PKB Yang Dulu Hebat, Kini…?

19 December 2008 | 8:23 am | Dilihat : 400

Pada artikel terdahulu telah dibahas bahwa sejak pemilu tahun 1955 hingga pemilu 2004 belum sekalipun ada partai yang berbasis Islam mampu mengalahkan perolehan suaranya dari partai nasionalis. Salah satu kelemahan partai Islam diantaranya karena sistem pengelolaan partai dilakukan secara tradisional, upayanya lebih terfokus dalam menarik konstituen tradisional yang beragama Islam.

Apabila diperhatikan, sebenarnya PKB sebagai partai Islam pada pemilu 1999 pernah berhasil  membuktikan bahwa manajemen parpol secara modern, dikaitkan dengan "patron" akan mampu menarik konstituen. PKB  dibawa bergeser ketengah dengan pintar dan demokratis. Upaya dan keberhasilan PKB pada dua pemilu yang lalu menjadi sebuah fenomena yang kiranya perlu dijadikan sebuah pelajaran bagi partai Islam lainnya, dan dicontoh  untuk kemajuan masing-masing.

PKB dideklarasikan pada tanggal 23 Juli 1998 dihalaman depan kediaman KH Abdurrahman Wahid dihadapan ribuan warga NU, disaksikan perwakilan partai dan juga dihadiri dua mantan petinggi ABRI Jenderal Try Sutrisno dan Jenderal Edy Sudradjat (Alm). Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU menetapkan KH Ma'ruf Amin sebagai Ketua Dewan Syura dan H Matori Abdul Djalil (alm) sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz, sebagai Sekjen diangkat Drs Muhaimin Iskandar.

Nama PKB sesungguhnya sudah digunakan oleh leluhur NU pada tahun 1916 saat mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa). Kebangkitan adalah terjemahan dari kata "nahdlah" yang digunakan NU (Nahdlatul Ulama), kata "Bangsa" dipilih dengan pemikiran strategis, dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia yang terdiri dari dari beragam agama, suku dan golongan, diharapkan  bersatu dalam payung atas nama bangsa Indonesia.

Dibawah kepemimpinan Pak Matori, PKB dikelola secara modern, para pengurus mendapat pesan khusus Matori agar menjauhkan PKB dari kesan "terbelakang". PKB bekerja sama dengan Matari Advertising, menggarap logo, stempel, kop surat, kartu nama dan atribut PKB yang diformat dengan sentuhan artistik, semuanya disesuaikan dan diseragamkan. Logo PKB dibedah, disesuaikan lebih cantik serta berfilosofi dengan memberi 9 goresan. Angka 9 sudah melekat dikalangan NU, mulai bintang sembilan, wali sembilan, panutan Nabi Muhammad, 4 khalifah dan 4 madzhab juga berjumlah sembilan.

Dibawahnya logo ditambah slogan "Maju Tak Gentar, Membela Yang Benar", dengan dasar pemikiran dan harapan PKB akan menjadi pilihan semua orang. Matori menciptakan yel-yel dengan isyarat jari jempol dan telunjuk diacungkan keatas. Jika isyarat sudah diacungkan dan diucapkan, "PKB Membela yang Benar", maka massa akan menjawab,"Benr,Benar,Benar...!". Yel-yel dan slogan itu sempat menjadi "tagline" di mana-mana. Dalam kampanye pemilu 1999, iklan di TV yang menampilkan Matori dan Gus Dur, menjadi iklan favorit. Matori mampu mempopulerkan "Maju Tak Gentar,Membela Yang Benar"  identik dengan PKB.

Nah, hal-hal diatas tidak pernah dipikirkan oleh politisi biasa saat itu,  semua sentuhan modern dilakukan Matori dan Matari. Hajatan pertama di Senayan, dahsyat, diisi sambutan Gus Dur yang karena sakit tidak dapat hadir, ditampilkan melalui rekaman video  "Meski saya tidak bisa melihat, namun saya dapat mendengar bangsa Indonesia sedang bernyanyi...., mari kita bangkit dan maju tak gentar membela yang benar bersama PKB!" demikian sambutan Gus Dur yang disambut tangis dan teriakan haru membahana dari seluruh yang hadir. Peresmian atribut PKB divisualisasikan secara dramatik, dan berhasil membangkitkan kepercayaan diri serta kebanggaan pada PKB.

Demikian juga saat peresmian DPW dan pelantikan 28.855 pengurus cabang, ranting seluruh Jawa Timur, acara dihadiri ratusan ribu simpatisan, dimeriahkan berbagai atraksi kesenian, termasuk kesenian "Cina", barongsai, liong yang sebelumnya ditabukan. Penyebaran PKB kedaerah-daerah  dan wilayah sangat cepat, selain dikelola secara profesional, juga didukung infrastuktur NU yang sudah mapan diseluruh Indonesia.

Dari semua jerih payah Matori dan pengurus, maka pada pemilu 7 Juli 1999 yang diikuti oleh 48 Partai politik, hanya 21 yang lolos ke Senayan, PKB menduduki "tiga besar". PDIP meraih 35.689.73 suara (33,74%), Golkar 23.741.758 (22,44%) dan PKB diurutan ketiga memperolah 13.336.982 (12,61%). Sementara PPP sebagai partai lama mendapat 10,71% (kehilangan 31 kursi dibanding pemilu 1997) dan PAN mendapat 7,12%.

Pada pemilu 2004, PKB masih berada diposisi ketiga perolehan suara nasional terbanyak. Dengan urutan  Golkar posisi pertama (21,58%), PDIP (18,53%),  PKB (10,57%), PPP (8,15%), Partai Demokrat (7,45%), PKS (7,34%), PAN (6,44%).

Sebagai parpol yang baru saja terjun pada pemilu 1999, keberhasilan PKB disebabkan karena tiga hal, PKB dibentuk oleh PBNU yang mempunyai massa "nahdliyin" yang jelas di bawah "network" pesantren-pesantren NU. PKB dikelola secara profesional dan modern oleh Ketua Dewan Tanfidz "Matori Abdul Djalil' (Alm), PKB memiliki tokoh sentral "Gus Dur" yang dikalangan nahdliyin kedudukannya sangat dihormati.  Dikalangan nahdliyin berkembang mitos bahwa ditanah Jawa terdapat dua keturunan "darah biru", yaitu darah biru keturunan raja Jawa dan  darah biru Islam keturunan KH Hasyim Asy'ari sebagai pendiri NU.

Para keturunan KH Hasyim Asy'ari disebut sebagai kiai "Nasab", umumnya dipanggil dengan gelar "Gus" (Gus Dur, Gus Coi, Gus Sholah, Gus Ipul dan lainnya). Selain kiai nasab dikalangan NU juga terdapat kiai karier yaitu orang biasa yang belajar dan memperdalam ilmu ke Islaman hingga mendapat gelar kiai, diantaranya adalah KH Hasyim Muzadi. Sebagai kiai nasab Gus Dur sangatlah dihormati, bahkan diperlakukan bak seorang raja di antara nahdliyin. Oleh karena itu maka begitu PKB diterjunkan pada pemilu 1999, langsung menyedot nahdliyin, dan PKB langsung berada di posisi "tiga besar".

Sejak pemilu 1999-2004 seperti biasa, terjadi konflik berat, Matori dipecat oleh Gus Dur karena langkah politiknya, Alwi Shihab melanjutkan kepemimpinan di PKB, dan dengan sisa kharisma Gus Dur  PKB masih berada di posisi tiga besar, tapi perolehan suaranya merosot dari 12,61% menjadi 10,57%. Konflik terus berlanjut, Alwi Shihab juga dipecat, Muhaimin Iskandar (keponakan Gus Dur) menggantikan Alwi. Kasus terparah Cak Imin juga dipecat, dan bersama Lukman Edy melakukan perlawanan hukum, hingga akhirnya Cak Imin disyahkan oleh pemerintah dan KPU sebagai pimpinan PKB yang sah.

Diakui ataupun tidak secara langsung massa PKB mulai jenuh dengan konflik yang tak kunjung usai. Kemerosotan PKB terlihat dari Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur, calon gubernur yang diusung  PKB hanya menduduki posisi bawah, PKB menjadi "lumpuh" di sarangnya sendiri. Kini masih beruntung dua kandidat cagub/cawagub  Jatim yang bertarung masih berbau kaum Nahdlatul Ulama.

Nah, dari perjalanan suramnya, masih mampukah  PKB kembali duduk sebagai tiga besar pada pemilu 2009?. Ini pertanyaan yang menggelitik. Konflik  masih berlanjut, bingungnya  nahdliyin, turunnya kharisma kepemimpinan, hilangnya "patron", politik bumi hangus Gus Dur yang menyerukan golput, bergesernya Gus Dur ke posisi parpol lain, pendirian Ormas GATARA oleh Gusdur pada 3 Desember 2008. Semua itu seharusnya disadari oleh elit PKB, untuk segera melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Konstituen pemilu masa kini terlepas dari asas apapun sudah lebih memahami kondisi politik dimana dia akan menyalurkan haknya. Perubahan pola komunikasi yang mengutamakan media massa sebagai sarana harus disikapi dengan cerdik. Kalau tidak, PKB hanya akan mendapat suara tradisional dari kaum nahdliyin yang dikontrol kiai. Walau secara hukum sang raja "Gus Dur" sudah dibuat tidak berdaya, tapi pengikut fanatisnya masih cukup besar, inilah tantangan berat yang harus diatasi oleh Muhaimin Iskandar.

Sangat disayangkan, sebenarnya PKB sebagai partai yang pernah menjadi juara dua kali pemilu dikalangan partai Islam kini terlihat kurang meyakinkan, elitnya  kurang mampu mengatasi "manajemen konflik" Gus Dur sebagai pemain utamanya. Maka massa PKB sebagai "ikan-ikan" gemuk akan dituai oleh PPP, PKNU dan partai Islam lainnya. Mari kita lihat bagaimana kemampuan Cak Imin dan Lukman Edy menjaga ini semua. Mampukan dalam sisa waktu tiga bulan meniru gurunya Pak Matori? Selamat berjuang, ingat slogan keramatnya : "PKB Membela Yang Benar"...Benar,Benar,Benar...tapi maaf nggih, benar ingkang pundi???. Teriring salam hormat penulis untuk  Mbah Dim (KH Dimyati Rais, Kaliwungu).

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2008/12/19/pkb-yang-dulu-hebat-kini/ (Dibaca: 1056 kali)

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.