Akhirnya, Pendekar Bugis Itu Siap Bertarung

21 February 2009 | 7:40 am | Dilihat : 102

Sebuah getaran gempa politik yang cukup keras terasa oleh bangsa Indonesia, pada Jumat (20/2) kemarin, dimana seusai salat Jumat Ketua Umum Golkar yang juga masih menjabat sebagai wakil presiden Jusuf Kalla menyatakan siap maju sebagai calon presiden (capres) dari Partai Golkar untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. ”Bagi saya,semua,apa pun,yang dilakukan, (asal) terbaik untuk bangsa ini, sejak awal saya siap untuk apa saja. Pertanyaan mereka (DPD I) kalau Bapak diajukan (capres), Bapak keberatan atau tidak? Saya bilang bagaimana saya bisa keberatan sama Anda. Saya tidak bisa keberatan kepada DPD I karena itu adalah suatu amanat,” ungkap Kalla.

Dalam hubungannya dengan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam kapasitasnya sebagai Wapres, JK menyatakan akan tetap menjamin tetap berjalan, hingga berakhirnya masa jabatan yang diembannya. ”Sampai dengan 2009, itu SBY-JK diangkat oleh rakyat, oleh partai. Itu terpisah, itu tetap jalan. Tidak boleh (pecah kongsi). Bagaimana mau pecah kongsi,orang rakyat yang mengangkat,”ujarnya.

Terkait dengan kemarahan kader partai Golkar atas pertanyaan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok, JK mengatakan bahwa masalah tersebut sensitif bagi DPD Golkar. "Mungkin ada masalah-masalah harga diri, lebih kepada sikap keras daripada DPD bahwa kita ini sebagai partai harus mempunyai sikap jelas untuk masa datang, supaya jangan kita selalu dianggap remeh oleh orang lain.” Saat ini DPP Partai Golkar tengah membuka penjaringan capres hingga awal Maret 2009. Hasil penjaringan itu baru akan dibahas pada rapat pimpinan khusus (rapimsus) yang digelar April. ”Seperti saya katakan, diputuskan secara formalnya April. Ya karena belum ada nama-nama masuk, saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Nama-namanya baru akan masuk pada awal Maret ini,”tutur Kalla.

Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono menyatakan keputusan JK diluar dugaannya, DPP siap mendukung dan memformalkan keputusan tersebut. ”Tinggal kita formalkan, hanya saja pengambilan keputusannya tetap di rapimnas khusus,” kata Agung di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Agung menegaskan bahwa penjaringan capres tetap akan dilakukan.

Keputusan Jusuf Kalla ditanggapi beragam oleh elit Partai Demokrat, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan  partainya tidak akan terpengaruh oleh pilihan politik Golkar yang siap mengusung capres sendiri dan optimis bahwa keputusan tersebut belum final. Dan tidak khawatir, dikatakannya pilpres partai-partai baru akan mengambil keputusan atau pilihan definitif setelah pemilu legislatif.

Gempa politik tersebut diatas adalah sebuah dinamika poltik yang berjalan demikian cepat dan harus dicermati parpol besar ditanah air. Peta politik sejak Jumat kemarin telah berubah secara signifikan, menjurus kearah kepastian terbentuknya tiga kekuatan utama yang akan maju sebagai capres. Umum disebut sebagai blok M, Blok S dan kini Blok J. Kepastian JK tersebut adalah langkah politik paling brilyan dari JK dan Golkar. Setelah  kadernya merasa tersakiti dan terlecehkan oleh Demokrat, kini terbentuk sebuah arus kuat kader Golkar yang terasa didukung banyak pihak. Langkah "blunder" Mubarok tidak disadari menimbulkan sebuah kekuatan alternatif capres pesaing  yang berbahaya,  sekaligus tebaca oleh SBY akan hilangnya dukungan politis yang sangat kuat bagi dirinya. Oleh karena itu setelah muncul kemelut Golkar-Demokrat, SBY berusaha mendinginkan dan mengambil alih tanggung jawab masalah. Kini, kekhawatiran SBY terbukti, pecah kongsi sudah terjadi, karena JK sendiripun yang agak terusik marah, akhirnya setuju dengan aspirasi dan kesepakatan 33 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I tersebut.

Bagaimana peta politik kedepan?. Apabila skenario tiga capres yang akan maju, maka posisi SBY kelihatannya akan menjadi yang paling  terjepit. Perolehan suara Demokrat yang berada pada posisi papan tengah pada pemilu 2004, meraih suara 7,45% kemungkinan memang akan naik, tetapi dapatkah mencapai 20-25% ?. Apabila suara yang diraihnya dibawah 15%, maka SBY kembali harus membentuk koalisi pelangi dengan beberapa partai tengah dan kecil, agar dapat maju sebagai capres. Dilain sisi, kalaupun SBY kembali menang,  dia harus siap menghadapi koalisi oposisi PDIP dan kemungkinan akan ditambah Golkar yang kini kadernya sangat "tidak bahagia" dengan Partai Demokrat. Kemungkinan lainnya, Golkar "bisa"  memasang Sri Sultan sebagai cawapres Megawati, apabila pilpres menjadi dua putaran, dan  SBY menang pada putaran pertama, dia tetap akan menghadapi kubu PDIP-Golkar. Dalam posisi ini maka skenario manapun yang akan diambil, maka Golkar yang paling diuntungkan.

Nah, kini terjawab sudah "bangkitnya Partai Golkar" sebagai partai yang kuat selama 42 tahun, yang selama ini mengalami degradasi rasa percaya diri. Keputusan yang diambil adalah sebuah ketegasan di antara banyak keraguan. Kemungkinan besar Golkar berkesempatan kembali akan meraih suara yang cukup besar dalam menuju kearah meraih kekuasaan. Kegamangan sudah dihilangkan oleh "pendekar Bugis" itu yang menyatakan siap untuk bertarung. Walau hasil survei menyebutkan elektabilitasnya sebagai capres hanya 5%, keputusan dan ketegasannya jelas akan menaikkan peringkatnya dalam waktu yang tersisa. Kader realis Demokrat terlihat masih berharap bahwa Jk akan kembali kesisi SBY setelah pemilu April nanti, walaupun peluang ini sangat kecil.

Seperti diketahui bahwa tujuan partai adalah meraih kekuasaan agar dapat menentukan arah haluan bangsa dan negara dalam mencapai cita-citanya. Persaingan menjadi akan semakin ketat, perkembangan politik menunjukkan bahwa memang seperti kata SBY saat rapimnas Partai Demokrat, dalam berpolitik kadernya agar "santun". Kini terbukti  sebuah arogansi dan kurang matangnya dalam berpolitik akan mempersulit diri sendiri, seperti  pepatah mengatakan "karena nila setitik, akan rusak susu sebelanga". Akankah demikian?. Masih cukup waktu untuk kembali berbenah diri dan memperbaiki citra dan popularitas. Yang jelas Partai Demokrat harus mulai menghitung ulang kemungkinan parpol yang akan diajak berkoalisi, peluangnya hanya ada di PKS, PAN,PPP dan Gerindra. Kelambanan dalam bertindak akan berakibat "tersedotnya" parpol harapan kekubu Golkar. Ini posisi bahaya yang harus dihitung dengan cermat.

Kini, yang perlu diingat, rakyat akan memilih parpol dan pemimpinnya yang bisa dipercaya, dinilai baik, bertanggung jawab dan santun. Rakyat sudah lelah dan bosan dengan kebohongan, kesombongan dan ketidak jujuran. Demikian bukan?.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/02/21/akhirnya-pendekar-bugis-itu-siap-bertarung/ (Dibaca: 975 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.