Din Poros Tengah, Tifatul Poros Umat

18 December 2008 | 1:19 pm | Dilihat : 125

Berita yang cukup ramai akhir-akhir ini  adalah "pelemparan" gagasan dari Din Syamsuddin Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah tentang dibangunnya kembali aliansi politik poros tengah jilid II dalam menghadapi pilpres 2009. Gagasan tersebut langsung mendapat reaksi, khususnya dari parpol berasas Islam. Beberapa pihak ada yang mengatakan bahwa apabila gagasan terbentuk akan menimbulkan gesekan dan dikotomi antara partai Islam dan nasionalis. Tahun 1999, Amien Rais   berhasil membentuk aliansi politik poros tengah dan berhasil membendung Megawati menjadi presiden, kemudian menjadikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden RI keempat.

Din Syamsuddin menyampaikan bahwa pembentukan poros tengah diperlukan karena perolehan suara partrai Islam pada pemilu sebelumnya terus mengalami penurunan suara. Kata Din, di era reformasi, pencabangan dan fragmentasi sudah terjadi. kemunculan berbagai parpol baik berasas Islam maupun nasionalis merupakan bukti fragmentasi tersebut. Parpol-parpol PAN, PMB, PPP, PKB, PBB, PKNU, PNUI dan PKS tidak terpecah belah. Din ingin melihat partai Islam menampilkan "ukhuwah Islamiyah" atau "persaudaraan sesama muslim" agar juga tercipta di pentas politik.

Atas gagasan tersebut, muncul tanggapan, PPP menyambut baik, Sekjen PPP  Irgan Chairul Mahfiz mengatakan "sebagai wacana menarik disaat kita mengalami kebuntuan politik". Ketua PBB Yusron Ihza Mahendra juga mendukung gagasan tersebut, agar partai-partai Islam dirapatkan untuk menguatkan barisan. Selain ada yang mendukung ada juga yang menolak, Partai Bintang Reformasi menyatakan tidak tertarik, dikatakan oleh Ketua Umum PBR Bursah Zarnubi bahwa koalisi ala Din Syamsuddin ini hanya koalisi simbolis.

PKS menyatakan menolak, Presiden PKS Tifatul Sembiring menyatakan poros tengah percuma dan tidak penting, karena tidak jelas untuk apa. Kalau dulu jelas ada kebutuhan politiknya dan menurutnya partai berbasis Islam sulit dipersatukan, karena masing-masing mempunyai aliran yang berlainan. Tifatul justru menyarankan pembentukan "Poros Umat", yaitu mempersatukan seluruh elit elemen Islam di Indonesia, termasuk dari Partai Nasionalis. Ini diharapkan akan dapat membela kepentingan seluruh umat Islam.

Gus Dur, sebagai mantan presiden yang dihasilkan oleh poros tengah tahun 1999, juga menyatakan tidak setuju dengan gagasan tersebut, bahkan ungkapannya cukup keras "Tengah, tengah apa? Tengah Hutan?Enggak usah koalisi, emang sudah koalisi, yang penting bekerja untuk menghilangkan kemiskinan". Selanjutnya  Gus Dur juga menyatakan bahwa tokoh-tokoh Islam yaitu Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi (ketua PBNU) dan Hidayat Nur Wahid punya kepentingan politik karena ingin jadi cawapres.

Dari beberapa hasil survei, terlihat bahwa sejak dahulu perolehan suara partai berbasis Islam selalu kalah melawan partai nasionalis. Partai yang di persepsikan sebagai partai Islam, adalah seperti yang disebutkan pada survei Lembaga Indo Barometer, melakukan survei pada bulan Juni 2008, PPP (40,8%), PKB (35,9%), PKS (34,1%), PAN (23,6%), PBB (8,2%). Walau PPP yang merupakan partai dengan citra partai Islam terkuat, ternyata PPP bukanlah partai islam dengan dukungan terbesar.

Survei Indo Barometer juga menyebutkan bahwa terdapat gap yang cukup besar antara partai nasionalis dengan partai Islam sejak pemilu 1955, 1999, 2004. Pada tahun 1955 kekalahan partai Islam dari nasionalis 8%, pada 1999 kekalahan 25,5%, pada 2005 sebesar 21,4%. Pada 1955 partai Islam yang dominan Masyumi mencapai 20,9%, pada 1999 PKB mendapat 12% dan pada pemilu 2004 partai Islam yang memperoleh suara tertinggi kembali diraih PKB dengan10%. Menurut peneliti LIPI Syamsudin Haris, fenomena kekalahan parai Islam dari nasionalis karena kecenderungan masyarakat Indonesia yang melakukan pendekatan-pendekatan pragmatis dalam memilih parpol, bukan pendekatan ideologis. Pendapatan suara partai-partai Islam dari tahun ketahun sulit meningkat, karena antara partai Islam  saling berebut segmen yang sama.

Menurut Direktur Indo Barometer M Qodari, yang lebih mungkin mengadakan poros tengah adalah PKS, karena memiliki suara signifikan dan mempunyai tokoh yang layak seperti Hidayat Nur Wahid. Dikatakannya munculnya poros tengah jilid II hanya dipicu adanya ego masing-masing partai Islam.

Dengan demikian kelihatannya gagasan "poros tengah jilid II" akan banyak menghadapi hambatan, karena kini tidak adanya   motivasi yang sangat kuat untuk terbentuknya poros tersebut. Masing-masing parpol Islam kelihatannya masih di sibukkan dengan beratnya tantangan dan perkembangan perilaku konstituen yang lebih mengemukakan  cara  berfikir yang rasional daripada perintah agama. Disamping itu juga kondisi krisis yang terjadi sedikit banyak besar pengaruhnya bagi parpol-parpol tersebut dalam berkampanye.

Mungkin "gaya" langkah PKS yang menggerilya kubu konstituen nasionalis akan jauh lebih menghasilkan penambahan suara daripada energinya disalurkan dalam  suatu aliansi poros yang belum pasti. Toh, akhirnya nanti partai-partai menengah dan kecil bisa dipastikan akan berkoalisi dengan partai papan atas. Dikotomi Islam-Nasionalis akan terkalahkan oleh kebutuhan akan kekuasaan, inilah realitas politik. Kira-kira begitu bukan?.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2008/12/18/din-poros-tengah-tifatul-poros-umat/ (Dibaca: 693 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.