Lembaga Riset Informasi merilis sebuah hasil survei yang dilaksanakan tanggal 8-16 Februari 2009. Pada survei tersebut Partai Golkar disebutkan menempati urutan pertama dengan 20,1%, Partai Demokrat diposisi kedua dengan 15,5%, PDIP ketiga dengan 15,3%. Selanjutnya PKS 11,6%, Gerindra 5,29%, PAN 5,13%, PPP 2,86%, PKB 2,33%, Hanura 1,96% dan PBB 0,9%. Hasil survei ini tidak jauh berbeda dengan angka yang disampaikan Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono, yang menyebutkan hasil survei internal Golkar pada Januari lalu Golkar mendapat 19,3%, Partai Demokrat 16,22% dan PDIP 14,28%.

Apabila dibandingkan dengan hasil rata-rata tiga lembaga survei yang melaksanakan survei pada bulan Desember 2008 lalu, maka telah terjadi pergeseran posisi yang telah merubah peta kekuatan parpol menurut persepsi publik. Hasil survei rata-rata dari tiga lembaga survei, Lembaga Survei Nasional, Lembaga Survei Indonesia dan Lembaga Survei LP3ES menyebutkan, Partai Demokrat 22,2%, PDIP 21,8%, Golkar 14,2%, Gerindra 5,5%, PKS 4,7%, PKB 4,3%, PAN 3,7%, PPP 2,9%, Hanura 2,6%.

Dari ketiga fakta diatas, terlihat telah terjadi pergeseran posisi tiga parpol sebagai calon partai papan atas, kini Golkar berada diposisi teratas dengan 20,1% mengalami kenaikan 5%, Partai Demokrat mengalami penurunan 6,7% (dari suvei Desember 2008-Februari 2009) menjadi 15,5%, PDIP juga mengalami penurunan 6,5% menjadi 15,3%. Sementara parpol yang mengalami kenaikan cukup signifikan adalah PKS yaitu 6,9% (lebih dari 100% pada periode Desember 2008-Februari 2009). Partai yang juga mengalami kenaikan adalah PAN sebesar 1,4% (dari 3,7% menjadi 5,13%). Sementara Partai Gerindra tetap stagnan pada kisaran diatas 5%. Partai berbasis Islam lainnya mengalami penurunan. PPP merosot dari 2,9% menjadi 2,8%, PKB merosot 2% dari 4,3% menjadi 2,33%, Hanura merosot 0,7% dari 2,6% menjadi 1,96%, terparah PBB hanya mendapat 0,9%.

Fakta-fakta tersebut diatas dipastikan akan menimbulkan perasaan senang dan tidak senang. Walaupun sebuah survei hanya meneliti dan menghasilkan sebuah persepsi publik, diharapkan para elit parpol  tidak menganggapnya ringan dan mensepelekan. Posisi sebuah parpol hanya bisa diukur oleh hasil survei yang paling dianggap "valid". Jangan terjerumus dengan gambaran hasil pilkada dan berita-berita semu yang justru akan merusak langkah dan taktis menjelang pemilu.

Kini, disukai ataupun tidak, hasil survei hingga Februari 2009 menggambarkan kemungkinan parpol yang akan lolos "parliamentary treshold" diperkirakan hanya berkisar sembilan hingga sepuluh saja. Posisi terkuat masih akan diduduki oleh Partai Golkar, Partai Demokrat dan PDIP. Posisi ketiganya masih fluktuatif, sebagai sesama partai nasionalis maka konstituennya jelas lebih banyak dibandingkan parpol berbasis Islam. PKS sebagai parpol berbasis Islam dengan modal "dakwah" terlihat berhasil mengefektifkan mesin parpol tanpa memainkan "patron". Upayanya dengan melakukan "door to door strategy" terlihat akan membuahkan hasil dibandingkan parpol Islam lainnya.

Sementara PAN walaupun mengalami perpecahan dengan PMB, dengan strategi iklan ketua umumnya terlihat masih mampu eksis. PPP terlihat merosot, perseteruan dua tokohnya jelas merugikan parpol tersebut. PKB diperkirakan akan mengalami kemerosotan setelah lepas dari "patron utamanya" Gus Dur, demikian juga PBB akan mengalami paceklik suara pada April mendatang. Partai Gerindra terlihat masih tetap stagnan dikisaran angka 5% walaupun gempuran iklan terus dilakukan. Hanura kelihatannya juga akan mengalami kesulitan dalam menuai suara dalam persaingan diwilayah basis pemilih nasional.

Jelas posisi parpol-parpol tersebut hingga pelaksanaan pemilu April belum tentu sama dengan gambaran diatas, pergeseran masih sangat dimungkinkan, karena masih tersedia waktu untuk memperbaiki dan mengangkat citra masing-masing. Tetapi yang jelas kini Partai Golkar akan lebih percaya diri dalam mengusung capresnya sendiri. Terlihat, kecil kemungkinan JK akan kembali bergabung dengan SBY. Harga diri "pendekar bugis" ini akan dijaganya, karena walau bagaimanapun JK adalah Ketua Umum Golkar yang sudah membuat pernyataan diantara pendukungnya.

Yang justru harus mewaspadai perkembangan situasi ini  adalah PDIP dan Demokrat, karena parpol menengah atau parpol yang diperkirakan akan berada dipapan tengah terlihat lebih cenderung suka berkoalisi ke Golkar. PKS kelihatannya akan menjadi "primadona", karena merupakan kunci koalisi yang akan diperebutkan oleh tiga partai utama tadi. Gerindra dan PAN juga akan termasuk parpol harapan dan akan diperebutkan. Maka kini Hidayat Nur Wahid, Prabowo dan Sutrisno Bahir kemungkinan sama-sama berpeluang kuat untuk dilamar menjadi cawapres. Yang terpenting dari semuanya adalah kecepatan gerak elit dalam membangun koalisi awal. Pembicaraan awal harus dilakukan kini, siapa terlambat akan merasakan akibat yang fatal. Maaf, ini hanyalah sebuah analisa "indie" seorang blogger tua. Semoga bermanfaat.

PRAYITNO RAMELAN. Guest blogger Kompasiana

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/02/25/posisi-golkar-pdip-dan-demokrat-menjelang-pemilu/ (Dibaca: 810 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.