Hobi Membaca SBY Dan Kompasiana

29 November 2008 | 1:59 am | Dilihat : 438

Mungkin jarang yang mengetahui bahwa Presiden SBY adalah keturunan seorang pujangga. Menurut sang isteri, eyangnya Pak SBY itu seorang pujangga zaman dahulu yang sering membuat puisi dalam bahasa Jawa. Eyangnya mewasiatkan ketika akan meninggal, agar puisi-puisi ciptaannya itu dibacakan.

Kini kita menjadi tahu kenapa presiden kita ini sering membuat puisi-puisi, puisi dibuat untuk mencurahkan isi hatinya. Kegemaran yang diturunkan dari eyangnya ini sering dilakukannya sejak dia menjabat sebagai Komandan Korem di Yogyakarta, selain membuat puisi, SBY juga mempunyai kegemaran membaca.

Beberapa saat lalu ditengah kesibukan menghadiri sidang Konferensi Tingkat Tinggi APEC, Presiden SBY selalu menyempatkan membaca buku. Saat konferensi pers di Lima Peru mengatakan kepada para wartawan "Saya pilih buku -buku yang relevan dengan persoalan yang dihadapi bangsa kita" .

Buku-buku yang dianjurkan dibaca terutama dari Cina, seperti Five Thousand Years of China History, yang membahas jatuh bangunnya China. Yang lainnya China Civilisation yang membahas masalah peradaban, Can China Feed Itself yang membahas tentang pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduknya. SBY ternyata memilih buku untuk dibaca terutama yang bisa memberikan kepadanya inspirasi. Buku dibaca untuk jadi bagian policy development, bagian dari program dan aksi-aksi yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Selama kunjungan tersebut SBY juga menyelesaikan membaca buku Globalization and it's karya E. Stiglitz, The End of Poverty, The Common Wealth , Economics for a Crowded Planet (Jeffry D. Sachs), Hard, Flat and Crowded (Thomas L.Friedman) serta The World is Flat.

Kepada para wartawan yang mengikuti rombongan, Presiden SBY menganjurkan untuk membaca buku-buku yang telah disebutkannya. Dikatakannya " Bacalah buku-buku yang betul-betul bisa mengubah cara pandang kita tentang dunia, tentang bangsa kita, tentang masa depan kita".

Dalam keadaan sulit  dan tertekan, untuk meringankan beban pikiran dan perasaannya, ternyata SBY mempunyai buku favorit seperti yang disampaikan isterinya Ani Bambang Yudhoyono saat diwawancarai Harian Rakyat Merdeka. Bapak membaca buku yang sangat bagus sekali dengan judul "La Tahzan" (jangan bersedih), kalau membaca buku ini hati kita menjadi dingin jelas sang isteri.

Sebagai seorang pimpinan nasional Presiden SBY sangat menganjurkan wartawan untuk membaca, ini artinya juga sebuah imbauan kepada masyarakat bahwa dengan membaca maka pengetahuan seseorang akan bertambah luas, termasuk cakrawala pandangnya. Sebuah imbauan dalam rangka mencerdaskan bangsa.

Kompasiana yang merupakan journalis blog  bertujuan untuk menjadi tempat berkumpulnya para journalis Kompas, para blogger, para penulis independen, dalam rangka saling membagi ilmu, berdiskusi tentang hal-hal yang bermanfaat bagi para blogger maupun para pembaca yang bukan blogger.  Kegiatan di Kompasiana adalah kegiatan tulis menulis dan membaca. Artinya secara tidak disadari apa yang di imbaukan  oleh Presiden SBY kepada wartawan secara langsung sudah di laksanakan oleh Kompasiana.

Inilah kehebatan para pencetus dan pendiri Kompasiana dari Kompas Group. Kini terlihat bahwa selain para wartawan dan keluarga besar group Kompas, para "public blogger" mulai aktif mengisi halaman di Kompasiana, maka semakin beragamlah ilmu dan pengetahuan yang disampaikan pada indie media yang cantik ini.

Sangat  kita harapkan para penulis handal ataupun para pejabat kiranya juga berkenan untuk menurunkan tulisannya di tempat yang baik ini. Setinggi apapun ilmu kita, tanpa kita rajin membaca maka kita akan tertinggal satu masalah yang penting didalam hidup ini, Informasi. Mari rekan-rekan blogger serta pembaca setia Kompasiana, kita jaga, kita rawat blog yang unik ini dengan santun dan jujur. Bravo Kompasiana. PRAY.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2008/11/29/hobi-membaca-sby-dan-kompasiana/ (Dibaca: 650 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.